Jumat, 11 Januari 2019

Be Diamond


Hai, guys. Balik lagi bersama aku. Zu. Ingat, bacanya gak usah dipanjangin biar artinya gak kebun binatang yaa…. Setelah begitu lama tidak up date di blog yang sepi pengunjung ini akibat terlalu sibuk dengan urusan perkuliahan serta organisasi yang tak ada matinya, dan baru kali ini aku bisa update lagi… whoaaaa senangnya. Oce, kali ini aku akan membahas sedikit tentang sesuatu yang dapat membuat kita berpikir kembali dan merenungi kajadian yang membuat kita mampu berdiri hingga saat ini. apa itu? Langsung saja ya di baca…
Selamat membaca
Be Diamond
Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Ungkapan milik Rene Descartes seorang filsuf Perancis ini menunjukkan bahwa keberadaan manusia ditunjukkan oleh pikirannya. Manusia itu di akui eksistensinya di muka bumi melalui pikirannya karena melalui pemikirannya menunjukkan bagaimana kualitas diri yang dimilikinya. Melalui pikiran, manusia dapat menggerakkan manusia untuk menjadi apapun yang diinginkannya.
Ingat kan, sekarang sudah abad millenium dimana segala sesuatunya adalah hasil dari pemikiran manusia. Media yang sekarang kalian gunakan untuk membaca tulisan ini adalah hasil dari pemikiran manusia, cahaya yang menerangi kamar tidur kalian juga merupakan hasil dari pemikiran manusia dan bahkan tempat tinggal yang sekarang kita huni juga merupakan hasil dari pemikiran manusia, itu sebabnya manusia itu diakui karena pemikirannya. Tidak heran jika pemikir-pemikir yang telah mencipatakan berbagai macam kecanggihan di era revolusi 4.0 ini diakui ke eksistensiannya di mata dunia. Banyak sekali manusia-manusia yang memberikan sumbangsihnya demi kemajuan dunia dan mengajarkan kita bagaimana cara berpikir cerdas, bahkan membuat perubahan ke arah yang lebih baik lagi. Namun, mirisnya zaman sekarang adalah semakin banyaknya manusia-manusia yang hanya mau mengandalkan hasil pemikiran orang lain tanpa mau berinovasi.  Bahkan ada yang dengan gampangnya menyebutkan bahwa “ngapain kita harus repot-repot mikir, kan zaman sudah canggih dan kita tinggal menikmatinya saja”. dan aku harap kalian bukan salah satunya dari manusia-manusia yang berpikiran seperti itu. Yang kita pikirkan seharusnya adalah “bagaimana caranya agar aku bisa menjadi salah satu orang yang dapat mengembangkan canggihnya tekhnologi sekarang ini?”. dan itulah kata yang diharapkan banyak orang.
            Sadar atau tidak, sebenarnya kita semua sudah terlena dengan kecanggihan yang sudah ada sehingga kita malas untuk berpikir cerdas demi mewujudkan perkembangan dunia yang lebih baik lagi. Hal ini karena sebagian besar individu tidak mampu menguasai alam pikirannya sehingga mampu di perbudak oleh hasil dari pemikiran orang lain meskipun ia telah memiliki kemampuan berpikir yang sama dengan individu lainnya yang mampu memciptakan sebuah hasil pemikiran.
Pasti kita semua bertanya-tanya bukan, mengapa ini bisa terjadi? Apa yang membuat kita tidak mampu menguasai pikiran kita sendiri? Bagaimana caranya agar kita dapat menguasai pikiran kita? So, be a diamond thinker. Apa itu? Nah guys, mari kita bahas… hehe.
Diamond atau dalam bahasa Indonesianya itu berlian. Aku yakin kalau kalian semau para pembaca yang baik hati dan tidak sombong tahu apa itu berlian, bukan? Tentu saja tahu.anak kecil pun pasti tahu apa itu berlian (anak kecil yang ngaku-ngaku sih).
Berlian, batu mulia yang paling tinggi nilai jualnya diantara semua batu mulia yang seringkali kita dengar dalam ranah perbncangan bebatuan, termasuk batu akik yang sempat mejadi Trending topic di beberapa kalangan. Mengapa berlian merupakan batu paling mulia di antara batu yang paling mulia? Berlian itu tidak hanya cemerlang, tetapi juga memiliki kekuatan yang luar biasa. Berlian sering kali digunakan untuk menunjukkan kekuatan cinta, kemegahan, dan kemewahan. Berlian berharga bukan hanya karena keindahan dan kemurniannya, namun karena ia telah melewati proses yang begitu panjang.
Sebenarnya, berlian, batu bara, dan granit berasal dari bahan yang sama, yaitu atom karbon. Meskipun begitu, namun dengan proses pembentukan yang berbeda maka akan mengalami perubahan dan hasil yang berbeda pula. Kuncinya adalah tekanan. Semakin dalam kedalaman, semakin tinggi tekanan hingga akhirya karbon tersebut membentuk berlian.
Sama seperti halnya manusia, semakin banyak tekanan yang dimiliki baik itu dari pekerjaan, keluarga, pertemanan, bahkan kisah percintaan sekalipun akan mampu mengubah kita menjadi sosok yang lebih baik lagi selama kita mampu mengahadapinya dengan baik. Pribadi yang tercipta tentunya lebih kuat, lebih keras, dan lebih berharga layaknya sebuah berlian. Jika seseorang tidak mendapatkan tekaan yang cukup, maka ia hanya akan menjadi sebuah batu bara: mudah terbakar, murah, dan kotor. So, kita semua pasti ingin ‘kan menjadi berlian dan tentunya melalui proses panjang layaknya yang terjadi pada berlian. Kita bisa mengambil segala pelajaran dari tekanan dan kekacauan yang terjadi pada hidup kita dan menggunakannya untuk move ON ke tingkat yang lebih tinggi lagi
            Pernahkah anda berpikir mwngapa tekanan bisa mempengaruhi tingkat kualitas seseorang? Apakah ada pola-pola tertentu yang dapat menjawabnya? Mengapa orang-orang yang seringkali mengalami permasalahan dpaat memiliki pemikiran yang labih baik ketimbang kita yang hanya tertawa-tawa saja setiap harinya tetapi tak mampu berpikir lebih baik  dari seorang anak kecil yang masih memegang gagang lolipop? Mari kita renungkan sejenak dan kita bedah apa yang membuat hal ini terjadi pada kita.
            Sebuah konsep yang menekankan adanya sebuah hubungan dekat antara situasi dengan struktur-struktur dan tatanan yang mulanya paradoks pada satu sisi, dengan pemborosan pada sisi lain. Konsep yang mana memperkenalkan pada sebuah perubahan radikal, dimana ketidak teraturan justru menjadi sebuah awal keteraturan.
Kita semua mungkin tahu bagaimana rasanya terganggu oleh suatu situasi, meningkatnya tekanan stress hingga mempengaruhi kondisi kesehatan kita sendiri bahkan hingga mengganggu kondisi mental dimana kita mencapat titik yang membuat kita berada dalam kondisi paling buruk dan tidak mampu menanganinya. Teori Prigogine menjelaskan, ketika individu berada  dalam kondisi yang buruk, terpuruk dan penuh tekanan, alam bawah sadar justru membentuk  kesadaran baru. Kesadara yang menuntun individu tersebut untuk melakukan sebah perubahan dan memperbaiki diri sendiri dari dalam.
Namun keadaan ini hanya berlaku ketika individu berada dalam kondisi dan situasi yang tepat. Kondisi tersebut adalah kondisi  dimana individu mendukung dirinya sendiri  secara mental dan emosional untuk melakukan perubahan dengan cara sehat, positif dan terarah. Hanya dalam kondisi tersebutlah individu dapat menemukan jangkar yang dapat membantunya melewati badai dalam kehidupan sehingga dapat mencapai tingkat kehidupan selanjutnya.
Sama seperti dengan apa yang diatakan oleh Albert Einstein,Anda tidak dapat memecahkan masalah dari kesadaran yang sama yang menciptakannya. Anda harus belajar melihat dunia baru.”
Dengan kata lain, kita tidak dapat membuat kehidupan baru dengan pola pikir yang sama yang menciptakan kehidupan kita yang kita miliki sekarang. So, berubahlah dari tekanan yang kita miliki untuk menjadikan hidup kita layaknya sebuah berlian yang bersih dan bernilai.
Semoga saja sepatah dua patah kata yang aku tuliskan dapat memberikan sedikit dorongan bagi kita semua untuk berubah lebih baik lagi dari sebelumnya untuk menjadi sebuah berlian.

Semoga bermanfaat...😊😊
Terinspirasi dari sebuah buku karya Dewi Indra P, ‘Diamond Thinker’.

Tidak ada komentar:

Puisi_Cahaya Jiwa

  Cahaya Jiwa Halloooooo... Balik lagi bersama aku yang senang menabung dan baik hati ini. Kali ini aku akan berbagi mengenai sebuah puisi p...