Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juni 2020

Akademikku Usahaku

Halo para pembaca yang budiman, teman-teman sekalian dimana pun kalian berada. Aku doain supaya kalian semua sehat semuanya.
Aku nggak ngerasa kalo ternyata aku udah lama banget ninggalin blog ini karena kesibukanku di berbagai organisasi serta beberapa lomba yang aku ikuti untuk menjaga fokus dan tentunya kuliah dong walaupun #dirumahaja.
Kali ini aku akan sedikit berbagi pendapat berhubungan dengan yang lagi buming-bumingnya dikampusku yaitu keluarnya hasil belajar dalam ranah kognitif. Btw, kalian juga udah keluar belum hasil belajar selama satu semesternya? Kalo belum aku doain semoga nilainya memuaskan dan sesuai dengan jerih payah kalian yaaa.
Langsung saja kita bahasssss….

Akademikku  Usahaku

Sebelum kita membahas lebih jauh nih, aku mau tanya dulu kepada para pembaca. Kalian pernah nggak sih banding-bandingin usaha kalian sama nilai orang lain. Padahal kalian belajarnya bareng tapi kok hasilnya beda?

Jujur aja ya, cukup kalian jawab dalam hati masing-masing. Kalau aku pribadi sih pernah sebelum aku mengerti artinya usaha. Kok bisa? Tentu saja. 
Secara garis besar, hampir lebih dari 70% anak akan melakukan hal tersebut, membandingkan nilainya dengan nilai orang lain terutama orang yang lebih pintar. Ketika ia mengetahui nilainya lebih buruk dari orang lain, maka ia akan bertanya-tanya mengapa hal tersebut bisa terjadi, lalu bagi anak yang nilainya lebih dari orang lain maka ia juga akan melakukan hal yang sama, mengapa hal tersebut bisa terjadi. Namun dari kedua hal tersebut, yang membedakan adalah sikap dalam menanggapinya.
 
Disini aku bakalan ngebahas melalui dua sudut pandang karena aku ingin bersikap netral, yaitu sebagai orang bodoh dan sebagai orang pintar dalam hal akademik. Akan tetapi, perlu aku ingatkan bahwa ini hanya pendapatku semata yang mana masih ada pendapat-pendapat lain diluar sana yang memiliki kenyataan berbeda dari yang aku sampaikan disini.
1. I AM STUPID
Pada sebuah ujian semester aku dan temanku yang lebih pintar dari ku belajar bersama selama 8 jam. Kami berdua mempelajari hal yang sama bahkan sesekali aku bertanya kepadanya. Setelah belajar kami kembali ke rumah masing-masing untuk menyiapkan ujian pada esok hari. Kemudian aku bertanya kepadanya, apakah dia belajar lagi atau tidak. Kemudian ia menjawab tidak karena menurutnya sudah cukup belajar selama 8 jam tersebut dan aku sependapat dengannya.

Setelah ujian dilaksanakan dan hasilnya dibagikan, ternyata nilaiku sangat jauh darinya, sedangkan kami sama-sama belajar dengan waktu yang sama pula bahkan kami belajar bersama. Kemudian aku bertanya kepadanya, mengapa ia bisa lebih tinggi dariku, bukankah ia yang mengajariku kemarin. Lalu ia hanya menjawab dengan acuh bahwa itu hanya beruntung. Aku pun kecewa dengan diriku mengapa aku tidak bisa seberuntung ia. Namun, apa boleh buat. Sesuatu yang sudah terjadi tidak akan dapat diulang kembali. Aku hanya dapat mensyukuri hasilku tersebut.

Berdasarakn cerita diatas, ada beberapa pesan yang dapat kita ambil dimana kita tidak bisa mengikuti orang lain, kita adalah diri kita dengan kemampuan kita. Tidak ada kata keberuntungan semata jika usaha kita telah menjawab lebih dahulu pertanyaan kita. Jangan kecewa dengan apa yang kita peroleh saat itu, karena itu adalah pelajaran bagi diri kita sendiri agar berusaha lebih baik lagi dari yang telah kita lakukan sekarang.

Jika kalian pernah merasakan hal tersebut, tenanglah. Aku juga pernah mengalami hal tersebut dan tentunya seperti yang dikatakan oleh pepatah bahwa penyesalan datang di akhir namun penyesalan datang bukan untuk disesali berlarut-larut namun untuk dipelajari sebagai bahan evaluasi diri.

2. I AM SMART
Cerita yang sama dengan yang sebelumnya, namun aku sebagai orang yang nilainya lebih tinggi dari orang lain. Aku memang merasa itu sebagai keberuntungan dan merasa biasa-biasa saja ketika temanku tu terlalu terlihat bahagia dengan nilai yang ia punya. Menurutku itu bukan hal yang perlu dibanggakan karena masih belum mencapai nilai sempurna, seharusnya ia tidak perlu sebahagia itu. Oleh sebab itu, ketika orang lain bertanya tentang pendapatku, maka aku akan menjawab keberuntungan walau aku masih tidak puas dengan nilai tersebut. Atau bahkan aku merasa kecewa juga karena mereka belum mendapatkan nilai yang sesuai dengan keinginanku.
Berdasarkan cerita tersebut, apa yang kita dapatkan? Mungkin akan ada yang berpikir, kok songong ya? kok nyebelin ya? bahkan mungkin ada yang akan mengumpatinya. Apak kalian menemukan perbedaan dengan cerita sebelumnya sebagai orang bodoh. 

Aku berpikir kalian pasti bisa menyimpulkan cerita di atas sebagai orang pintar.

Di sudut dunia mana pun, akan ada yang namanya pro dan kontra baik itu sebagai orang bodoh maupun orang baik. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari bersama jika kita menggunakan beberapa sudut pandang.
Bagi orang bodoh, siapa sih yang tidak ingin menjadi pintar, tanpa harus banyak berusaha akan mengerti apa yang dimaksud dalam pembelajaran. Namun, pernahkah sesekali kita berpikir bahwa menjadi orang pintar tentunya tidak serta merta menjadi udah karena akan ada banyak orang yang menuntutnya untuk mendapatkan lebih dan lebih lagi tanpa melihat bagaimana keadaannya. Atau bahkan ketika menjadi orang pintar, pernahkah kita tersenyum karena rasa bahagianya atas apa yang diperolehnya walau tidak sesempurna kita. But, No one is perfect.
Pesan:
1. Ingatlah bahwa usahamu tidak akan menghianati hasil. Jika kita semua ngerasa kalu usaha kita yang sama dengan orang lain hanya memberikan hasil setengahnya dari orang lain, itu berarti kita harus berusaha 2 kali lipat agar sama dan jika ingin melebihi, maka kita harus berusaha lebih lagi.
2. Dayaku tidak sama dengan dayamu. Hargai setiap hasil usaha orang lain, mungkin untuk mencapai nilai yang sama seperti orang lain, kita hanya berusaha sedikit dan akan lebih banyak menggunakan waktu ke lain hal. Namun, bagaimana dengan orang lain itu? tentu saja tidak sama. Bahkan bisa jadi ia berusaha setengah mati untuk mendapatkan hasil tersebut. oleh sebab itu, hargai orang lain karena kita tidak tahu seberapa besar usahanya untuk mendapatkan nilai tersebut.
3. Gunakanlah berbagai sudut pandang agar kita senantiasa terbiasa memahami sebelum menilai. Mengerti jika kita berada di posisi yang sama dengan orang lain, maka apa yang akan kita lakukan. Hal ini untuk meningkatkan rasa empati kita terhadap orang lain.
Itu saja pesan dariku, sesungguhny semua yang aku paparkan diatas merupakan pendapatku pribadi secara mutlak dari apa yang aku lihat disekelilingku. Semoga kita senantiasa berada dilingkup kbaikan tanpa harus menyulitkan orang lain. Berada diposisi yang aman dengan cara saling melindungi tanpa ada yang mengorbankan karena sesungguhnya, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat.

Semoga bermanfaat… and see you later.


Senin, 27 Januari 2020

Okey, see you again...


Heart and Brain
Like Today and Tomorrow

Mengalir seperti air, mengikuti setiap langkah hati yang memberikan arah panah layaknya sebuah jarum kompas. Tak ada rasa untuk mencegahnya berkata dan bertindak, ataupun segala hal yang berusaha untuk menentang setiap keputusan yang di ambil olehnya. Cukup kata itu, HATI.
          Cukup, semua terasa begitu lambat dan bahkan tak bergerak, semua atmosfer yang menyelimuti dunia ini seolah berhenti ketika satu masalah tak terselesaikan dengan benar. Oh, ayolah. Hal yang begitu berarti seolah tak memiliki makna lagi, semua begitu berat seakan  melebihi masa gravitasi bumi, bahkan berkali-kali lipat. Tapi, tunggu. Sepertinya ada yang salah dengan ini semua, apakah aku terlalu bodoh ketika langkahku hanya mengikuti kata hati? Hei, Kau. Dimana kau sekarang? Otakku. Ya, benar. Dimana otakku? Mengapa ia menghilang.
          Terus aku melangkah tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi kedepannya, sayup-sayup terdengan berisik yang memekakkan telinga dan berharap aku kembali ke dunia nyata. Shit, langkahku terhenti ketika semuanya terasa gelap dan amat gelap. Gelap yang begitu pekat menghampiriku, rsa takut mulai berkecamuk di dalam kepala ku dan terus mengekori setiap langkahku. Aku panic dan kembali hati ini menyalahkan otakku dan meninggalkan ku dalam kegelapan yang begitu pekat ini. Ingin kembali rasanya mengumpat dan…..
          Brukk…
          Aku terjatuh ke dalam lubang yang begitu gelap.
          Kembali terdiam dalam suasana yang menggelitik dan ingin sekali aku tertawa dalam senyapnya dunia yang berasa begitu hampa, bahkan bagai tak ada desiran udara yang berlalu. Hening dalam kegelapan yang begitu pekat. Tenang. Ya rasa ini begitu…. begitu memilukan… Inikah rasanya jika hanya mengikuti kata hati dan melangkah tanpa berpikir? C’on, girl. You can do that, think to hard. Mari kembali berpikir, tentang apa saja yang telah kau lewati tanpa berpikir.  I think u can see, girl. Anything can’t be okay, right? So you have do that before you get something will be disturb you. Oh, sepertinya otakku kembali dalam diriku setelah sekian lama menghilang ketika aku lebih mementingkan hati dan rasa tanpa memperdulikan apa yang sedang di katakannya.
Kaki yang kembali melangkah, jiwa yang kembali pada alam sadar dan secercah cahaya membuat seberkas ingatan akan segala ambisi dan mimpi yang pernah hadir dalam diri. Mulai menghapus segala kenangan buruk tentang hari kemarin. Berusaha menguatkan diri dan menerima segala hal yang telah terjadi. Semua sudah terjadi dan hari ini adalah saatnya untuk menata hari esok. Hari ini adalah apa yang diperbuat dan dipirkan oleh hari kemarin. Oleh sebab itu, hari esok adalah apa yang diperbuat dan dipikirkan oleh hari ini
Ada saatnya kamu memerlukan hati, jangan sekali-kali kau tinggalkan otakmu karena keduanya saling melengkapi. Ketika sesuatu yang saling melengkapi itu kau pisahkan dengan alasan salah satunya lebih baik maka lihatlah akibatnya. Kau akan kehilangan arti. Makna akan hadir ketika keduanya kamu gunakan dengan baik dan sesuai fungsinya.
Penganalogian cerita di atas hanya salah satu dari berbagai cerita yang mampu mempengaruhi kehisupan kita yang seringkali hanya menggunakan salah satunya dan meninggalkan yang lainnya sehingga keduanya tak mampu tuk bersinergi dan melengkapi kekurangannya.
Begitu juga apa yang akan terjadi selanjutnya sesuai dengan apa yang kau lakukan dan pikirkan hari ini. Keduanya adalah satu cetakan yang sama, Jika hari esok adalah hasil dari sebuah kejadian sebelumnya, maka cobalah untuk melukis tempat terbaik di hari ini agar kiranya penyesalan yang akan datang dapat kau minimalisir.

Jumat, 11 Januari 2019

Be Diamond


Hai, guys. Balik lagi bersama aku. Zu. Ingat, bacanya gak usah dipanjangin biar artinya gak kebun binatang yaa…. Setelah begitu lama tidak up date di blog yang sepi pengunjung ini akibat terlalu sibuk dengan urusan perkuliahan serta organisasi yang tak ada matinya, dan baru kali ini aku bisa update lagi… whoaaaa senangnya. Oce, kali ini aku akan membahas sedikit tentang sesuatu yang dapat membuat kita berpikir kembali dan merenungi kajadian yang membuat kita mampu berdiri hingga saat ini. apa itu? Langsung saja ya di baca…
Selamat membaca
Be Diamond
Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Ungkapan milik Rene Descartes seorang filsuf Perancis ini menunjukkan bahwa keberadaan manusia ditunjukkan oleh pikirannya. Manusia itu di akui eksistensinya di muka bumi melalui pikirannya karena melalui pemikirannya menunjukkan bagaimana kualitas diri yang dimilikinya. Melalui pikiran, manusia dapat menggerakkan manusia untuk menjadi apapun yang diinginkannya.
Ingat kan, sekarang sudah abad millenium dimana segala sesuatunya adalah hasil dari pemikiran manusia. Media yang sekarang kalian gunakan untuk membaca tulisan ini adalah hasil dari pemikiran manusia, cahaya yang menerangi kamar tidur kalian juga merupakan hasil dari pemikiran manusia dan bahkan tempat tinggal yang sekarang kita huni juga merupakan hasil dari pemikiran manusia, itu sebabnya manusia itu diakui karena pemikirannya. Tidak heran jika pemikir-pemikir yang telah mencipatakan berbagai macam kecanggihan di era revolusi 4.0 ini diakui ke eksistensiannya di mata dunia. Banyak sekali manusia-manusia yang memberikan sumbangsihnya demi kemajuan dunia dan mengajarkan kita bagaimana cara berpikir cerdas, bahkan membuat perubahan ke arah yang lebih baik lagi. Namun, mirisnya zaman sekarang adalah semakin banyaknya manusia-manusia yang hanya mau mengandalkan hasil pemikiran orang lain tanpa mau berinovasi.  Bahkan ada yang dengan gampangnya menyebutkan bahwa “ngapain kita harus repot-repot mikir, kan zaman sudah canggih dan kita tinggal menikmatinya saja”. dan aku harap kalian bukan salah satunya dari manusia-manusia yang berpikiran seperti itu. Yang kita pikirkan seharusnya adalah “bagaimana caranya agar aku bisa menjadi salah satu orang yang dapat mengembangkan canggihnya tekhnologi sekarang ini?”. dan itulah kata yang diharapkan banyak orang.
            Sadar atau tidak, sebenarnya kita semua sudah terlena dengan kecanggihan yang sudah ada sehingga kita malas untuk berpikir cerdas demi mewujudkan perkembangan dunia yang lebih baik lagi. Hal ini karena sebagian besar individu tidak mampu menguasai alam pikirannya sehingga mampu di perbudak oleh hasil dari pemikiran orang lain meskipun ia telah memiliki kemampuan berpikir yang sama dengan individu lainnya yang mampu memciptakan sebuah hasil pemikiran.
Pasti kita semua bertanya-tanya bukan, mengapa ini bisa terjadi? Apa yang membuat kita tidak mampu menguasai pikiran kita sendiri? Bagaimana caranya agar kita dapat menguasai pikiran kita? So, be a diamond thinker. Apa itu? Nah guys, mari kita bahas… hehe.
Diamond atau dalam bahasa Indonesianya itu berlian. Aku yakin kalau kalian semau para pembaca yang baik hati dan tidak sombong tahu apa itu berlian, bukan? Tentu saja tahu.anak kecil pun pasti tahu apa itu berlian (anak kecil yang ngaku-ngaku sih).
Berlian, batu mulia yang paling tinggi nilai jualnya diantara semua batu mulia yang seringkali kita dengar dalam ranah perbncangan bebatuan, termasuk batu akik yang sempat mejadi Trending topic di beberapa kalangan. Mengapa berlian merupakan batu paling mulia di antara batu yang paling mulia? Berlian itu tidak hanya cemerlang, tetapi juga memiliki kekuatan yang luar biasa. Berlian sering kali digunakan untuk menunjukkan kekuatan cinta, kemegahan, dan kemewahan. Berlian berharga bukan hanya karena keindahan dan kemurniannya, namun karena ia telah melewati proses yang begitu panjang.
Sebenarnya, berlian, batu bara, dan granit berasal dari bahan yang sama, yaitu atom karbon. Meskipun begitu, namun dengan proses pembentukan yang berbeda maka akan mengalami perubahan dan hasil yang berbeda pula. Kuncinya adalah tekanan. Semakin dalam kedalaman, semakin tinggi tekanan hingga akhirya karbon tersebut membentuk berlian.
Sama seperti halnya manusia, semakin banyak tekanan yang dimiliki baik itu dari pekerjaan, keluarga, pertemanan, bahkan kisah percintaan sekalipun akan mampu mengubah kita menjadi sosok yang lebih baik lagi selama kita mampu mengahadapinya dengan baik. Pribadi yang tercipta tentunya lebih kuat, lebih keras, dan lebih berharga layaknya sebuah berlian. Jika seseorang tidak mendapatkan tekaan yang cukup, maka ia hanya akan menjadi sebuah batu bara: mudah terbakar, murah, dan kotor. So, kita semua pasti ingin ‘kan menjadi berlian dan tentunya melalui proses panjang layaknya yang terjadi pada berlian. Kita bisa mengambil segala pelajaran dari tekanan dan kekacauan yang terjadi pada hidup kita dan menggunakannya untuk move ON ke tingkat yang lebih tinggi lagi
            Pernahkah anda berpikir mwngapa tekanan bisa mempengaruhi tingkat kualitas seseorang? Apakah ada pola-pola tertentu yang dapat menjawabnya? Mengapa orang-orang yang seringkali mengalami permasalahan dpaat memiliki pemikiran yang labih baik ketimbang kita yang hanya tertawa-tawa saja setiap harinya tetapi tak mampu berpikir lebih baik  dari seorang anak kecil yang masih memegang gagang lolipop? Mari kita renungkan sejenak dan kita bedah apa yang membuat hal ini terjadi pada kita.
            Sebuah konsep yang menekankan adanya sebuah hubungan dekat antara situasi dengan struktur-struktur dan tatanan yang mulanya paradoks pada satu sisi, dengan pemborosan pada sisi lain. Konsep yang mana memperkenalkan pada sebuah perubahan radikal, dimana ketidak teraturan justru menjadi sebuah awal keteraturan.
Kita semua mungkin tahu bagaimana rasanya terganggu oleh suatu situasi, meningkatnya tekanan stress hingga mempengaruhi kondisi kesehatan kita sendiri bahkan hingga mengganggu kondisi mental dimana kita mencapat titik yang membuat kita berada dalam kondisi paling buruk dan tidak mampu menanganinya. Teori Prigogine menjelaskan, ketika individu berada  dalam kondisi yang buruk, terpuruk dan penuh tekanan, alam bawah sadar justru membentuk  kesadaran baru. Kesadara yang menuntun individu tersebut untuk melakukan sebah perubahan dan memperbaiki diri sendiri dari dalam.
Namun keadaan ini hanya berlaku ketika individu berada dalam kondisi dan situasi yang tepat. Kondisi tersebut adalah kondisi  dimana individu mendukung dirinya sendiri  secara mental dan emosional untuk melakukan perubahan dengan cara sehat, positif dan terarah. Hanya dalam kondisi tersebutlah individu dapat menemukan jangkar yang dapat membantunya melewati badai dalam kehidupan sehingga dapat mencapai tingkat kehidupan selanjutnya.
Sama seperti dengan apa yang diatakan oleh Albert Einstein,Anda tidak dapat memecahkan masalah dari kesadaran yang sama yang menciptakannya. Anda harus belajar melihat dunia baru.”
Dengan kata lain, kita tidak dapat membuat kehidupan baru dengan pola pikir yang sama yang menciptakan kehidupan kita yang kita miliki sekarang. So, berubahlah dari tekanan yang kita miliki untuk menjadikan hidup kita layaknya sebuah berlian yang bersih dan bernilai.
Semoga saja sepatah dua patah kata yang aku tuliskan dapat memberikan sedikit dorongan bagi kita semua untuk berubah lebih baik lagi dari sebelumnya untuk menjadi sebuah berlian.

Semoga bermanfaat...😊😊
Terinspirasi dari sebuah buku karya Dewi Indra P, ‘Diamond Thinker’.

Jumat, 03 Agustus 2018

The Power of Thinking Big

The Power Of Thinking Big

    setiap manusia mempunyai mindset tentang dirinya dan tentang lingkungannya. Berbicara mindset, mindset sendiri adalah sesuatu yang hadir antara pemikiran dari otak dan hati yang berkolaborasi menjadi sebuah keputusan-keputusan yang berarti untuknya. Baik itu semacam keputusan untuk melakukan hal baik maupun hal buruk dalam menghadapi kehidupan atau pilihan bahkan sebuah peristiwa yang memerlukan jangka waktu pendek untuk berpikir. Kita bisa melihat sebagai contoh ketika kita dihadapkan oleh sebuah kejadian dimana seseorang mengalami kecelakaan parah, dan di sekelilingnya tidak ada satupun orang yang lewat. Seketika kita yang melihatnya pasti berpikir, apakah kita akan menolongnya tetapi disuruh bertanggung jawab atau memilih pergi dari tempat perkara dengan membiarkan orang tersebut terkapar kesakitan? Hati nurani pasti akan berbicara sebagai kebaikan, sedangkan otak akan berpikir logika dan rasa ketakutan.
         Sebagai manusia normal, jika melihat seorang mengalami kecelakana dan berpikir bahwa dia juga membutuhkan orang lain, maka refleks pribadi langsung menolongnya. Hal itu termasuk berpikir dan merefleksikan kebiasaan-kebiasaan yang baik.
        Setiap manusia pada dasarnya adalah manusia yang baik. Memang faktanya tidak semua manusia menunjukkan sikap baiknya karena setiap manusia lahir di keluarga dan lingkungan berbeda-beda yang mendukung pertumbuhan sikapnya sehingga menciptakan sikap dan perilaku yang terdapat pada dirinya. Namun, jika kebaikan berpikir dirinya lebih kuat, maka disitulah letak kekuatan berpikir yang akan menuntunnya ke arah yang lebih baik.
           Pikiran yang baik adalah sebagai awal penentu hasil yang baik pula. Jangan pernah takut untuk berpikir positif tentang diri anda sendiri. Lingkungan hanya membantu anda untuk mengenali siapa teman-teman Anda, tetapi lingkungan tidak adapat membantu anda mengenali diri jika tidak kita sendiri yang melakukannya. Seringkali manusia berpikir bahwa lingkungan buruk akan membuat seseorang tersebut tumbuh menjadi orang yang memiliki pemikiran dan tingkah laku yang buruk.
           Jarang sekali dari kita yang berpikir dari sisi lain mengenai lingkungan seseorang, kebanyakan dari kita hanya berpikir dengan satu sudut pandang sehingga kita tidak pernah menemukan sudut pandang lain yang jauh berbeda dengan sudut pandang negatif yang seringkali kita gunakan. Seperti halnya lingkungan yang mempengaruhi seseorang. Cobalah sesekali berpikir dengan sudut pandang positif mengenai lingkungan buruk untuk tumbuh kembangnya perilaku seseorang. Coba dari sekarang untuk menngunakan akal pikiran positif mengenai orang yang tinggal dilingkungan buruk. Orang yang tinggal di lingkungan buruk atau kurang baik belum tentu menjadikannya orang yang kurang baik pula, bisa jadi lingkungan tersebut malah menjadikannya seseorang lebih baik sebab lingkungan yang kurang baik mampu mengajarkannya untuk bersikap lebih gesit untuk menghadapi lingkungan tersebut.
         Sekali lagi kita mengambil contoh, misalnya seorang anak muda yang hidup di tengah orang-orang yang suka mencuri. Coba bayangkan apa yang akan terjadi pada pemuda tersebut? Bisa jadi kebanyakan dari kita berpikir bahwa pemuda tersebut juga akan tumbuh menjadi seorang pencuri. Tapi apakah ada hal positif yang tertanam dibenak anda bahkan kita semua mengenai hal tersebut. Adakah yang berpikir bahwa pemuda tersebut tumbuh menjadi orang yang gesit dan penuh perhatian dan ketelitian serta kehati-hatian dalam menangani sebuah kasus? Mungkin sedikit dari kita yang berpikir seperti itu. Mari kita berpikir positif dengan pemuda tersebut, ketika lingkungannya seringkali digemparkan dengan kasus kehilangan, maka secara tidak sadar pemuda tersebut menjadi salah seorang yang menajamkan inderanya untuk waspada terhadap pelaku yang mungkin saja akan membuat pemuda tersebut menjadi korban, dengan itu pemuda tersebut semakin teliti terhadap gerak-gerik seseorang yang baik ataupun mencurigakan sehingga setiap hari ia selalu melatih kemampuan tersebut yang dapat diandalkan dalam kinerjanya sehari-hari. Ketelitiannya dalam melihat dan kehati-hatiannya dalam menghadapi masalah menjadikannya pemuda yang bertanggung jawab, baik atas dirinya maupun atas orang lain.
         Sekarang saatnya kita mulai untuk melihat dari berbagai sudut pandang positif dan bukan hanya memakai satu sudut pandang yang akan membuat kita semakin tertinggal dan takut melakukan perubahan karena terpatok pada sudut pandang negatif yang seringkali digunakan untuk menganalisa ataupun memustuskan suatu permasalahan kehidupan. Hanya dengan berpikir positif dari berbagai sudut pandang dapat membuat berbagai permasalahan terselesaikan dengan rapi tanpa menambah permasalahan atau membuat individu sendiri merasa tertekan dan kemudian terjangkit stress. Bahkan semakin mudah melangkahkan kaki menuju tujuan yang sudah ada di depan mata.

 "Setiap kesuksesan dan kebaikan ada di tangan orang-orang yang mau berpikir positif dari sudut pandang berbeda terhadap dirinya ataupun orang lain bahkan terhadap lingkungan tempat tinggalnya sendiri. Karena setiap pemikiran positif membukakan celah positif dan menutup sudut pandang negatif yang mmpu menjatuhkan kita ke lembah kenistaan"
-Zu-
*** 

Hanya itu saja yang dapat saya baginya, beberapanya saya kutip dari buku 'The Miracle of Thinking Big'. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Jumat, 22 Juni 2018

Bersyukurlah atas Kegagalan


“BERSYUKURLAH ATAS  KEGAGALAN”
Description: C:\Program Files (x86)\Microsoft Office\MEDIA\CAGCAT10\j0302953.jpg
Mengapa saya katakan bahwa kita harus bersyukur dalam kegagalan? karena ketika gagal kita mampu melihat kembali  kebelakang mengenai apa yang telah kita lakukan dibelakang hingga saat ini yang menyebabkan kegagalan menghampiri kita, apakah yang kita lakukan selama ini telah benar adanya atau hanya setengah-setengah? Apakah pengorbanan yang kita lakukan telah sungguh-sungguh ataukah hanya main-main saja? Apakah niat yang kita tanamkan telah benar ataukah hanya sebagai pembenaran belaka? Coba kita renungkan kembali.
Saat kita merenungkan kembali, disitulah kita mampu menyukuri sebuah kegagalan. Seandainya kita berhasil dan pada saat yang sama kita memiliki niat yang kurang bagus dan usaha yang biasa-biasa saja, maka kita tidak akan tahu bagaimana seharusnya kita berjuang dengan sungguh-sungguh. Disaat kita berhasil tanpa sebuah pengorbanan yang besar, maka hasil yang akan kita rasakan juga tidak besar dan akan sangat terasa biasa-biasa saja. Mengapa demikian? Karena perjuangan yang kita lakukan juga biasa-biasa saja.
            Saya memiliki cerita mengenai kegagalan saya dibidang yang saya cintai. Jadi ceritanya begini, saya adalah orang yang sangat mencintai yang namanya Matematika. Jika sebagian besar orang berpikir bahwa matematika itu sulit dan membosankan. Maka kedua kata yang menjudge itu tidak berlaku bagi saya karena bagi saya Matematika itu adalah hal yang menyenangkan dan saya suka itu. Akan tetapi, kemujuran belum pernah berpihak pada saya karena saya belum pernah sekali pun memenangkan perlombaan akademik di dalam bidang Matematika ini. Saya merasa saya telah bisa mengerjakannya tetapi saya belum juga mendapatkan kata juara tersebut hingga perlombaan matematika terakhir yang saya ikuti sebelum saya benar-benar vakum dari dunia perlombaan akademik. Saya sempat berpikir untuk dapat menjuarai OSN bidang Matematika, sayangnya saya tidak memiliki kesempatan itu. Saya hampir putus asa dan tidak akan berharap lagi mengenai hal tersebut karena saya yakin bahwa yang akan mewakili OSN tersebut adalah teman saya. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain dan memberikan saya jalan untuk mengikuti OSN dibidang Fisika. Awalnya saya tidak yakin dengan hal tersebut,  tetapi saya teringat akan janji saya setahun yang lalu bahwa saya akan membawa juara untuk OSN tahun berikutnya dan mungkin ini adalah jalan saya. Saya kembali bangkit dan berusaha sekuat tenaga dan semampu saya untuk dapat membuktikan hal tersebut. Hingga hari pengumuman tiba, saya dinyatakan sebagai peraih juara pertama OSN bidang Fisika.
            Terkadang, seringkali kita terperosok dalam kegagalan dan sangat sulit untuk bangkit lagi karena kita takut akan gagal kembali. akan tetapi, apakah kita akan mengetahui seberapa dekat kita dengan kemenangan yang akan kita raih dan seberapa dekat kita dengan kegagalan. Seandainya saja, pada saat itu saya menolak tawaran untuk mengikuti OSN tersebut, mungkin saja saya tidak akan mendapatkan kejuaraan itu. Seandainya saja, saya menolak tawaran tersebut makan saya tidak akan tahu seberapa dekat saya dengan kemenangan.
            Teman-teman sekalian, seringkali kita lupa untuk bersyukur atas kegagalan yang telah kita raih, kita menyalahkan kegagalan dan meninggalkannya tanpa berpikir bagaimana bisa kegagalan itu terjadi. Kita lupa untuk bersyukur atas kegagalan tersebut, hingga akhirnya kita lupa mengoreksi kejadian sebelumnya yang membuat kita kembali mendapatkan kegagalan yang sama karena kesalahan yang sama. Itulah sebabnya, kita harus bersyukur atas kegagalan yang pernah kita capai untuk memperbaiki kegagalan yang telah terjadi.
            So, cobalah untuk menyukuri kegagalan apa saja yang pernah kita capai sebelumnya dan cobalah memperbaikinya.


Dibuat oleh ZU

Puisi_Cahaya Jiwa

  Cahaya Jiwa Halloooooo... Balik lagi bersama aku yang senang menabung dan baik hati ini. Kali ini aku akan berbagi mengenai sebuah puisi p...