Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Oktober 2018

Cerita Perjalanan Hijrah 2017



Okay, guys.... balik lagi sama aku yang akan berbagi cerita bersama kalian... cerita ini sudah sangat lama dan hampir manginjak waktu 1,5 tahun yang lalu... 
Tanpa banyak panjang lebar, langsung saja kita menuju ke cerita yang akan kalaian baca. boleh disimak dan diamati, tapi jangan ditiru ya, guys... 😀😀😀😀


Aku dan Istanbul

RABU, 27 MARET 2017    
11.48 PM
            Jam tangan yang ku letakkan di atas meja belajar telah menunjukkan tengah malam, tetapi mataku masih terjaga sejak aku merebahkan tubuhku di atas kasur yang begitu empuk ini. beberapa kali aku berusaha untuk menidurkan diriku untuk menjaga stamina yang akan terkuras pada besok hari. Sayangnya, otak dan tubuhku kali ini tidak mampu berkerja sama.
            “Zub, nggak bisa tidur nah aku. Kamu udah tidur kah?” kata temanku yang terlihat sama seperti diriku yang masih dalam keadaan terjaga. Bedanya hanya satu, saat aku terjaga aku hanya diam tanpa bergerak banyak, lain halnya dengan temanku yang terjaga tetapi terlihat sangat gelisah menunggu waktu itu tiba.
            Aku ingin menjawab pertanyaan yang baru saja ia lontarkan terhadapku, sayangnya aku terlambat karena sekarang ia telah berjalan ke arah dimana pintu terpampang dengan jelas. Aku hanya berpikir bahwa ia sedang mencari temannya yang lain dan kemudian membangunkannya. Tepat. Dugaanku memang sangat tepat bahwa temanku berjalan keluar untuk membangunkan teman-teman yang lain karena aku mendengar suara berisik di depan pintu kamarku. Walaupun tempat tidurku tidak berada di sebelah pintu, akan tetapi suara heningnya malam tentu saja akan membuat suara merambat lebih cepat dengan pemantulan yang lebih baik daripada di saat siang hari.
            Aku terbangun dari tidurku saat selimutku terasa terangkat dengan sendirinya kemudian menghilang dari atas kasurku sehingga udara dingin menyambut kakiku yang tidak memakai kaos kaki.
            “Zubai, ayo bangun terus siap-siap,” ucapnya membuatku duduk dari posisi berbaringku dan menatapnya dengan sayu. “Memangnya ini jam berapa, Is?” tanyaku saat ia berdiri ingin meninggalkanku. Bukannya menjawab pertanyaanku tapi ia melempar bantal yang ada di depanku tepat mengenai mukaku. Setelah itu ia langsung pergi menjauh dan ketawa pelan karena tertahan oleh tatapanku yang seakan-akan ingin membunuhnya.
Aku meraih jam tangan yang aku letakkan di atas meja sebelum aku tidur malam tadi. Mataku membulat sempurna ketika melihat angka yang ditunjukkan oleh jarum jam tersebut menunjukkan pukul 1. 15 dini hari. Baiklah, sepertinya aku memang harus bangun dan bersiap-siap karena pasti sebentar lagi bus yang akan membawa kami menuju bandara akan segera datang. Aku melakukan segala aktivitas persiapannya dengan sedikit terburu-buru karena bus yang menjemput kami telah sampai dan kini sedang berada di depan lobi sekolah.
 Aku sedikit berlari sambil menggeret koper yang berada di sampingku. Dengan napas yang terengah-engah akhirnya aku sampai di lobi asrama dengan tepat waktu. Walaupun dengan keadaan yang agak sedikit berantakan, setidaknya aku masih dapat membenahi pakaianku yang sedikit kacau. Kaos kaki, jaket, bahkan beberapatas kecil masih terlihat berantakan di tanganku. Ku pakai satu persatu dari jaket hingga kaos kaki yang berada di tanganku, kemudia aku membenarkan posisi tas kecil yang aku bawa ke dalam koper agar terlihat lebih rapi.
***
08.45 AM
“Akhirnya,” ucapku sedikit keras sembari menghembuskan napas lega karena sekarang aku sudah menginjakkan kaki di bandara Internasional Soekarno Hatta.
Aku masih mengikuti arah mereka semua dan apa-apa saja yang harus dilakukan oleh semua oerang yang baru sampai di bandara. Maklum saja jika aku terlihat seperti orang kampungan karena faktanya memang aku dari kampong dan ini adalah pertama kalinya aku menaiki pesawat terbang. Ada rasa bangga terbesit di dalam hatiku karena aku mampu menginjakkan kakiku di Ibu Kota Indonesia, Jakarta.
Kami semua termasuk aku juga yang berada di sana terus saja bercanda tanpa mengenal lelah, beberapa lelucon lucu pun juga ikut aku lontarkan untuk menambah hangatnya suasana pertemanan. Aku menyeka air mata yang terdapat diujung mataku akibat tertawa yang tidak mampu untuk aku tahan lagi. Sungguh, bahagia bercampur haru telah aku rasakan saat ini.
“Ra, akhirnya kita sampai juga di Jakarta,” ucapku kepada temanku yang biasa di panggil dengan Nura.
“Iya, Zub. Nggak nyangka aku kalau kita bisa ke sini sama-sama,” jawabnya tidak kalah bahagia dari aku. Aku tidak menjawab ucapannya lagi, hanya mampu menganggukkan kepala ketika mendengar suaranya yang mulai samar menjauh di belakangku.
Sekarang aku atau lebih tepatnya kami semua berada di Menara 165 yang terletak di Jakarta Selatan. Selain sebagai hotel, menara 165 juga merupakan pusat pendidikan bisnis yang disebut dengan ESQ Bussiness School yangmerupakan sekolah tingkat perguruan tinggi yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
Di dalam menara 165 tersebut, kami semua mengadakan seminar tentang betapa pentingnya kehidupan, perubahan, dan karakter-karakter yang harus ditanamkan pada setiap individu yang akan menjadi penerus bangsa. Ada satu kutipan yang selalu aku ingat sejak saat itu hingga saat ini ketika aku mendapatkan sebuah kesulitan yang hampir membuatku putus asa. Kutipan itu adalah: “Hiduplah kalian layaknya ikan salmon yang selalu berusaha dengan gigih melawan derasnya air yang ada dilautan untuk bertahan hidup. Dilahirkan dari parairan sungai, tetapi hidup di samudera yang luas kemudian kembali lagi ketika akan melahirkan. Itlah perjuangan hidupnya agar ia mendapatkan keturunan yang kuat. Maka, brgitulah kita seharusnya dimana kita harus keluar dari zona nyaman untuk mendapatkan kualitas hidup yang jauh diatas standar rata-rata orang kebanyakan.” Sungguh, kata itu sangat menggugah hati dan membangkitkan semangat bagi para pejuang untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
Hari pertama di Jakarta kami lewati dengan berbagai macam aktivitas selain seminar dan permainan. Berbicara tentang permainan, maka aku adalah orang pertama yang selalu unjuk tangan katika ditanya siapa yang mau maju kedepan untuk melakukan percobaan bahkan sesekali aku menjadi bahan tertawaan teman-teman yang lain hanya karena uji percobaan ku yang gagal total. Tapi, aku bahagia dengan itu semua. Hingga semua rangkaian acara pada hari itu selesai.
“Zub, waah kamu keren banget ya. Berani-beraninya maju ke depan dengan tampang nggak berdosa hingga semua orang tu ngetaaain kamu loh, Zub,” kata temanku yang bernama Ika ketika berjalan mengiringi langkahku menuruni anak tangga.
“Haha, santai aja kali. Aku suka kok diketawain, hitung-hitung cari pahala bikin orang bahagia,” ucapku sembari tertawa renyah.
“Emang kamu nggak malu kah, Zub?” tanyanya lagi dengan wajah sedikit penasaran.
“Ngapain harus malu. Toh, aku nggak malu-maluin juga kan. Jadi mah santai aja,” jawabku lagi dengan wajah santai tanpa peduli tanggapannya.
“Huh, susah kalo udah ngomong sama orang aneh kaya kamu, Zub,” jawabnya kesal sembari berjalan mendahuluiku.
“Yeay, bukannya dari dulu kamu udah tahu kalau aku emang aneh,” jawabku lagi dengan senyu  yang semakin membuatnya kesal ketika berbalik menatapku.
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang terkadang seperti anak-anak itu. Dan aku juga memang sangat suka jika membuat orang kesal denganku. Walaupun begitu, aku tak pernah membuat mereka marah karena keusilanku yang suka menggoda mereka.
***
Hari kedua di Jakarta.
“Nitaaaaaaaaa, ayo bangun,” ucapku sedikit berteriak kepada temanku yang masih saja bergulung dengan selimut tebalnya hingga ia terbangun mendengar suaraku yang beberapa kali membangunkannya. Dengan langkah kesal, iya menyisihkan selimutnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lain denganku yang sudah siap menuju ruang makan untuk mengambil sarapan pagiku. Perutku yang sudah meminta jatah untuk segera aku isi sehingga tanpa peduli dengan mereka yang masih saja bersiap-siap dan beberapa yang asik dengan ponselnya masing-masing membuatku langsung menuju rung makan tanpa omong kosong.
“Oke teman, aku duluan ya, guys,” ucapku kepada teman sekamarku sebelum aku menutup pintu kamar.
“Oke, Zub. Makan yang banyak ya,” jawab Noni samar-samar di balik pintu yang sudh tertutup dengan rapat.
Setelah itu aku selesai melakukan aktivitas yang tidak boleh terlewatkan, aku langsung kembali ke kamar untuk bersiap-siap dengan agenda yang akan kami lakukan hari ini.
Kembali berkutat dengan pesan-pesan lawak yang kami lakukan secara diam-diam melalui social media. Sesekali kami tertawa bersama ketika ada hal-hal yang kemungkinan mengundang tawa semua orang, bahkan akupun juga ikut tertawa ketika melihat apa yang mereka tertawakan. Sungguh, mereka semua sangat kekurangan pekerjaan hingga teman kami yang sedang tertidur selama perjalanan mereka abadikan kemudian mereka sebarkan ke dalam pesan grup hingga kami sampai tujuan.
Hari ini, kami bersenang-senang tetapi sambil memperlajari sejarah yang diceritakan oleh juru jalan yang kami ikuti. Dari tempat satu hingga menuju tempat yang lainnya.
“Zub, naik sepedaan yuk?” ucap Nura ketika menghampiriku sembari menunjuk sepeda yang terpajang tidak jauh dari tempat kami berdiri. Aku hanya mengangguk sebagai tanda bahwa aku menyetujuinya. Aku pun langsung menarik tangannya menuju tempat yang ia tunjuk beberapa saat yang lalu. Setelah kami sampai ditempat tersebut, kami memilih sepedanya dan memakai topi yang diberikan oleh orang yang menyewakan sepedanya. Aku memakai topi warna putih dan temanku memakai topi warna merah. Kami membawa sepedanya ke tengah lapangan yang dikelilingi oleh museum Fatahillah.
Sayangnya, kejadian menggemparkan rombongan kami pun terjadi akibat kelakuanku dengan temanku yang bersepedaan. Aku berteriak ketika didepanku terdapat temaku yang bersepeda dengan lajunya mengarah ke arahku, disamping kakiku yang pendek sehingga aku tidak mampu mengontrol sepeda yang aku bawa, rasa terkejutku juga membuatku kehilangan kendali sehingga aku dan temanku yang bernama Rizal Said pun terjatuh dari sepeda. Kakiku sedikit terkilir karena tertindih oleh sepeda yang aku gunakan tadi. Sakit? Tentu saja. akan tetapi, rasa malu yang aku dapatkan membuatku kehilangan rasa sakit yang tergantikan oleh rasa malu. Kejadian itu pula yang membuatku berhenti untuk bermain sepeda dan lebih memilih untuk berfoto-foto ria dengan sahabat-sahabat terbaikku yang sedari tadi hanya menonton kejadian yang menimpa diriku. Sungguh memalukan, pikirku.
***
Dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan berikutnya, diisi dengan beberapa canda tawa baik itu tentang apa yang kami lihat maupun tentang kejadian yang baru saja menimpa diriku pun mereka buat lelucon-lelucon yang sesekali membuatku tersenyum malu.
“Masih sakit lah, Zub?” tanya Iis dengan nada sedikit mengejek kemudian diirngi oleh tawa mereka.
“Ah, itu nggak ada apa-apanya. Kecil, bentar lagi juga sembuh,” sanggahku samb il menjentikkan jariku bahwa aku tidak merasakan sakit walaupun faktanya bahwa kakiku memang sangat sakit yang aku sadari bahwa terdapat sedikit memar pada bagian tulang keringnya.
“Alah. Sok kuat kam, Zub” celetuk temanku lagi yang bernama Nura.
“Sudahlah, jangan mengejek yang lebih tua,” sanggahku lagi membela diri.
“Dasar tuha,” ucap Nura dengan penuh penekanan pada kata tuha kemudian diiringi oleh sorakan mereka berempat.
Selalu saja aku yang terpojokkan disini. Sabar, Zub.
***
Aku bergegas mengeret koperku turun dari pesawat terbang. Rasa dingin pun sudah mulai menusuk masuk ke dalam hidung. Udara disini memang benar-benar sangat dingin bahkan mengalahkan dinginnya AC yang ada di sekolahku. Dengan sedikit ragu aku bertanya dengan temanku mengenai suhu lokasi yang kami tempati sekarang.
“Berapa suhunya sekarang, say?” tanyaku kepada siapa saja yang mau menjawab.
“Lima derajat selsius, Zub,” jawab salah satu temanku yang sepertinya sedang duduk di depan.
Aku sedikit mengeratkan jaket yang kini aku kenakan karena udara semakin dingin menusuk tulang. Sedikit bergetar yang kurasakan ketika aku berbicara.
“Zub, ini pake aja punya ku. Aku bawa dua kok, jadi ini bisa kamu pakai,” ucap temanku sembari memberikan shall kepadaku. Dengan ragu-ragu aku menyambut shall pemberiannya. Sebelum aku menegangnya dengan sempurna, aku kembali menatapnya dengan tatapan bertanya apakah dia yakin ingin meminjamkan shal itu kepadaku. Dan tentu saja ia menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan keputusannya untuk meminjamkan shallnya kepadaku.
“Thanks, Ka,” ucapku berterima kasih kepadanya diiringi dengan senyuman berterima kasih. Ya, walaupun aku hanya menggunakan jaket yang tidak terlalu tebal, setidaknya aku masih bisa mengurangi rasa dinginku dengan menggunakan shall ini.
***
“Cuss, guys. Ayo kita turun, udah sampai,” teriakku dengan semangat sambil berdiri dan berjalan mendekat ke arah pintu bus untuk segera keluar. Rasa tidak sabarku bersarang di kepalaku ketika turun dari bus. Menikmati pemandangan yang begitu indah terpampang nyata di depan mata.
I’m coming, Turki,” ucapku ketika mendekat ke arah air mancur yang menghiasi taman Blue Mosque.
“Zub, kam tuh selalu hiperaktif dimanapun berada, semangat banget?” kata salah satu temanku yang berjalan mendahului diriku.
Aku tidak ingin menanggapi ucapannya sehingga aku hanya menghiraukannya saja. yang aku tahu bahwa aku datang kesini kan buat mencari ilmu dan mencari ilmu itukan harus semangat dan bahagia. Karena semangat yang sangat menggebu-gebu di dalam diriku membuatku berjalan dengan tergesa-gesa untuk mendekati air mancur yang begitu cantik tanpa memperhatikan jalan yang aku pijak. Bahkan sesekali aku berbicara dengan temanku yang berada di belakangku sambil berjalan mundur.
“Aw!” pekikku ketika tanpa sengaja kakiku tersandung oleh kursi taman yang ada dibelakangku hingga aku terduduk di kursi itu. Beberapa temanku ikut tertawa melihat kelakukan konyolku hari ini. karena aku telah beberapa kali ditertawakan untuk hari ini, setidaknya aku harus memasang wajah datarku untuk mengurangi sedikit rasa malu yang menimpa diriku.
Aku pun segera memanggil temanku yang lewat di depanku untuk dimintai pertolongan. Bukan pertolongan untuk bangkit dari rasa Maluku, tetapi untuk aku mintai tolong agar dia mau mengambil fotoku di depan air mancur itu.
“Den, bisa minta tolong nggak? Ok. Tolong fotokan aku di situ,” ucapku sambil memberikan ponselku kepadanya tanpa menunggu persetujuan darinya. Ia juga hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan dariku.
Aku mengucapkan terima kasih kepadanya setelah aku menerima kembali ponsel yang tadi aku berikan kepadanya untuk mengambil gambarku.
“Lumayan. Thanks, Den.”
“Hmm,” jawabnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun kepada ku. Membuatku kesal aja.
Kami menjelajahi masjid peninggalan bangsa Romawi yang bernama Blue Mosque. Sesungguhnya nama masjid itu bukan Blue Mosque, tetapi karena warna mesjidnya yang dominan dengan warna biru sehingga disebut dengan Blue Mosque.
Saat itu hari jumat sehingga sekitar masjid itu sangat ramai pengunjung, ditambah dengan waktu yang menunjukkan hampir tengah hari sehingga banyak orang yang berbondong-bondong memasuki masjid itu, baik laki-laki maupun perempuan untuk melakukan shalat Jumat berjamaah. Begitu juga dengan kami yang ikut serta di dalam sana.
Sebenarnya, aku dan teman-temanku telah terbiasa ikut serta salat berjamaah, sayangnya ada satu kejanggalan ketika kami ikut salah jumat berjamaah disana, merasa tidak khusu karena bahasa yang mereka gunakan bukan bahasa inggris melainkan bahasa Turki yang sama sekali tidak mampu untuk kami pahami apa maksud dari khutbah yang disampaikan sehingga kami para perempuan memutuskan untuk shalat berjamaah lebih dulu tanpa mengikuti imam utamanya.
“Yuk, kita keluar duluan dan nunggu cowoknya diluar aja,” kata guru yang membimbing kami selama disana.
Kami pun segera beranjak dari tempat kami salat dan meninggalakan tempat kosong untuk segera diisi oleh makmum lainnya yang berada dibelakang kami. Mereka memang tertib karena tanpa diminta pun mereka langsung mengisi shaf kosong yang berada di depan mereka. Sepertinya Indonesia wajib mencontoh sikap seperti ini.
Setelah selesai melakukan salat jumat berjamaah, kami semua kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat makan. Karena waktu memang telah menunjukkan waktu makan siang dan perut ini memang sudah meminta jatahnya untuk segera diisi secepatnya.
“Yeay, makan,” ucapku dengan semangat setelah mendengar kata makan dari guru pembimbing kami. Ditambah dengan tutran beliau jika kami semua akan makan di warung Nusantara dimana semua makanan yang dijual disana merupakan makanan dari Indonesia yang memang dimasak langsung oleh orang Indonesia. Dan sepertinya, rasa memang tidak bisa dibohongi sebagaimana rasa makanan yang begitu lezat.
Setelah selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan kami semua menuju beberapa tempat lagi sebelum pulang ke hotel. Pembimbing kami mengatakan kepada kami bahwa besok hari kami akan melakukan kunjungan ke beberapa lokasi pendidikan seperti sekolah, kampus, nahkan perpustakaan dan pusat-pusat penelitian dari para ilmuan yang Berjaya pada masa Romawi.
***
Tidak terasa beberapa hari telah kami lalui di Istanbul, Turki. Dan hari ini kami semua akan pergi ke taman Tulip dimana terdapat banyak sekali bunga tulip disana, tidak hanya itu, pemandangan yang sangat indah akan disuguhkan untuk kami semua. Tak akan ada yang kecewa jika kesana karena kalian semua akan merasa senang dan terhidur ketika kaki kalian telah menginjak taman tersebut. Ratusan bunga Tulip bermekaran, bukan ratusan tetapi ribuan bahkan mungkin jutaan. Entahlah, aku tidak berniat untuk menghitung seberapa banyak bunga Tulip yang ada disana, yang aku inginkan adalah menyegarkan pikiranku setelah beberapa hari yang lalu kami dihadapkan oleh pelajar-pelajar dari Istanbul yang berada disekolahnya dengan bahasa yang sama sekali tidak mampu kami pahami. Kami hanya dapat berbicara dengan beberapa orang saja yang mengerti dan paham bahasa Inggris, sisanya kami hanya berinteraksi menggunakan bahasa tubuh. Sedikit sulit, tapi itu sangat menyenangkan. Dan hari ini akan semakin menyenangkan karena agenda kami adalah liburan dan bersenang-senang.
Berbagai macam warna bunga Tulip ada disana, ada yang berwarna merah, putih, kuning, ungu, dan banyak lagi. Seskali kami mengambil gambar dari bunga itu. Bahkan tidak lupa pula untuk kami mengabadikan diri kami kedalam sebuah gambar digital bersama dengan bunga-bunga Tulip yang terangkai dengan indahnya demana-mana. Sebelum pulang kami semua juga sempat mengambil gambar bersama dengan latar tulisan Istanbul yang dikelilingi oleh bunga Tulip.
Pemandangan yang sangat indah untuk dijadikan latar belakang.
“Ayo nak. Semuanya merapat, kita foto-foto dulu sebelum lanjut ketempat berikutnya yang akan lebih menyenangkan,” ajak guru pembimbing kami agar kami yang tadinya memencar kesana kemari langsung segera merapat.
“Aku ditangah!” ucapku sedikit berteriak sambil berlari-lari agar dapat posisi di tengah. Sayangnya, saat aku sudah tiba ditempat, posisi ditengah telah diisi oleh temanku sehingga aku hanya duduk di samping guru pembimbing kami semua. Sedikit kesal karena gambar kali ini posisiku agak kesamping dari biasanya. Tidak apa-apa aku di samping, yang penting aku masih termasuk di dalam gambar tersebut dan masih menjadi bagian dari mereka semua.
“Zub, ayo!” ucap temanku sambil menarik tanganku agar aku mengikuti langkahnya. Dengan semangat aku pun mengikutinya dengan kebiasaan ku yaitu berbicara sambil berjalan mundur. Dan seperti biasa pula aku tersandung sesuatu, bedanya jika awal aku menginjakkan kaki di taman Blue Mosque aku tersandung kursi taman kemudian terduduk maka kali ini aku tersandung batu dan menabrak orang asing yang badannya sedikit gempal.
Ops. Sorry, Sir,” ucapku dengan wajah sangat malu kepada orang yang aku tabrak.
No problem, girl. Be carefull later,” jawabnya ramah.
Thank you, sir,” jawabku lagi sambil menunduk menahan malu katika ia hendak berlalu meninggalkanku. Oh Tuhan, ini begitu sangat memalukan. Sedangkan temanku yang melihat tingkah konyolku hanya kembali tertawa, sedangkan aku? Tentu saja masih sangat malu hingga tiba di luar gerbang. Aku sangat yakin jika saat itu wajahku pasti sangat memerah karena menahan malu yanmg sangat luar biasa. Tapi, ada rasa sedikit bahagia yang menyelinap ke dalam relung hatiku ketika aku malau dan mereka tertawa bahagia menertawakanku.
“Sudahlah, aku pasrah,” ucapku dengan pasrah sambil menempelkan pantatku ke kursi empuk yang ada di bus kemudian mneyenderkan badanku. Ku ingat-ingat kembali kejadian memalukan apa saja yang telah aku lakukan selama berada di Istanbul ini hingga suara guru pembimbing kami yang biasa dipanggil Miss Rinda itu membuyarkan lamunanku.
Alright. All of you complete, guys?” tanyanya memastikan bahwa semua siswa telah masuk ke dalam bus.
Yes, Miss,” jawab kami serentak. Tetapi, walaupun kami telah menjawab bahwa semuanya telah lengkap, beliau tetap saja menghitung kembali untuk emmastikan bahwa semuanya memang benar-benar lengkap.
“Okay, setelah ini kita akan makan siang dulu, setelah makan siang baru kita akan melanjutkan perjalanan kita menuju laut Marmara sambil menaiki kapal,” tutur beliau yang ku sambut dengan gembira. Sayangnya, beberapa dari kami sudah ada yang terlihat lelah sehingga ia tidak begitu menghiraukan apa yang diributkan oleh kami semua, lebih tepatnya oleh diriku yang berada disampingnya.
Kali ini, kami kembali makan siang di warung Nusantara, tempat makan yang menjadi kesukaan kami semua. Dan seperti biasanya, aku merupakan salah satu diantara kami semua yang makannya paling lahap.
“Kamu tuh doyan apa lapar, Zub?” tanya temanku Dita dengan heran karena aku menhabiskan makanan yang ada di depanku dengan cepat.
“Entahlah, mungkin keduanya,” jawabku enteng. Kemudian aku meminta temanku untuk mengabadikanku ke dalam sebuah gambar sebagai bukti bahwa aku telah makan banyak. Bukan sesuatu yang membanggakan memang, tapi aku bangga dengan hal itu. Ketika banyak orang yang tidak menghabiskannya, maka aku akan jdi orang yang menghabiskan makananku dengan cepat.
***
Makan siang telah usai, perutpun telah berhenti untuk berdemo meminta jatahnya. Dan sekarang saatnya melanjutkan libutan yang sempat tertunda oleh kewajiban kami sebagai manusia biasa yang memerlukan asupan gizi sebagai bahan bakar.
Selanjutnya, kami semua akan menuju pelabuhan dimana kami akan dibawa mengarungi lautan Istanbul yang memisahkan antara benua Asia dan Eropa. Laut Marmara. Laut yang menjadi perbatasan antara laut biasa dengan laut mati. Kenapa bisa dikatakan sebagai laut mati? Dari penjelasan yang aku tangkap, laut itu disebut sebagai laut mat karena kadar garamnya yang sangat tinggi sehingga tidak memungkinakan untuk makhluk laut seperti ikan dan tumbuhan laut untuk dapat hidup di sana. Dan kini, aku tengah berada diantara lautan tersebut.
Jika di Indonesia, maka kami akan berbondong-bondong menuju bawah kapal untuk berlindung dari panasnya sinar matahari pada siang hari agar tidak terbakar kulitnya. Akan tetapi, lain hal nya saat ini katika matahari tepat berada di atas kepala kami, kami semua berada di bawahnya untuk mendapatkan kehangatan tersendiri. Itu semua karena terlalu dingin.
“Zub, ayo foto,” ajak temanku ketika menhampiriku yang sedang dudk bersama dengan Rizal Said sambil bertukar cerita ditambah dengan leluconnya yang membuat siapa saja pasti akan tertawa. Iis mencondongkan kameranya ke arah kami bertiga untuk diabadikan.
“Buncisssss,” ucap Rizal panjang memberi kode untuk tersenyum pepsodent.
“Lagi?” kata Iis menawarkan. Dan tentu saja dihadiahi anggukan olehku. Siapa yang tidak mau jika di ajak foto gratis.
Setelah selesai berfoto-foto ria, Iis mengambil ponselnya untuk melihat hasil jepretannya beberapa waktu yang lalu. Hasilnya pun tidak terlalu buruk, dengan wajah yang ceria dan latar belakang yang begitu menakjubkan menambah kesan bahagia ke dalam gambar tersebut. Aku hanya mampu tersenyum dan tak mampu untuk berkata-kata lagi bagaimana caranya untuk mengungkapkan rasa bahagia yang terpendam.
Tinggal beberapa hari lagi semua ini akan berakhir, dan kami tentunya akan melanjutkan perjalanan kami dikota dan Negara yang berbeda. Baik itu suasana maupun keadaannya. Tentu saja, hal ini tidak akan pernah kami sia-siakan sehingga kami akan selalu membuat setiap detik yang kami lalui bersama menjadi berharga dan dapat di kenang ketika kami telah meninggalkan sekolah tercinta. Apalagi kalau bukan foto bersama.
“Aku di depan,” celetukku ketika mereka menyusun barisan agar rapi. Dan tentu saja aku mengacaukan susunannya ketika aku mengambil posisi di depan tanpa ada perintah ataupun aba-aba dari mereka.
Kali ini aku berada di depan, karena aku tidak ingin tertutupi oleh mereka-mereka yang badannya jauh lebih besar daripada badanku. Sayangnya, aku bersebelahan dengan orang yang lebih besar sehingga aku terlihat kecil dan sulit untuk di temukan dalam waktu singkat.
Setelah selesai berfoto ria, kapal pun sampai di pelabuhan dan kami pun juga berhamburan menuju tepi kapal untuk segera turun.
Ketika berjalan menuruni kapal, aku sesekali mendengar mereka berbicara seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru dari ibunya.
“Senangnya.”
“Airnya juga sangat jernih, terus bersih.”
“Lihat itu!”
“Wah, ubur-uburnya cantik.”
“Mana-mana?” tanyaku penasaran mendengar mereka berbicara tentang ubur-ubur ketika sampai di pelabuhan tempat kami berhenti. Aku seketika diam ketika melihat ubur-ubur dengan sangat jelas sedang berenang di dalam air yang sangat jernih.
“Itu bisa nyetrum nggak, say?” tanyaku.
“Nggak tahu. Tanya aja sama ubur-uburnya,” jawab Nia.
Eh? Memangnya ubur-ubur bisa jawab kalau ditanya? Pikirku. Dan seketika itu juga aku merasa bodoh ketika disuruh bertanya dengan ubur-ubur. Aku hanya tersenyum dan menghiraukan ucapan Nia tadi kemudian menjauh dari gerombolan tersebut.
Hari telah menunjukkan sore dan kami semua akan segera kembali ke hotel, karena besok adalah hari terakhir kami di Istanbul ini, dan besok kami melakukan persembahan tarian Nusantara sehingga kami semua pulang lebih awal dari biasanya agar dapat melakukan persiapan mala mini sebelum tampil esok hari.
“Seperti biasa anak-anak, handphone kalian harus di kumpul sebelum pukul sepuluh malam nanti,” ucap guru pembimbing kami memperingatkan kami semua untuk disiplin.
Malam pun telah menyapa kami semua, dengan langit yang sangat cerah bertabur bintang-bintang yang tidak terlalu Nampak akibat cahaya jalanan yang begitu terang. Malam terakhir memang terasa begitu panjang untuk dilewatkan. Tidak terasa satu minggu aku lewati disana bersama dengan teman-temanku. Tertawa, bercanda, berbagi cerita terhadap orang lain, bahkan mengambil banyak pembelajaran yang tidak mampu untuk aku tuangkan ke dalam sebuah tulisan singkat ini.
Esok hari adalah hari terakhir ku berada di Turki sebelum kami semua melakukan kegiatan suci di kota yang suci pula. Tak ada sedikitpun kebahagiaan yang terlupakan di benakku. Malam yang selalu digin dengansuu ruangan yang tidak pernah di naikkan oleh teman sekamarku, Yessi.
***
Hari yang berat sekaligus bersejarah bagi kami semua. Hari dimana ditutup dengan berbagai pendidikan moral dan pengetahuan yang sangat luar biasa. Kebersamaan yang telah terjalin antara kami dengan mereka harus terpisahkan oleh jarak dan waktu, akan tetapi aku sangat yakin, jika semua yang telah mereka berikan kepada kami itu adalah sesuatu yang sangat berharga yang tak akan ternilai dengan seberapa lyra yang mereka dan kami punya.
Setiap pertemuan itu pasti aka nada perpisahan, begitu juga dengan apa yang kami rasakan saat ini. Rasa rindu akan kebersamaan itu, beberapa kali air mata menetes, akankah semua ini berakhir? Ya tentu. Tapi itu semua adalah jalan yang harus aku dan teman-temanku tempuh untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.
***
Kamis, 6 April 2017
Waktu satu minggu memang waktu yang sangat singkat jika dilalui secara bersama-sama. Tak aka nada rasanya kekeluargaan jika hanya canda tawa saja yang tercipta tanpa adanya tangisan. Karena sebuah tangisan adalah perekat kekeluargaan kita semua.
Berat hati rasanya melangkah meninggalkan Negara yang penuh kekayaan ini, baik itu secara ilmu pengetahuan umum maupun ilmu agama. Tradisi mereka yang begitu memukau membuat aku dan teman-teman yang lainnya merasa betah berlama-lama. Akan tetapi, kami semua sadar bahwa ini adalah hasil manis yang akan kami peroleh bagi kami kami yang selalu gigih dan bersabar dalam melewati setiap ancaman dan rintangan dalam mencapai harapan dan cita-cita yang mulia.
“Ayolah kawan, jangan sedih. Nanti, kalau ada rezkinya kita pasti bisa kesini lagi,” ucap Nura yang berusaha untuk menghiburku ketika ia melihat air mataku jatuh.
“Iya, Zubai. Jangan sedih, nanti kita ke sini lagi sama-sama,” sambung Anti yang ikut serta menenangkanku.
“Makasih,” ucapku sambil menghapus air mataku dan kemudian tersenyum kepada mereka.
Aku beruntung memiliki kalian, ucapku dalam hati lalu menarik tangan mereka untuk segera menuju bus karena kami akan segera menuju Bandara.
Zubaidah. Take care for this flight. I know you are strong woman and best girl.  I trust you that you can change the world to be better. And that’s all in your hand, I love you, Zu,” ucap salah satu juru jalan kami selama di Turki.
Aku tidak sanggup untuk menahan air mataku lagi, aku menangis dipelukannya karena kalimatnya.
Love you too, Nad,” jawabku sembari melepaskan pelukan kami berdua.
“Ayo, Zubai,” ajak guru laki-laki ku dan aku jawab dengan anggukan.
Sekali lagi aku memeluknya dan mengucapkan kalimat perpisahan yang begitu menyayat hati. Tapi di sisi lain aku yakin bahwa ini semua adalah benar.
See you again, Nad,” ucapku sambil melambaikan tanganku ke arahnya.
See you again, Zu. InsyaAllah,” jawabnya dengan suara bergetar karena kau juga yakin bahwa ia juga sama sepertiku yang berat untuk melepaskan.
Setelah cukup lama kami semua menunggu, akhirnya penerbangan ke Madinah akan segera lepas landas. Aku yang berada dibalik jendela pesawat, masih menatap nanar Negara yang begitu damai dan menenangkan untuk dikunjungi.
“Udahan, Zub. Nanti kesini lagi kalau ada rezkinya,” ucap Nisrina teman yang duduk di sebelahku.
“Insyaallah,” jawabku singkat lalu aku bersender dan memejamkan mataku untuk menenangkan pikiranku.
Turkey, wait for me. Because I will come  here, later. Ucapku dalam hati.
Dan pesawat pun lepas landas meninggalkan Istanbul.
See you, good bye Turkey,” ucap temanku yang berada di sampingku.
***
Begitu berkesan jika diingat, hampir dua tahun yang lalu aku menginjakkan kaki di sana bersama dengan teman-temanku keyika aku menginjak kelas 11 SMA. Dan sekarang aku telah berada di perguruan tinggi untuk melanjutkan belajarku, semua itu tinggallah kenangan manis yang akan selalu aku kenang. Melihat dan menikmati betapa indahnya ciptaan Tuhan yang tersuguhkan untuk manusia-manusianya yang mampu merawat buminya dan berhasil menjaganya.
Istanbul. Kota bersejarah dimana terjadinya penakhlukkan Konstantinopel, kejayaan Islam yang begitu amat besar hingga menguasai hampir sebagian eropa. Megukir cerita terhebat sepanjang sejarah.
Sekarang, aku memang bukan bagian dari sejarah hebat tersebut, tapi aku adalah bagian dari orang-orang yang memiliki niat untuk belajar dari sejarah demi membangun peradaban dunia yang lebih baik lagi. Terima Kasih.


Thank you so much bagi kalian yang udah meluangkan waktunya untuk membaca sekilas cerita yang sangat tidak jelas ini. tapi aku hanya punya harapan agar sekilas cerita tidak jelasku ini dapat memotivasi ataupun menggetarkan kalian semua bahwa hidup itu tidak hanya bahagia, tetapi juga ada berbagai macam rasa di dalamnya yang akan semakin menambah warna dalam kertas lukis kehidupan kalian semua... Mari kita jadikan sejarah pada zaman keemasan menjadi tombak bagi kita semua dalam memperbaiki zaman yang mulai sirna oleh budaya tak beretika...

Jumat, 22 Juni 2018

Cerpen_Kembali Padamu


Hello, balik lagi bersama aku. sebenarnya sih niatnya mau lanjutin cerita, tapi sayang kalau ceritanya dipotong-potong. Kali ini aku menghadirkan cerita tentang sebuah keluarga. Mau tau ceritanya gimana? Yups, langsung saja baca ceritanya di bawah ini.



Kembali Padamu
Bandung, kota metropolitan. Lima tahun yang lalu aku menapakkan kakiku di kota ini. Kota metropolitan yang membawaku lebih jauh melangkah dan membuaka pikiran serta wawasanku.Lima tahun yang lalu aku hidup tidak bermodalkan apa-apa selain pakaian seadanya yang aku bawa. Kehidupan kota yang keras membentuk mentalku untuk tangguh terhadap keadaan kota yang mengenaskan dan menakutkan. Siapa yang lemah maka ia akan kalah.
Masa-masa dimana aku harus merintis semuanya dari awal tanpa bekal apa-apa dari keluargaku bahkan restu dari mereka.Aku kabur dari rumah ketika ayahku memukuliku karena aku pulang pagi dengan wajah yang lebam dan biru. Tapi itu lima tahun yang lalu ketika aku masih belum bisa berpikir secara matang. Sekarang semua telah berubah menjadi indah.
“An, kau jadi pulang hari ini?” tanya Camar dari belakangku.
“Iya, Mar. hari ini aku jadi pulang. Sudah rindu sama kampung halaman,” jawabku dengan sedikit sedih karena harus meninggalkan kota yang telah mendidikku menjadi lebih dewasa.
“Baiklah, An. Jika kau sudah sampai di kampung halamanmu tolonglah kabari aku agar aku tak khawatir dengan kau,” ucap Camar sambil menepuk-nepuk pundakku.
“Pasti, Mar,” balasku sembari menjabat tangannya dan meyakinkannya bahwa kita akan bertemu lagi.
“Hmm, apa kau sudah beri kabar dengan Rasti bahwa kau akan pulang hari ini?” tanyanya membuatku terdiam. Aku melupakan hal itu, tapi aku juga tidak mungkin memberinya kabar saat ini karena itu akan membuat ia merasa tidak nyaman. Nanti sajalah kukabari Rasti ketika sudah sampai di kampung halamanku.
“Belum, ,Mar. nanti tolong sampaikan salamku untuknya,” ucapku meminta kepada Camar dan ia pun setuju.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Pesawat mulai beranjak menjauhi kota metropolitan. Kota yang dulunya menjadi kotaku menginjakkan kaki untuk meniti karier menjadi orang yang sukses dan bergengsi dikalangan menengah atas.
Derap langkah kaki memenuhi bandara. Mataku menyapu sekitar bandara untuk membandingkan dengan lima tahun yang lalu sebelum kutinggalkan kampung halamanku ini untuk mencari jati diri yang sesungguhnya. Tidak ada yang berubah dengan tempat ini, masa sama dengan lima tahun yang lalu. Batinku ikut berbicara.
“Hay, Mir. Lama kali lah aku menunggu kau disini hingga aku tertidur diujung sana,” ucapnya menhampiriku dengan nada yang sangat ekspresif sambil menunjuk ke arah sudut jalan yang terdapat kursi di sana. Aku hanya tertawa kecil ketika mendengarnya mengakui hal itu.
“Apa kau tidak malu, Ko?” tanyaku sedikit mengejeknya.Sekali lagi aku tertawa melihat wajahnya yang memerah karena malu.
“Apalah kau nih, Mir. Oh, ya. Kelihatannya kau begitu gagah sekarang.Sukses kah kau sudah di sana?” tanyanya membuatku tersenyum bangga.
“Alhamdulillah, Ko. Doaku untuk menjadi jurnalis terkenal ternyata didengar oleh sang Kuasa,” jawabku mantap tanpa ada keraguan sedikitpun yang terpancar dariku.
“Aku senang mendengarnya, Mir.” Ucapnya dan kubalas dengan anggukan.
Kami berdua berjalanan secara beriringan menuju mobil yang telah menjemput kami untuk pulang ke rumah –lebih tepatnya rumah Moko, sahabatku sejak kecil.Dalam perjalanan menuju rumahnya aku hanya diam seribu bahasa tanpa mengeluarkan sepatah katapun untuk sekedar memberikan lelucon pembuka pembicaraan.
***
“Bagaimana keadaan ibuku, Ko?” tanyaku membuka pertanyaan untuk mencaitkan suasana setelah aku menginjakkan kaki di rumahnya.
“Masih ingat kau ternyata dengan ibumu, aku pikir kau sudah lupa setelah lima tahun tanpa kabar,” jawabnya dengan suara sedikit sinis.
“Apa maksud kau, Ko?” aku mulai gusar mendengar ucapannya tadi.
“Tidak, aku pikir kau tidak akan menanyakan mereka kembali setelah kau sukses seperti sekarang atas pengorbanan yang telah kau lakukan,” jawabnya.
Aku hanya terdiam mendengan pernyataan yang keluar dari mulutnya.
Setelah makan aku berniat untuk berkunjung ke rumah yang pernah aku tinggalkan secara paksa tanpa sepengetahuan penghuninya.Sebelum itu aku berjalan menusuri rumah Moko yang tidak terlalu besar tetapi asri dan sejuk sehingga aku betah berlama-lama di rumah ini. Kupandangi sebuah kolah kecil yang aku pikir itu adalah kolam ikan yang dipelihara oleh Moko selama ini dari sebuah jendela yang terpasang trails bernuansa klasik.
“Mir, apa kau hari ini akan ke rumah bapak dan ibu kau?” tanyanya dan kujawab dengan anggukkan.
“Apa kau yakin?” tanyanya membuatku penasaran dengan apa yang terjadi.
“Memangnya ada apa denga mereka, apakah ada masalah yang terjadi ketika aku datang ke sana?” tanyaku penasaran. Tapi aku tahu siapa Moko, ia adalah teman yang tidak akan pernah menjadi spoiler bagi siapapun. Ia lebih suka orang lain melihat sendiri apa yang sedang terjadi, bukan karena ia yang memberitahunya.
“Baiklah, aku mengerti,” lanjutku ketika pertanyaanku yang dijawabnya dengan diam.
“Yang sabar, Sobat.Aku harap kau akan menjadi orang yang bijaksana,” ucapnya sebelum meninggalkanku untuk pergi bekerja.
“Aku harap begitu,” jawabku singkat meyakinkannya.
Setelah ia berangkat, aku bersiap-siap untuk berangkat ke rumah bapak dan ibu. Aku sangat merindukan mereka, walaupun terkadang aku juga membenci mereka yang tidak peduli dengan kehidupanku terutama bapak yang selalu marah-marah padaku dan ibu ketika aku pulang pagi dengan keadaan babak belur. Walaupun itu memang salah, tetapi tidak sepantasnya juga ia berlaku seperti itu kepada ibu.
Kugulung lengan bajuku hingga ke siku sambil berjalan dengan mantap menuruni anak tangga yang ada di rumah Moko.Tampan dan gagah.Itulah yang terdapat pada mereka yang baru saja melihatku.Tidak seperti dulu ketika aku masih menjadi anak jalanan yang lusuh seperti tidak berpendidikan.
“Amir?” sapa seseorang yang kulalui dan hanya ku balas dengan senyum bersahabat.
Aku memang tidak mengenalinya, entah karena aku yang terlalu lama meninggalkan tempat ini sehingga aku lupa dengan wajah-wajah mereka sedangkan semakin bertambahnya waktu maka bertembah pula usia den berubah juga kondisi muka.
“Amir, berhenti sebentar. Apa kau mau ke rumah kau?” tanya orang tadi menghentikan langkahku dan reflex membuatku langsung membalikkan badan.
“Jika kau mau ke rumah bapak kau, maka kau salah arah.Bapak kau telah pindah rumah ke sana sekitar dua tahun yang lalu,” ucapnya sambil menunjuk arah yang berlawanan dengan arah yang kutuju tadi.
“Terima kasih,” ucapku ramah kemudian meninggalkannya.
Setelah beberapa kali bertanya dengan orang setempat, akhirnya aku sampai ke tujuanku. Herannya, sebelum aku mendekat ke rumah itu, aku melihat sosok perempuan yang seumuran dengan ibuku berdiri di depan rumah seperti sedang menunggu sesuatu. Aku memundurkan langkahku untuk mengintai apa yang sedang terjadi sebenarnya. Apakah ini ada hubungannya dengan Moko yang menyuruhku untuk bersabar? Aku pun merasa semakin penasaran sekaligus terkejut ketika melihat seorang lelaki berusia lebih tua menghampiri perempuan yang berdiri di depan rumah tadi. Mereka berdua berjalan sambil bergandengan.Siapa orang itu dan mana ibu?
“Hai, nak. Untuk apa kau di situ?” tanya seorang pria yang lebih tua dariku terdengar dari suaranya..
Aku ingin menjawab, tetapi akan tidak sopan jika tidak membalikkan badang menghadap orang itu.
“Andi Amiril?” tanyanya terkejut melihatku.
“Paman Syams?” jawabku tidak kalah terkejut darinya saat ini.
“Hmm, paman aku ing.”
“Nanti saja lah kau bertanyanya. Mari kita ke rumah paman dulu baru kau boleh melanjutkan pertanyaan kau itu,” ucap paman yang memotong ucapanku seolah mnegerti apa yang akan aku tanyakan padanya.
“Baiklah, mari kita bicarakan dalam keadaan yang lebih santai,” ucapku mendukung pernyataannya kemudian berjalan menyusulnya yang telah berjalan mendahuluiku.Aku pun terus saja membuntuti pamanku dari belakang sembari menerka-nerka siapa yang tinggal bersama bapak dan dimana ibu tinggal?
Sesampainya aku di rumah paman, bibiku menyuguhkan beberapa makanan favoritku.
“Bibi, sejak kapan bibi tahu makanan kesukaanku?” tanyaku penasaran karena sebelumnya aku jarang sekali bermalam di rumah pamanku.
“Bibi tahu dari ibu kau yang selalu menceritakan semua tentang kau hingga bibi hafal betul isi ceritanya,” jawab bibi.
Aku semakin tertarik untuk menguak keberadaan ibuku dari bibi.
“Sejak kapan memangnya ibu menceritakanku, bi?” tanyaku.
“Sejak kau pergi dari rumah dan meninggalkan bapak dan ibumu.Ia sangat sering datang ke rumah pamanmu ini sambil membawa makanan kesukaan kau dan memakannya di rumah ini sembari meneteskan air mata, ibumu juga sering bercerita bahwa bapak, aw,” ucap bibi terpotong dan diakhiri dengan pekikakan.
“Bapak kenapa, bi?” tanyaku semakin penasaran.
Bibi terlihat berpikir sebentar kemudian kembali bersuara dengan sedikit berbeda dari tadi.Nampak sedikit kejanggalan dari bibi dan pamanku yang mereka sembunyikan dariku.
“Bapak,” diam sejenak, “Bapakmu tidak apa-apa, sekarang ia telah menjadi orang sukses di usianya yang sudah beranjak menua,” lanjut bibi diiringi dengan senyuman terpaksa.
Jika bibi dan pamanku tidak ingin memberitahuku masalah ibu dan bapak, maka aku akan mencari tahunya sendiri.
Malam ini kuputuskan untuk mendatangi rumah yang ditempati oleh bapak dan wanita itu. Tanpa sepengetahuan paman dan bibiku aku pergi sendirian ke rumah tersebut dengan alasan bersilaturahmi.
Aku mengetuk pintu rumahnya, “Permisi,” ucapku santai.
Ceklek. Suara pintu dibuka dan muncullah sosok wanita yang aku lihat kemarin.
“Iya, apa ada yang bisa dibantu, mas?” tanyanya saat membuka pintu.
“Apa ini betul rumahnya Bapak Hadi Suroso?” tanyaku.
“Benar, memangnya ada keperluan apa ya?” tanyanya kembali kepadaku dengan wajah penasaran.
“Saya anaknya, bisakah saya bertemu dengan bapak saya?” ucapku santai tetapi lain halnya dengan wanita itu yang menampakkan wajah terkejutnya hingga aku dapat melihat dengan jelas bahwa nafasnya tercekat seolah-olah tidak tahu apa-apa.
“Oh, bapaknya ada di dalam. Silakan masuk,” ucapnya mempersilakanku masuk.
Setelah mendapatkan izin dari wanita tersebut, aku langsung masuk menemui bapakku.
“Untuk apa kau ke sini, masih ingat ternyata denganku?” tukasnya tanpa melirik ke arahku sedikitpun.
“Aku tidak mencarimu, aku hanya mencari ibuku. Dimana kau sembunyikan ibuku?” tanyaku.
“Setelah lima tahun lamanya kau meninggalkannya, kau masih ingat dengannya. Aku pikir kau akan lupa dengannya?” jawabnya datar tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun.
“Tak ada gunanya aku berdebat dengan kau. Kau tak pernah berubah rupanya.”
“Sombong sekali kau sekarang. Hai anak muda yang tidak tau diri, ibukau sudah musnah dari permukaan bumi ini. Untuk apa kau mencarinya, lebih baik kau pulang saja ke tempat kau bis senang karena aku juga tidak membutuhkan kau disini.”
Tanpa pikir panjang, aku langsung melangkahkan kakiku untuk pulang. Tak sudi lagi aku bertemu dengan orang tua yang tidak pernah menganggap keberadaan anaknya, bahkan ketika anaknya telah sukses seperti sekarang ini. Anehnya, saat aku melangkahkan kakiku keluar rumah, aku mendengar ada suara teriakan seorang wanita dengan suara parau dan tidak berdaya. Berteriak-teriak layaknya orang gila yang sedang dipasung. Samar-samar aku mendengar teriakannya meminta tolong.
Setelah aku jauh dari rumah itu aku berhenti dan berputar arah untuk kembali ke rumah tersebut. Tetapi dengan jalur yang berbeda. Kucari celah dimana aku dapat masuk ke dalam sana tanpa ketahuan oleh seorang pun. Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu yang pernah dilakukan jika aku ingin kabur dari rumah yaitu melalui atap rumah, maka aku akan melakukan hal itu kembali agar aku dapat masuk ke dalam rumah. Kucari tempat yang dapat aku naiki untuk masuk. Setelah aku dapat naik ke atas, akupun langsung mencari sumber suara yang aku dengar. Semakin dekat semakin jelas suara tersebut hingga aku sampai di tempat dimana aku dapat medengar suara itu semakin jelas. Kucari lubang yang terdpat disitu dan kulihat siapa yang ada disana.
“Ibu?” pekikku ketika aku melihat ibuku dalam keadaan di rantai.
Aku segera mencari jalan untukku turun ke sana dan menyelamatkan ibuku dari tempat ini. Berhasil. Batinku ketika aku dapat turun tepat dibelakangnya.
“Ibu,” ucapku dengan penuh penyesalan telah meninggalka ibuku tanpa peduli dengan keadaanya selama ini bahkan tidak pernah sedikitpun aku memikirkannya akibat egoku yang begitu besar. Kubopong ibuku untuk keluar dari tempat menyedihkn ini. Sial.  Aku menjatuhkan balok yang ada disampingku sehingga terdengar sampai keluar. Tidak lama kemudian, kudengar suara derap kaki menuju ruangan yang sekarang aku tempati.
Ceklek. Pintu terbuka dan menampakkan sosok pria yang sangat kukenal. Siapa lagi jika bukan bapakku sendiri beserta para pengawalnya.
“Lancang kau memasuki rumahku tanpa izin, tangkap dia!” ucap bapak sembari memerintahkan kedua anak buahnya. Tetapi, langkah mereka terhenti ketika terdengar suara sirine mobil polisi.
“Silakan saja kalau kau berani, aku tidak takut!” ucapku sombong.
“Anak durhaka kau!” ucap bapak sembari melayangkan balok yang sudah ada ditangannya entah sejak kapan.
Sebelum ia sempat melayangkan balok itu ketubuhku, polisi lebih dahulu menyergapnya beserta anak buahnya. Kemudian polisi membawanya kepada pihak berwajib.
“Andi, apakah ini kau nak?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
“Iya, bu. Maafkan aku yang telah meninggalkanmu,” ucapku sambil bersujud kepadanya meminta maaf.
“Sudahlah, ibu telah memaafkanmu.”
“Terima kasih, Bu.”

END 
Ceritanya udah selesai. sebenarnya cerita itu sama halnya dengan puisi yang Revolusi Diri, bukan maknanya. Tetapi cerita ini adalah cerita yang pernah aku ikutkan lomba, sayangnya nasibnya malang sehingga belum memiliki kesempatan untuk diterbitkan. Oleh sebab itu, aku berniat untuk menerbitkannya sendiri melalui blog ini. Aku harap setelah membaca cerita ini,ada nilai moral yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin. :):):)

Puisi_Cahaya Jiwa

  Cahaya Jiwa Halloooooo... Balik lagi bersama aku yang senang menabung dan baik hati ini. Kali ini aku akan berbagi mengenai sebuah puisi p...