Hello, balik lagi bersama aku. sebenarnya sih niatnya mau lanjutin cerita, tapi sayang kalau ceritanya dipotong-potong. Kali ini aku menghadirkan cerita tentang sebuah keluarga. Mau tau ceritanya gimana? Yups, langsung saja baca ceritanya di bawah ini.
Kembali Padamu
Bandung,
kota metropolitan. Lima tahun yang
lalu aku menapakkan kakiku di kota ini. Kota metropolitan yang membawaku lebih
jauh melangkah dan membuaka pikiran serta wawasanku.Lima tahun yang lalu aku
hidup tidak bermodalkan apa-apa selain pakaian seadanya yang aku bawa.
Kehidupan kota yang keras membentuk mentalku untuk tangguh terhadap keadaan
kota yang mengenaskan dan menakutkan. Siapa yang lemah maka ia akan kalah.
Masa-masa dimana
aku harus merintis semuanya dari awal tanpa bekal apa-apa dari keluargaku
bahkan restu dari mereka.Aku kabur dari rumah ketika ayahku memukuliku karena
aku pulang pagi dengan wajah yang lebam dan biru. Tapi itu lima tahun yang lalu
ketika aku masih belum bisa berpikir secara matang. Sekarang semua telah
berubah menjadi indah.
“An, kau jadi
pulang hari ini?” tanya Camar dari belakangku.
“Iya, Mar. hari
ini aku jadi pulang. Sudah rindu sama kampung halaman,” jawabku dengan sedikit
sedih karena harus meninggalkan kota yang telah mendidikku menjadi lebih
dewasa.
“Baiklah, An.
Jika kau sudah sampai di kampung halamanmu tolonglah kabari aku agar aku tak
khawatir dengan kau,” ucap Camar sambil menepuk-nepuk pundakku.
“Pasti, Mar,”
balasku sembari menjabat tangannya dan meyakinkannya bahwa kita akan bertemu
lagi.
“Hmm, apa kau
sudah beri kabar dengan Rasti bahwa kau akan pulang hari ini?” tanyanya
membuatku terdiam. Aku melupakan hal itu, tapi aku juga tidak mungkin
memberinya kabar saat ini karena itu akan membuat ia merasa tidak nyaman. Nanti
sajalah kukabari Rasti ketika sudah sampai di kampung halamanku.
“Belum, ,Mar.
nanti tolong sampaikan salamku untuknya,” ucapku meminta kepada Camar dan ia
pun setuju.
Tidak terasa
waktu berlalu begitu cepat. Pesawat mulai beranjak menjauhi kota metropolitan.
Kota yang dulunya menjadi kotaku menginjakkan kaki untuk meniti karier menjadi orang
yang sukses dan bergengsi dikalangan menengah atas.
Derap langkah
kaki memenuhi bandara. Mataku menyapu sekitar bandara untuk membandingkan
dengan lima tahun yang lalu sebelum kutinggalkan kampung halamanku ini untuk
mencari jati diri yang sesungguhnya. Tidak ada yang berubah dengan tempat
ini, masa sama dengan lima tahun yang lalu. Batinku ikut berbicara.
“Hay, Mir. Lama
kali lah aku menunggu kau disini hingga aku tertidur diujung sana,” ucapnya
menhampiriku dengan nada yang sangat ekspresif sambil menunjuk ke arah sudut
jalan yang terdapat kursi di sana. Aku hanya tertawa kecil ketika mendengarnya
mengakui hal itu.
“Apa kau tidak
malu, Ko?” tanyaku sedikit mengejeknya.Sekali lagi aku tertawa melihat wajahnya
yang memerah karena malu.
“Apalah kau
nih, Mir. Oh, ya. Kelihatannya kau begitu gagah sekarang.Sukses kah kau sudah
di sana?” tanyanya membuatku tersenyum bangga.
“Alhamdulillah,
Ko. Doaku untuk menjadi jurnalis terkenal ternyata didengar oleh sang Kuasa,”
jawabku mantap tanpa ada keraguan sedikitpun yang terpancar dariku.
“Aku senang
mendengarnya, Mir.” Ucapnya dan kubalas dengan anggukan.
Kami berdua
berjalanan secara beriringan menuju mobil yang telah menjemput kami untuk
pulang ke rumah –lebih tepatnya rumah Moko, sahabatku sejak kecil.Dalam
perjalanan menuju rumahnya aku hanya diam seribu bahasa tanpa mengeluarkan
sepatah katapun untuk sekedar memberikan lelucon pembuka pembicaraan.
***
“Bagaimana
keadaan ibuku, Ko?” tanyaku membuka pertanyaan untuk mencaitkan suasana setelah
aku menginjakkan kaki di rumahnya.
“Masih ingat
kau ternyata dengan ibumu, aku pikir kau sudah lupa setelah lima tahun tanpa
kabar,” jawabnya dengan suara sedikit sinis.
“Apa maksud
kau, Ko?” aku mulai gusar mendengar ucapannya tadi.
“Tidak, aku
pikir kau tidak akan menanyakan mereka kembali setelah kau sukses seperti
sekarang atas pengorbanan yang telah kau lakukan,” jawabnya.
Aku hanya
terdiam mendengan pernyataan yang keluar dari mulutnya.
Setelah makan
aku berniat untuk berkunjung ke rumah yang pernah aku tinggalkan secara paksa
tanpa sepengetahuan penghuninya.Sebelum itu aku berjalan menusuri rumah Moko
yang tidak terlalu besar tetapi asri dan sejuk sehingga aku betah berlama-lama
di rumah ini. Kupandangi sebuah kolah kecil yang aku pikir itu adalah kolam
ikan yang dipelihara oleh Moko selama ini dari sebuah jendela yang terpasang
trails bernuansa klasik.
“Mir, apa kau
hari ini akan ke rumah bapak dan ibu kau?” tanyanya dan kujawab dengan anggukkan.
“Apa kau
yakin?” tanyanya membuatku penasaran dengan apa yang terjadi.
“Memangnya ada
apa denga mereka, apakah ada masalah yang terjadi ketika aku datang ke sana?”
tanyaku penasaran. Tapi aku tahu siapa Moko, ia adalah teman yang tidak akan
pernah menjadi spoiler bagi siapapun. Ia lebih suka orang lain melihat
sendiri apa yang sedang terjadi, bukan karena ia yang memberitahunya.
“Baiklah, aku
mengerti,” lanjutku ketika pertanyaanku yang dijawabnya dengan diam.
“Yang sabar,
Sobat.Aku harap kau akan menjadi orang yang bijaksana,” ucapnya sebelum
meninggalkanku untuk pergi bekerja.
“Aku harap
begitu,” jawabku singkat meyakinkannya.
Setelah ia
berangkat, aku bersiap-siap untuk berangkat ke rumah bapak dan ibu. Aku sangat
merindukan mereka, walaupun terkadang aku juga membenci mereka yang tidak
peduli dengan kehidupanku terutama bapak yang selalu marah-marah padaku dan ibu
ketika aku pulang pagi dengan keadaan babak belur. Walaupun itu memang salah,
tetapi tidak sepantasnya juga ia berlaku seperti itu kepada ibu.
Kugulung lengan
bajuku hingga ke siku sambil berjalan dengan mantap menuruni anak tangga yang
ada di rumah Moko.Tampan dan gagah.Itulah yang terdapat pada mereka yang baru
saja melihatku.Tidak seperti dulu ketika aku masih menjadi anak jalanan yang
lusuh seperti tidak berpendidikan.
“Amir?” sapa
seseorang yang kulalui dan hanya ku balas dengan senyum bersahabat.
Aku memang
tidak mengenalinya, entah karena aku yang terlalu lama meninggalkan tempat ini
sehingga aku lupa dengan wajah-wajah mereka sedangkan semakin bertambahnya
waktu maka bertembah pula usia den berubah juga kondisi muka.
“Amir, berhenti
sebentar. Apa kau mau ke rumah kau?” tanya orang tadi menghentikan langkahku
dan reflex membuatku langsung membalikkan badan.
“Jika kau mau
ke rumah bapak kau, maka kau salah arah.Bapak kau telah pindah rumah ke sana
sekitar dua tahun yang lalu,” ucapnya sambil menunjuk arah yang berlawanan
dengan arah yang kutuju tadi.
“Terima kasih,”
ucapku ramah kemudian meninggalkannya.
Setelah
beberapa kali bertanya dengan orang setempat, akhirnya aku sampai ke tujuanku.
Herannya, sebelum aku mendekat ke rumah itu, aku melihat sosok perempuan yang
seumuran dengan ibuku berdiri di depan rumah seperti sedang menunggu sesuatu.
Aku memundurkan langkahku untuk mengintai apa yang sedang terjadi sebenarnya. Apakah
ini ada hubungannya dengan Moko yang menyuruhku untuk bersabar? Aku pun
merasa semakin penasaran sekaligus terkejut ketika melihat seorang lelaki
berusia lebih tua menghampiri perempuan yang berdiri di depan rumah tadi.
Mereka berdua berjalan sambil bergandengan.Siapa orang itu dan mana ibu?
“Hai, nak.
Untuk apa kau di situ?” tanya seorang pria yang lebih tua dariku terdengar dari
suaranya..
Aku ingin
menjawab, tetapi akan tidak sopan jika tidak membalikkan badang menghadap orang
itu.
“Andi Amiril?”
tanyanya terkejut melihatku.
“Paman Syams?”
jawabku tidak kalah terkejut darinya saat ini.
“Hmm, paman aku
ing.”
“Nanti saja lah
kau bertanyanya. Mari kita ke rumah paman dulu baru kau boleh melanjutkan
pertanyaan kau itu,” ucap paman yang memotong ucapanku seolah mnegerti apa yang
akan aku tanyakan padanya.
“Baiklah, mari
kita bicarakan dalam keadaan yang lebih santai,” ucapku mendukung pernyataannya
kemudian berjalan menyusulnya yang telah berjalan mendahuluiku.Aku pun terus
saja membuntuti pamanku dari belakang sembari menerka-nerka siapa yang tinggal
bersama bapak dan dimana ibu tinggal?
Sesampainya aku
di rumah paman, bibiku menyuguhkan beberapa makanan favoritku.
“Bibi, sejak kapan
bibi tahu makanan kesukaanku?” tanyaku penasaran karena sebelumnya aku jarang
sekali bermalam di rumah pamanku.
“Bibi tahu dari
ibu kau yang selalu menceritakan semua tentang kau hingga bibi hafal betul isi
ceritanya,” jawab bibi.
Aku semakin
tertarik untuk menguak keberadaan ibuku dari bibi.
“Sejak kapan
memangnya ibu menceritakanku, bi?” tanyaku.
“Sejak kau
pergi dari rumah dan meninggalkan bapak dan ibumu.Ia sangat sering datang ke
rumah pamanmu ini sambil membawa makanan kesukaan kau dan memakannya di rumah
ini sembari meneteskan air mata, ibumu juga sering bercerita bahwa bapak, aw,”
ucap bibi terpotong dan diakhiri dengan pekikakan.
“Bapak kenapa,
bi?” tanyaku semakin penasaran.
Bibi terlihat
berpikir sebentar kemudian kembali bersuara dengan sedikit berbeda dari
tadi.Nampak sedikit kejanggalan dari bibi dan pamanku yang mereka sembunyikan
dariku.
“Bapak,” diam
sejenak, “Bapakmu tidak apa-apa, sekarang ia telah menjadi orang sukses di
usianya yang sudah beranjak menua,” lanjut bibi diiringi dengan senyuman
terpaksa.
Jika
bibi dan pamanku tidak ingin memberitahuku masalah ibu dan bapak, maka aku akan
mencari tahunya sendiri.
Malam ini
kuputuskan untuk mendatangi rumah yang ditempati oleh bapak dan wanita itu. Tanpa sepengetahuan paman dan bibiku aku pergi
sendirian ke rumah tersebut dengan alasan bersilaturahmi.
Aku mengetuk pintu rumahnya, “Permisi,” ucapku santai.
Ceklek. Suara pintu dibuka dan muncullah sosok wanita yang aku
lihat kemarin.
“Iya, apa ada yang bisa dibantu, mas?” tanyanya saat
membuka pintu.
“Apa ini betul rumahnya Bapak Hadi Suroso?” tanyaku.
“Benar, memangnya ada keperluan apa ya?” tanyanya kembali
kepadaku dengan wajah penasaran.
“Saya anaknya, bisakah saya bertemu dengan bapak saya?”
ucapku santai tetapi lain halnya dengan wanita itu yang menampakkan wajah
terkejutnya hingga aku dapat melihat dengan jelas bahwa nafasnya tercekat
seolah-olah tidak tahu apa-apa.
“Oh, bapaknya ada di dalam. Silakan masuk,” ucapnya
mempersilakanku masuk.
Setelah mendapatkan izin dari wanita tersebut, aku
langsung masuk menemui bapakku.
“Untuk apa kau ke sini, masih ingat ternyata denganku?”
tukasnya tanpa melirik ke arahku sedikitpun.
“Aku tidak mencarimu, aku hanya mencari ibuku. Dimana kau
sembunyikan ibuku?” tanyaku.
“Setelah lima tahun lamanya kau meninggalkannya, kau
masih ingat dengannya. Aku pikir kau akan lupa dengannya?” jawabnya datar tanpa
menolehkan kepalanya sedikitpun.
“Tak ada gunanya aku berdebat dengan kau. Kau tak pernah
berubah rupanya.”
“Sombong sekali kau sekarang. Hai anak muda yang tidak
tau diri, ibukau sudah musnah dari permukaan bumi ini. Untuk apa kau
mencarinya, lebih baik kau pulang saja ke tempat kau bis senang karena aku juga
tidak membutuhkan kau disini.”
Tanpa pikir panjang, aku langsung melangkahkan kakiku
untuk pulang. Tak sudi lagi aku bertemu dengan orang tua yang tidak pernah
menganggap keberadaan anaknya, bahkan ketika anaknya telah sukses seperti
sekarang ini. Anehnya, saat aku melangkahkan kakiku keluar rumah, aku mendengar
ada suara teriakan seorang wanita dengan suara parau dan tidak berdaya.
Berteriak-teriak layaknya orang gila yang sedang dipasung. Samar-samar aku
mendengar teriakannya meminta tolong.
Setelah aku jauh dari rumah itu aku berhenti dan berputar
arah untuk kembali ke rumah tersebut. Tetapi dengan jalur yang berbeda. Kucari
celah dimana aku dapat masuk ke dalam sana tanpa ketahuan oleh seorang pun.
Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu yang pernah dilakukan jika aku ingin kabur
dari rumah yaitu melalui atap rumah, maka aku akan melakukan hal itu kembali
agar aku dapat masuk ke dalam rumah. Kucari tempat yang dapat aku naiki untuk
masuk. Setelah aku dapat naik ke atas, akupun langsung mencari sumber suara
yang aku dengar. Semakin dekat semakin jelas suara tersebut hingga aku sampai
di tempat dimana aku dapat medengar suara itu semakin jelas. Kucari lubang yang
terdpat disitu dan kulihat siapa yang ada disana.
“Ibu?” pekikku ketika aku melihat ibuku dalam keadaan di
rantai.
Aku segera mencari jalan untukku turun ke sana dan
menyelamatkan ibuku dari tempat ini. Berhasil. Batinku ketika aku dapat
turun tepat dibelakangnya.
“Ibu,” ucapku dengan penuh penyesalan telah meninggalka
ibuku tanpa peduli dengan keadaanya selama ini bahkan tidak pernah sedikitpun
aku memikirkannya akibat egoku yang begitu besar. Kubopong ibuku untuk keluar
dari tempat menyedihkn ini. Sial. Aku menjatuhkan balok yang ada disampingku
sehingga terdengar sampai keluar. Tidak lama kemudian, kudengar suara derap
kaki menuju ruangan yang sekarang aku tempati.
Ceklek. Pintu terbuka dan menampakkan sosok pria yang
sangat kukenal. Siapa lagi jika bukan bapakku sendiri beserta para pengawalnya.
“Lancang kau memasuki rumahku tanpa izin, tangkap dia!”
ucap bapak sembari memerintahkan kedua anak buahnya. Tetapi, langkah mereka
terhenti ketika terdengar suara sirine mobil polisi.
“Silakan saja kalau kau berani, aku tidak takut!” ucapku
sombong.
“Anak durhaka kau!” ucap bapak sembari melayangkan balok
yang sudah ada ditangannya entah sejak kapan.
Sebelum ia sempat melayangkan balok itu ketubuhku, polisi
lebih dahulu menyergapnya beserta anak buahnya. Kemudian polisi membawanya
kepada pihak berwajib.
“Andi, apakah ini kau nak?” tanyanya dengan mata
berkaca-kaca.
“Iya, bu. Maafkan aku yang telah meninggalkanmu,” ucapku
sambil bersujud kepadanya meminta maaf.
“Sudahlah, ibu telah memaafkanmu.”
“Terima kasih, Bu.”
END
Ceritanya udah selesai. sebenarnya cerita itu sama halnya dengan puisi yang Revolusi Diri, bukan maknanya. Tetapi cerita ini adalah cerita yang pernah aku ikutkan lomba, sayangnya nasibnya malang sehingga belum memiliki kesempatan untuk diterbitkan. Oleh sebab itu, aku berniat untuk menerbitkannya sendiri melalui blog ini. Aku harap setelah membaca cerita ini,ada nilai moral yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin. :):):)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar