Sabtu, 10 Juni 2017

essay_perjalanan

terkadang setiap perjalanan itu memiliki makna penting. tapi... yang dimaksudkan di sini itu bukan perjalanan atau traveling ketempat yang unik dan menarik, tetapi merupakan perjalanan singkat mengenai perjuangan hidup ku....
===>check it out<===



Pada hari senin, 9 Agustus 1999 dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di sebuah desa nan jauh dari peradaban modernisasi kota serta jauh dari jangkauan arus perkembangan tekhnologi komunikasi dan informasi, dilahirkanlah saya atas nama Siti Zubaidah sebagai anak bungsu dari pasangan suami isteri yang bekerja sebagai petani dan telah memasuki usia yang bisa dibilang cukup tua untuk memiliki seorang bayi lagi akan tetapi tetap kuat dan gigih.
 Dengan perekonomian dibawah rata-rata saya tumbuh menjadi anak yang aktif, ceria, serta kreatif dalam bermain dengan teman-teman sebaya, tak pernah perekonomian keluargaku itu menjadi kendala dalam kehidupan saya maupun menjadi permasalahan yang serius bagi keluarga saya. Selama masih ada senda gurau serta kebahagiaan didalamnya maka kebahagiaan itu tak akan pernah terkalahkan oleh apapun, sekalipun hal itu menyangkut perekonomian keluarga.
Tak lama setelah saya dilahirkan, keluarga saya memilih untuk meninggalkan kampung halaman saya menuju tempat tinggal yang lebih dekat dengan pinggiran kota yaitu di sebuah desa yang mendapatkan arus perkembangan tekhnologi dan ilmu pendidikan dengan  lebih mudah dari tempat tinggal sebelumnya. Hal itu mereka lakukan agar saya tidak seperti mereka yang mana telah mendapatkan pendidikan tetapi kurang layak untuk disebut sebagai pendidikan karena tidak mencapai tingkat akhir dari jenjang pendidikan bahkan di tingkat Sekolah Dasar sederajat pun tidak sampai mengikuti ujian atau bisa dibilang berhenti ditengah jalan saat ekonomi tak mampu lagi berbicara. Maka dari itu, mereka  menginginkan saya untuk tumbuh menjadi anak yang berpendidikan tinggi, berpengetahuan serta berpandangan luas dan terampil dalam mengikuti perkembangan maupun menggunakan tekhnologi super canggih untuk menjalani arus perkembangan globalisasi yang sangat cepat memengaruhi berkembangnya pola pikir dan perilaku anak. Orang tua saya juga tidak ingin saya sama nasibnya seperti saudara-saudara saya yang  telah putus sekolah ditengah jalan dan tak sempat mengenyam manisnya persaingan dalam dunia pendidikan ketika kedua orang tua saya tak mampu lagi membayar ongkos sekolah mereka.
Kini saya telah melalui tahap-tahap pendidikan di sekolah negeri selama 9 tahun dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama secara gratis. Tanpa  dipungut biaya bulanan dari pihak sekolah, tidak seperti sekolah-sekolah negeri yang ada di kota Banjarmasin yang selalu meminta uang bayaran sekolah. Hal ini merupakan sesuatu yang patut untuk selalu saya syukuri karena dapat meringankan beban orang tua saya. Walaupun gratis, pastinya setiap orang yang bersekolah tetap saja mengeluarkan biaya untuk memenuhi kebutuhan selama bersekolah seperti uang saku dan untuk membeli keperluan belajar seperti buku LKS, buku tulis, pulpen, penggaris, dan sebagainya yang mendukung kegiatan belajar saya selama dalam proses belajar baik disekolah maupun diluar sekolah.
Saya selalu berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan itu dengan cara memanfaatkan otak kreatif saya yang terkadang muncul tiba-tiba. Melalui otak kreatif itulah saya dapat membuat benda hasil olahan tangan dari tangan sendiri atau bahasa kerennya itu biasa disebut  Hand Made. Hal itu selalu saya lakukan ketika keuangan keluarga saya sedang menipis dan saya harus meringankannya, yaitu dengan cara menjual hasil Hand Made  yang telah saya buat dari barang bekas menjadi barang layak guna serta layak pakai. Dari situlah berawalnya karir saya sebagai pengrajin barang bekas layak pakai serta mampu memberikan sedikit penghasilan. Uang hasil penjualan itu saya gunakan untuk membeli perlengkapan sekolah yang telah habis terpakai atau saya gunakan untuk membeli sembako yang telah habis di dapur. Akan tetapi, ketika uang itu masih berlebihan maka saya akan menyimpannya sebagai tabungan untuk melanjutkan pendidikan di masa depan.
Bukan hanya sebagai orang yang kreatif dalam mencari pendapatan melalui Hand Made  tetapi saya juga sebagai orang yang aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan sekolah mulai dari kegiatan intrakurikuler  maupun ekstrakurikuler. Sehingga banyak sekali waktu istirahat saya yang terpotong oleh waktu belajar malam, sebab saya tak memiliki waktu siang untuk belajar. Semua waktu siang saya habiskan dengan mengikuti berbagai macam kegiatan sekolah di luar jam sekolah, seperti ekskul basket, paskibra, bahkan pramuka. Itu semua saya lakukan untuk mengisi hari-hari saya, bukan hanya dengan belajar melalui buku tetapi juga belajar melalui lingkungan dan kegiatan yang berada di dalamnya. Tak heran jika saya banyak memiliki teman dari jauh karena ketika ada kegiatan besar saya selalu menambah teman baru. Itulah kehidupan saya ketika masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. Beranjak dari semua kegiatan itu, ketika saya telah memasuki hari-hari terakhir memakai seragam Putih Biru, terpikirlah saya untuk melanjutkan sekolah kejenjang berikutnya.
Saya sadar bahwa saya sedang berada dalam perekonomian yang bisa dibilang pas-pasan bahkan kurang. Akan tetapi saya tak pernah bosan ataupun berhenti untuk berusaha agar mendapatkan jalan keluar menempuh dunia pendidikan selanjutnya. Untuk itu, saya belajar lebih tekun lagi dari sebelumnya dan berdoa didalam setiap shalat yang saya laksanakan bahkan disetiap langkah saya, meminta untuk diberikan petunjuk agar dapat melanjutkan pendidikan kejenjang berikutnya. Hingga akhirnya Allah SWT menjawab semua doa yang saya panjatkan di setiap shalat didalam keheningan malam. Rupanya Allah SWT memberikan jalan kepada saya melalui guru sekolah saya dengan cara menawarkan program Beasiswa untuk saya dapat belajar di sebuah sekolah swasta yang mana menurutku sangat mewah dan diinginkan oleh semua orang tua  yang ada ditempatku. Pada awalnya Aku ragu untuk menerima tawaran itu karena Aku tau bahwa untuk mendapatkan kesempatan bersekolah disitu tak semudah masuk sekolah negeri, yang biasanya hanya dengan bermodalkan nilai raport serta surat tanda kelulusan (SKHU). Lain halnya dengan sekolah itu, saya yang harus mengikuti beberapa tahapan seleksi untuk dapat diterima bersekolah di situ dan itupun juga harus menunggu lama untuk mengetahui hasil seleksi tersebut. Akan tetapi semua orang mendukung saya, meyakinkan saya untuk  mengikuti seleksi Penerimaan Siswa Baru Program Beasiswa, mereka yakin bahwa saya mampu dan bisa melewati semua tahapan seleksi itu. Ketika itulah saya mau menerima tawaran yang diberikan kepada saya. Akan tetapi, Allah SWT Maha Adil lagi Bijaksana yang mana telah memberikan rencana terbaik-Nya untuk kita semua, sehingga semua harapan dan keyakinan itu terjawab dengan hasil yang membanggakan. Saya lulus seleksi Beasiswa Penuh atau gratis 100% tanpa ada melakukan pembayaran sedikitpun dikemudian hari. ALHAMDULULLAH.
Saat ini saya masih bersekolah di sekolah mewah itu dan satu tahun lagi saya akan meninggalkan sekolah itu untuk menggapai cita-cita saya menjadi seorang pendidik yang berwawasan luas dan berakhlak. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan di sekolah itu. Semenjak saya menginjakkan kaki hingga saat ini saya berpijak. Begitu banyak pelajaran yang dapat diambil dari setiap kejadian-kejadian. Dan setiap hari itu tidak hanya satu pelajaran dan satu kejadian, akan tetapi terdapat banyak hal yang dapat diambil pelajaran.
Suatu hari didalam sebuah kelas, saya dan teman-teman saya yang lain ditanya: “ apa cita-cita kalian ketika sudah lulus dari sekolah ini, akan menjadi apa kalian nantinya?”. Bukan menyangkal, tapi ini adalah kenyataan ketika saya merasa bahwa sayalah manusia paling bodoh di muka bumi yang hanya memiliki cita-cita sebagai seorang pengajar. Lain halnya dengan semua teman-teman saya yang kebanyakan dari mereka ingin sekali menjadi dokter, baik menjadi dokter gigi, dokter bedah, dokter kulit, dokter kecantikan dan sebagainya. Ketika itu kami semua ditanya kembali “mengapa kalian memilih profesi itu?”. Lalu satu persatu menjawab yang  pada intinya jawaban mereka mengarah kepada satu jawaban yaitu “alasan saya tidak muluk-muluk karena dengan profesi seorang dokter akan memberikan saya penghasilan yang cukup untuk mencukupi hidup saya.” Ya, seperti yang saya ketahui bahwa menjadi seorang dokter memang akan mendapatkan bayaran yang mahal, tetapi salahkah jika saya hanya ingin menjadi seorang pendidik?. Ketika saya ditanya alasan saya mengapa ingin menjadi seorang pengajar yang hanya memiliki gaji sangat sedikit dan bahkan tidak cukup. Saya terhenyak dan terdiam tak bisa menjawab, menetes air mata saya dan saya coba untuk menjawab “Saya ingin menjadi pengajar karena saya ingin mengabdi kepada masyarakat.” Saya tau bahwa tindakan mengabdi itu bukan hanya menjadi pengajar bahkan dokter pun juga mengabdi untuk masyarakat. Akan tetapi mengabdi yang saya inginkan adalah kembali menyalurkan ilmu-ilmu yang telah diberikan untuk saya, saya berikan lagi kepada orang lain agar ilmu itu selalu bermanfaat  dan terus mengalir semakin luas ketika ilmu itu terus dibagikan.
Menjadi seorang pengajar memang tidak memberikan saya banyak uang. Ya, memang bukan itu tujuan dari cita-cita saya. Saya memilih cita-cita menjadi pengajar agar saya dapat membagikan semua ilmu yang saya miliki kepada orang-orang yang membutuhkannya. Bahkan saya tak peduli masalah uang yang dihasilkan, karena bagi saya kecerdasan karakter itu lebih utama daripada uang. Saya tidak ingin orang lain mengalami hal seperti saya yang dilahirkan dari keluarga yang tak berpendidikan, tetapi saya bangga kepada mereka. Saya bangga atas kegigihan mereka dalam mengajari saya betapa pentingnya ketulusan didalam hidup. Saya tahu bahwa menjadi seorang pengajar itu bukanlah profesi yang hebat, tapi dimata saya semua itu akan menjadi hebat ketika saya mampu melahirkan generasi muda dari rakyat kecil tetapi memiliki kemampuan yang luar biasa.
Terinspirasi dari kata-kata Ir. Soekarno “bermimpilah kalian setinggi angkasa, ketika kalian terjatuh maka terjatuhlah diantara bintang-bintang.”
Bukankah itu adalah hal yang sangat indah yang dapat memberikan motivasi kepada saya untuk bercita-cita hebat, yaitu menjadi seorang pengajar yang mampu menciptakan karakter cerdas dan mampu memberikan konstribusi tinggi terhadap dunia. Mengubah segala sesuatu itu tidaklah mudah, seperti halnya saat ini, banyak sekali rintangan dan tantangan yang harus dihadapi agar saya tetap berada di puncak gunung yang tinggi dengan tangan seperti mencengkram dunia seolah-olah masa depan ada digenggaman saya. Itulah yang saya lakukan untuk memberi dorongan kepada hati ketika mulai ragu. Bahkan ketika saya merasa ragu dengan teman saya itu. Akan tetapi ada sebuah kata-kata yang mampu membuat saya bangkit kembali ketika telah terpuruk oleh desakan teman yang memojokkan, dan mencemooh saya dan cita-cita besar saya. Saya menemukan kata-kata yang mampu membuat saya kembali bangkit dan membuktikan bahwa saya akan berhasil dan mereka akan tahu siapa saya.
“Ketika kamu berhasil, maka teman-temanmu akan tahu siapa kamu dan ketika kamu gagal, akhirnya kamu tahu siapa sesungguhnya teman-temanmu” (Aristoteles)


Semoga ini semua dapat bermanfaat, karena sebuah cita-cita besar tak akan pernah bermanfaat bagi kehidupan di dunia ketika tak ada ketulusan didalamnya. So, You Must Be Have A Purity Heart To Get The Best Each Your Session In Life. 
x

Tidak ada komentar:

Puisi_Cahaya Jiwa

  Cahaya Jiwa Halloooooo... Balik lagi bersama aku yang senang menabung dan baik hati ini. Kali ini aku akan berbagi mengenai sebuah puisi p...