===>check it out<===
Pada
hari senin, 9 Agustus 1999 dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di
sebuah desa nan jauh dari peradaban modernisasi kota serta jauh dari jangkauan
arus perkembangan tekhnologi komunikasi dan informasi, dilahirkanlah saya atas
nama Siti Zubaidah sebagai anak bungsu dari pasangan suami isteri yang bekerja
sebagai petani dan telah memasuki usia yang bisa dibilang cukup tua untuk
memiliki seorang bayi lagi akan tetapi tetap kuat dan gigih.
Dengan perekonomian dibawah rata-rata saya
tumbuh menjadi anak yang aktif, ceria, serta kreatif dalam bermain dengan
teman-teman sebaya, tak pernah perekonomian keluargaku itu menjadi kendala
dalam kehidupan saya maupun menjadi permasalahan yang serius bagi keluarga saya.
Selama masih ada senda gurau serta kebahagiaan didalamnya maka kebahagiaan itu tak
akan pernah terkalahkan oleh apapun, sekalipun hal itu menyangkut perekonomian
keluarga.
Tak
lama setelah saya dilahirkan, keluarga saya memilih untuk meninggalkan kampung
halaman saya menuju tempat tinggal yang lebih dekat dengan pinggiran kota yaitu
di sebuah desa yang mendapatkan arus perkembangan tekhnologi dan ilmu
pendidikan dengan lebih mudah dari tempat
tinggal sebelumnya. Hal itu mereka lakukan agar saya tidak seperti mereka yang
mana telah mendapatkan pendidikan tetapi kurang layak untuk disebut sebagai
pendidikan karena tidak mencapai tingkat akhir dari jenjang pendidikan bahkan
di tingkat Sekolah Dasar sederajat pun tidak sampai mengikuti ujian atau bisa
dibilang berhenti ditengah jalan saat ekonomi tak mampu lagi berbicara. Maka
dari itu, mereka menginginkan saya untuk
tumbuh menjadi anak yang berpendidikan tinggi, berpengetahuan serta
berpandangan luas dan terampil dalam mengikuti perkembangan maupun menggunakan
tekhnologi super canggih untuk menjalani arus perkembangan globalisasi yang
sangat cepat memengaruhi berkembangnya pola pikir dan perilaku anak. Orang tua
saya juga tidak ingin saya sama nasibnya seperti saudara-saudara saya yang telah putus sekolah ditengah jalan dan tak
sempat mengenyam manisnya persaingan dalam dunia pendidikan ketika kedua orang
tua saya tak mampu lagi membayar ongkos sekolah mereka.
Kini
saya telah melalui tahap-tahap pendidikan di sekolah negeri selama 9 tahun dari
tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama secara gratis. Tanpa dipungut biaya bulanan dari pihak sekolah,
tidak seperti sekolah-sekolah negeri yang ada di kota Banjarmasin yang selalu
meminta uang bayaran sekolah. Hal ini merupakan sesuatu yang patut untuk selalu
saya syukuri karena dapat meringankan beban orang tua saya. Walaupun gratis,
pastinya setiap orang yang bersekolah tetap saja mengeluarkan biaya untuk
memenuhi kebutuhan selama bersekolah seperti uang saku dan untuk membeli
keperluan belajar seperti buku LKS, buku tulis, pulpen, penggaris, dan
sebagainya yang mendukung kegiatan belajar saya selama dalam proses belajar
baik disekolah maupun diluar sekolah.
Saya
selalu berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan itu dengan cara memanfaatkan
otak kreatif saya yang terkadang muncul tiba-tiba. Melalui otak kreatif itulah saya
dapat membuat benda hasil olahan tangan dari tangan sendiri atau bahasa
kerennya itu biasa disebut Hand Made. Hal itu selalu saya lakukan
ketika keuangan keluarga saya sedang menipis dan saya harus meringankannya,
yaitu dengan cara menjual hasil Hand Made
yang telah saya buat dari barang
bekas menjadi barang layak guna serta layak pakai. Dari situlah berawalnya
karir saya sebagai pengrajin barang bekas layak pakai serta mampu memberikan
sedikit penghasilan. Uang hasil penjualan itu saya gunakan untuk membeli
perlengkapan sekolah yang telah habis terpakai atau saya gunakan untuk membeli
sembako yang telah habis di dapur. Akan tetapi, ketika uang itu masih
berlebihan maka saya akan menyimpannya sebagai tabungan untuk melanjutkan
pendidikan di masa depan.
Bukan
hanya sebagai orang yang kreatif dalam mencari pendapatan melalui Hand Made tetapi saya juga sebagai orang yang aktif
dalam mengikuti berbagai kegiatan sekolah mulai dari kegiatan
intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.
Sehingga banyak sekali waktu istirahat saya yang terpotong oleh waktu belajar
malam, sebab saya tak memiliki waktu siang untuk belajar. Semua waktu siang
saya habiskan dengan mengikuti berbagai macam kegiatan sekolah di luar jam
sekolah, seperti ekskul basket, paskibra, bahkan pramuka. Itu semua saya
lakukan untuk mengisi hari-hari saya, bukan hanya dengan belajar melalui buku
tetapi juga belajar melalui lingkungan dan kegiatan yang berada di dalamnya.
Tak heran jika saya banyak memiliki teman dari jauh karena ketika ada kegiatan
besar saya selalu menambah teman baru. Itulah kehidupan saya ketika masih duduk
dibangku Sekolah Menengah Pertama. Beranjak dari semua kegiatan itu, ketika
saya telah memasuki hari-hari terakhir memakai seragam Putih Biru, terpikirlah
saya untuk melanjutkan sekolah kejenjang berikutnya.
Saya
sadar bahwa saya sedang berada dalam perekonomian yang bisa dibilang pas-pasan
bahkan kurang. Akan tetapi saya tak pernah bosan ataupun berhenti untuk
berusaha agar mendapatkan jalan keluar menempuh dunia pendidikan selanjutnya.
Untuk itu, saya belajar lebih tekun lagi dari sebelumnya dan berdoa didalam
setiap shalat yang saya laksanakan bahkan disetiap langkah saya, meminta untuk
diberikan petunjuk agar dapat melanjutkan pendidikan kejenjang berikutnya. Hingga
akhirnya Allah SWT menjawab semua doa yang saya panjatkan di setiap shalat didalam
keheningan malam. Rupanya Allah SWT memberikan jalan kepada saya melalui guru
sekolah saya dengan cara menawarkan program Beasiswa untuk saya dapat belajar
di sebuah sekolah swasta yang mana menurutku sangat mewah dan diinginkan oleh
semua orang tua yang ada ditempatku.
Pada awalnya Aku ragu untuk menerima tawaran itu karena Aku tau bahwa untuk
mendapatkan kesempatan bersekolah disitu tak semudah masuk sekolah negeri, yang
biasanya hanya dengan bermodalkan nilai raport serta surat tanda kelulusan
(SKHU). Lain halnya dengan sekolah itu, saya yang harus mengikuti beberapa
tahapan seleksi untuk dapat diterima bersekolah di situ dan itupun juga harus
menunggu lama untuk mengetahui hasil seleksi tersebut. Akan tetapi semua orang
mendukung saya, meyakinkan saya untuk mengikuti
seleksi Penerimaan Siswa Baru Program Beasiswa, mereka yakin bahwa saya mampu
dan bisa melewati semua tahapan seleksi itu. Ketika itulah saya mau menerima tawaran
yang diberikan kepada saya. Akan tetapi, Allah SWT Maha Adil lagi Bijaksana
yang mana telah memberikan rencana terbaik-Nya untuk kita semua, sehingga semua
harapan dan keyakinan itu terjawab dengan hasil yang membanggakan. Saya lulus seleksi Beasiswa Penuh atau
gratis 100% tanpa ada melakukan pembayaran sedikitpun dikemudian hari.
ALHAMDULULLAH.
Saat
ini saya masih bersekolah di sekolah mewah itu dan satu tahun lagi saya akan
meninggalkan sekolah itu untuk menggapai cita-cita saya menjadi seorang
pendidik yang berwawasan luas dan berakhlak. Banyak sekali pengalaman yang saya
dapatkan di sekolah itu. Semenjak saya menginjakkan kaki hingga saat ini saya
berpijak. Begitu banyak pelajaran yang dapat diambil dari setiap
kejadian-kejadian. Dan setiap hari itu tidak hanya satu pelajaran dan satu
kejadian, akan tetapi terdapat banyak hal yang dapat diambil pelajaran.
Suatu
hari didalam sebuah kelas, saya dan teman-teman saya yang lain ditanya: “ apa
cita-cita kalian ketika sudah lulus dari sekolah ini, akan menjadi apa kalian
nantinya?”. Bukan menyangkal, tapi ini adalah kenyataan ketika saya merasa
bahwa sayalah manusia paling bodoh di muka bumi yang hanya memiliki cita-cita
sebagai seorang pengajar. Lain halnya dengan semua teman-teman saya yang
kebanyakan dari mereka ingin sekali menjadi dokter, baik menjadi dokter gigi,
dokter bedah, dokter kulit, dokter kecantikan dan sebagainya. Ketika itu kami
semua ditanya kembali “mengapa kalian memilih profesi itu?”. Lalu satu persatu
menjawab yang pada intinya jawaban
mereka mengarah kepada satu jawaban yaitu “alasan saya tidak muluk-muluk karena
dengan profesi seorang dokter akan memberikan saya penghasilan yang cukup untuk
mencukupi hidup saya.” Ya, seperti yang saya ketahui bahwa menjadi seorang
dokter memang akan mendapatkan bayaran yang mahal, tetapi salahkah jika saya
hanya ingin menjadi seorang pendidik?. Ketika saya ditanya alasan saya mengapa
ingin menjadi seorang pengajar yang hanya memiliki gaji sangat sedikit dan
bahkan tidak cukup. Saya terhenyak dan terdiam tak bisa menjawab, menetes air
mata saya dan saya coba untuk menjawab “Saya ingin menjadi pengajar karena saya
ingin mengabdi kepada masyarakat.” Saya tau bahwa tindakan mengabdi itu bukan
hanya menjadi pengajar bahkan dokter pun juga mengabdi untuk masyarakat. Akan
tetapi mengabdi yang saya inginkan adalah kembali menyalurkan ilmu-ilmu yang
telah diberikan untuk saya, saya berikan lagi kepada orang lain agar ilmu itu
selalu bermanfaat dan terus mengalir
semakin luas ketika ilmu itu terus dibagikan.
Menjadi
seorang pengajar memang tidak memberikan saya banyak uang. Ya, memang bukan itu
tujuan dari cita-cita saya. Saya memilih cita-cita menjadi pengajar agar saya
dapat membagikan semua ilmu yang saya miliki kepada orang-orang yang
membutuhkannya. Bahkan saya tak peduli masalah uang yang dihasilkan, karena
bagi saya kecerdasan karakter itu lebih utama daripada uang. Saya tidak ingin
orang lain mengalami hal seperti saya yang dilahirkan dari keluarga yang tak
berpendidikan, tetapi saya bangga kepada mereka. Saya bangga atas kegigihan
mereka dalam mengajari saya betapa pentingnya ketulusan didalam hidup. Saya
tahu bahwa menjadi seorang pengajar itu bukanlah profesi yang hebat, tapi
dimata saya semua itu akan menjadi hebat ketika saya mampu melahirkan generasi
muda dari rakyat kecil tetapi memiliki kemampuan yang luar biasa.
Terinspirasi
dari kata-kata Ir. Soekarno “bermimpilah kalian setinggi angkasa, ketika kalian
terjatuh maka terjatuhlah diantara bintang-bintang.”
Bukankah
itu adalah hal yang sangat indah yang dapat memberikan motivasi kepada saya
untuk bercita-cita hebat, yaitu menjadi seorang pengajar yang mampu menciptakan
karakter cerdas dan mampu memberikan konstribusi tinggi terhadap dunia.
Mengubah segala sesuatu itu tidaklah mudah, seperti halnya saat ini, banyak
sekali rintangan dan tantangan yang harus dihadapi agar saya tetap berada di
puncak gunung yang tinggi dengan tangan seperti mencengkram dunia seolah-olah
masa depan ada digenggaman saya. Itulah yang saya lakukan untuk memberi
dorongan kepada hati ketika mulai ragu. Bahkan ketika saya merasa ragu dengan
teman saya itu. Akan tetapi ada sebuah kata-kata yang mampu membuat saya
bangkit kembali ketika telah terpuruk oleh desakan teman yang memojokkan, dan
mencemooh saya dan cita-cita besar saya. Saya menemukan kata-kata yang mampu
membuat saya kembali bangkit dan membuktikan bahwa saya akan berhasil dan
mereka akan tahu siapa saya.
“Ketika
kamu berhasil, maka teman-temanmu akan tahu siapa kamu dan ketika kamu gagal,
akhirnya kamu tahu siapa sesungguhnya teman-temanmu” (Aristoteles)
Semoga ini
semua dapat bermanfaat, karena sebuah cita-cita besar tak akan pernah
bermanfaat bagi kehidupan di dunia ketika tak ada ketulusan didalamnya. So, You
Must Be Have A Purity Heart To Get The Best Each Your Session In Life.
x
Tidak ada komentar:
Posting Komentar