Minggu, 11 Juni 2017

kagiatan ku

selesai ujuan akhir sekolah tetap aja sibuk, ngga ada liburnya. Puasa mah enaknya nongkrong dalam kamar samping jendela ditemani sama buku kesayangan atau buku bacaan. kalau udah ulai bosan yaaaaa cus tidur. atau bikin hadiah lebaran buat guru atau babeh tercinta yang lagi dirumah nungguin anak tersayangnya pulang.
Image result for orang stress
orang lagi lelah menghadapi hidup yang membosankan.

btw, seminggu lagi baru bisa nyampe rumah. pegang hp terus baca Wattpad  atau ngga dengerin musik sambil gambar bebek. argh.  sepertinya aku mulai bosan dan jenuh seperti ini. mau cari kegiatan, tapi yang banyak gerak... Sepertinya lebih asyik k dari pada duduk dan berkutat didepan laptop terlalu lama hingga mata ku mulai bertambah minus-nya. sepertinya aku mulai lelah.
Maafin ane yaa readers, ini akibat mata lelah dan otak mulai ngantuk...

Dengarkah kalian_KAU

Hiiiii..... Aku datang lagi hari ini dengan membawakan seuntai kalimat prosa yang baru saja ku buat. berkat workshop aku jadi sering ngetik, dan inilah karyanya.
 Kata-kata kali ini bertemakan tentang seseorang yang pergi jauh tuk menunggalkan orang-orang disekitarnya. Ia pergi dengan penuh keamarahan, dia meninggalkan semua tentang masa lalunya. Bahkan ia meninggalkan orang yang sangat mencintainya. aduhhh... terasa bagaimana gitu kalau aku yang berada di dalam sana. jangankan melupakannya nihh yaa, buat ninggalin jauh aja susah walaupun tujuannya tuk mencari Ilmu, Apalagi ini...hiks hiks☹☹
ok. kalau begitu langsung aja kita menuju ====>



Kau!
      Kau bagaikan sebuah udara. Kau datang dan pergi sesukanya. Kau tak peduli dengan orang diseberang sana. Kau selalu berpungut pada jiwa. Tidakkah bosan dengan kesunyian semata. Bersandar dibalik dinding layaknya orang tak bernyawa.Tidakkah kau lelah dengan semua sandiwara. Membuai jiwa dengan kalimat pujian gila. Aku tau kau tak akan peduli dengan ku. Tapi aku datang kemari hanya untuknya. Kau gila! Bahkan satu kata pun tak keluar dari mulut mu. Apalah dayaku tuk membujukmu kembali kepada nya. Tak inginkah kau memeluknya.

Begitu teganya kau tinggalkan ia sebatangkara. Tanpa ada teman yang menyelimuti hari-harinya. Sadarlah kau sebelum kau menyesal dihari tua. Ia hanya minta kau pulang. Sesekali kau jenguk ia. Sebelum ia yang meninggalkan kau. Dasar kau tau punya hati. Lelah ia menunggu kepulangan kau. Tapi kau tak juga kunjung datang tuk nya.

Sekarang lah harusnya kau beranjak dari lamunan nan hampa. Janganlah kau menjadi orang yang tak bermakna. Dimatanya kau sangat diharapkan. Tapi nyatanya kau tak menoleh sedikitpun untuknya. Taukah kau bahwa ia rela diambil nyawanya. Tapi pedulikah kau dengannya. Sungguh malang nasibnya ketika tau anak tercintanya durhaka. 

Kau. Kau begitu sempurna dimatanya. Kau begitu mengagumkan dihatinya. Kau terlalu sulit tuk dimengertinya. Kau begitu enggan tuk menyapanya. Kau begitu tinggi bersama ego. Kau terlalu sibuk dengan dunia yang kau miliki sendiri. Hingga kau lupakan semuanya. Kau tinggalkan semuanya. Kau sakiti mereka. Kau jatuhkan ia. Adakah sedikit saja namanya di hati kau. Apakah ada pertanyaan yang mendalam yang kau simpan. Tolong sampaikan padaku agar kau tenang. Tolong kabarkan padanya bahwa kau baik-baik saja. Sebab kau menghilang membuatnya sangat sengsara.

ok.. ok... tuh dia kata-kata yang baru aja aku buat. sorry bro kalau kurang cantik kata-katanya.

Sabtu, 10 Juni 2017

essay_perjalanan

terkadang setiap perjalanan itu memiliki makna penting. tapi... yang dimaksudkan di sini itu bukan perjalanan atau traveling ketempat yang unik dan menarik, tetapi merupakan perjalanan singkat mengenai perjuangan hidup ku....
===>check it out<===



Pada hari senin, 9 Agustus 1999 dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di sebuah desa nan jauh dari peradaban modernisasi kota serta jauh dari jangkauan arus perkembangan tekhnologi komunikasi dan informasi, dilahirkanlah saya atas nama Siti Zubaidah sebagai anak bungsu dari pasangan suami isteri yang bekerja sebagai petani dan telah memasuki usia yang bisa dibilang cukup tua untuk memiliki seorang bayi lagi akan tetapi tetap kuat dan gigih.
 Dengan perekonomian dibawah rata-rata saya tumbuh menjadi anak yang aktif, ceria, serta kreatif dalam bermain dengan teman-teman sebaya, tak pernah perekonomian keluargaku itu menjadi kendala dalam kehidupan saya maupun menjadi permasalahan yang serius bagi keluarga saya. Selama masih ada senda gurau serta kebahagiaan didalamnya maka kebahagiaan itu tak akan pernah terkalahkan oleh apapun, sekalipun hal itu menyangkut perekonomian keluarga.
Tak lama setelah saya dilahirkan, keluarga saya memilih untuk meninggalkan kampung halaman saya menuju tempat tinggal yang lebih dekat dengan pinggiran kota yaitu di sebuah desa yang mendapatkan arus perkembangan tekhnologi dan ilmu pendidikan dengan  lebih mudah dari tempat tinggal sebelumnya. Hal itu mereka lakukan agar saya tidak seperti mereka yang mana telah mendapatkan pendidikan tetapi kurang layak untuk disebut sebagai pendidikan karena tidak mencapai tingkat akhir dari jenjang pendidikan bahkan di tingkat Sekolah Dasar sederajat pun tidak sampai mengikuti ujian atau bisa dibilang berhenti ditengah jalan saat ekonomi tak mampu lagi berbicara. Maka dari itu, mereka  menginginkan saya untuk tumbuh menjadi anak yang berpendidikan tinggi, berpengetahuan serta berpandangan luas dan terampil dalam mengikuti perkembangan maupun menggunakan tekhnologi super canggih untuk menjalani arus perkembangan globalisasi yang sangat cepat memengaruhi berkembangnya pola pikir dan perilaku anak. Orang tua saya juga tidak ingin saya sama nasibnya seperti saudara-saudara saya yang  telah putus sekolah ditengah jalan dan tak sempat mengenyam manisnya persaingan dalam dunia pendidikan ketika kedua orang tua saya tak mampu lagi membayar ongkos sekolah mereka.
Kini saya telah melalui tahap-tahap pendidikan di sekolah negeri selama 9 tahun dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama secara gratis. Tanpa  dipungut biaya bulanan dari pihak sekolah, tidak seperti sekolah-sekolah negeri yang ada di kota Banjarmasin yang selalu meminta uang bayaran sekolah. Hal ini merupakan sesuatu yang patut untuk selalu saya syukuri karena dapat meringankan beban orang tua saya. Walaupun gratis, pastinya setiap orang yang bersekolah tetap saja mengeluarkan biaya untuk memenuhi kebutuhan selama bersekolah seperti uang saku dan untuk membeli keperluan belajar seperti buku LKS, buku tulis, pulpen, penggaris, dan sebagainya yang mendukung kegiatan belajar saya selama dalam proses belajar baik disekolah maupun diluar sekolah.
Saya selalu berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan itu dengan cara memanfaatkan otak kreatif saya yang terkadang muncul tiba-tiba. Melalui otak kreatif itulah saya dapat membuat benda hasil olahan tangan dari tangan sendiri atau bahasa kerennya itu biasa disebut  Hand Made. Hal itu selalu saya lakukan ketika keuangan keluarga saya sedang menipis dan saya harus meringankannya, yaitu dengan cara menjual hasil Hand Made  yang telah saya buat dari barang bekas menjadi barang layak guna serta layak pakai. Dari situlah berawalnya karir saya sebagai pengrajin barang bekas layak pakai serta mampu memberikan sedikit penghasilan. Uang hasil penjualan itu saya gunakan untuk membeli perlengkapan sekolah yang telah habis terpakai atau saya gunakan untuk membeli sembako yang telah habis di dapur. Akan tetapi, ketika uang itu masih berlebihan maka saya akan menyimpannya sebagai tabungan untuk melanjutkan pendidikan di masa depan.
Bukan hanya sebagai orang yang kreatif dalam mencari pendapatan melalui Hand Made  tetapi saya juga sebagai orang yang aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan sekolah mulai dari kegiatan intrakurikuler  maupun ekstrakurikuler. Sehingga banyak sekali waktu istirahat saya yang terpotong oleh waktu belajar malam, sebab saya tak memiliki waktu siang untuk belajar. Semua waktu siang saya habiskan dengan mengikuti berbagai macam kegiatan sekolah di luar jam sekolah, seperti ekskul basket, paskibra, bahkan pramuka. Itu semua saya lakukan untuk mengisi hari-hari saya, bukan hanya dengan belajar melalui buku tetapi juga belajar melalui lingkungan dan kegiatan yang berada di dalamnya. Tak heran jika saya banyak memiliki teman dari jauh karena ketika ada kegiatan besar saya selalu menambah teman baru. Itulah kehidupan saya ketika masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. Beranjak dari semua kegiatan itu, ketika saya telah memasuki hari-hari terakhir memakai seragam Putih Biru, terpikirlah saya untuk melanjutkan sekolah kejenjang berikutnya.
Saya sadar bahwa saya sedang berada dalam perekonomian yang bisa dibilang pas-pasan bahkan kurang. Akan tetapi saya tak pernah bosan ataupun berhenti untuk berusaha agar mendapatkan jalan keluar menempuh dunia pendidikan selanjutnya. Untuk itu, saya belajar lebih tekun lagi dari sebelumnya dan berdoa didalam setiap shalat yang saya laksanakan bahkan disetiap langkah saya, meminta untuk diberikan petunjuk agar dapat melanjutkan pendidikan kejenjang berikutnya. Hingga akhirnya Allah SWT menjawab semua doa yang saya panjatkan di setiap shalat didalam keheningan malam. Rupanya Allah SWT memberikan jalan kepada saya melalui guru sekolah saya dengan cara menawarkan program Beasiswa untuk saya dapat belajar di sebuah sekolah swasta yang mana menurutku sangat mewah dan diinginkan oleh semua orang tua  yang ada ditempatku. Pada awalnya Aku ragu untuk menerima tawaran itu karena Aku tau bahwa untuk mendapatkan kesempatan bersekolah disitu tak semudah masuk sekolah negeri, yang biasanya hanya dengan bermodalkan nilai raport serta surat tanda kelulusan (SKHU). Lain halnya dengan sekolah itu, saya yang harus mengikuti beberapa tahapan seleksi untuk dapat diterima bersekolah di situ dan itupun juga harus menunggu lama untuk mengetahui hasil seleksi tersebut. Akan tetapi semua orang mendukung saya, meyakinkan saya untuk  mengikuti seleksi Penerimaan Siswa Baru Program Beasiswa, mereka yakin bahwa saya mampu dan bisa melewati semua tahapan seleksi itu. Ketika itulah saya mau menerima tawaran yang diberikan kepada saya. Akan tetapi, Allah SWT Maha Adil lagi Bijaksana yang mana telah memberikan rencana terbaik-Nya untuk kita semua, sehingga semua harapan dan keyakinan itu terjawab dengan hasil yang membanggakan. Saya lulus seleksi Beasiswa Penuh atau gratis 100% tanpa ada melakukan pembayaran sedikitpun dikemudian hari. ALHAMDULULLAH.
Saat ini saya masih bersekolah di sekolah mewah itu dan satu tahun lagi saya akan meninggalkan sekolah itu untuk menggapai cita-cita saya menjadi seorang pendidik yang berwawasan luas dan berakhlak. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan di sekolah itu. Semenjak saya menginjakkan kaki hingga saat ini saya berpijak. Begitu banyak pelajaran yang dapat diambil dari setiap kejadian-kejadian. Dan setiap hari itu tidak hanya satu pelajaran dan satu kejadian, akan tetapi terdapat banyak hal yang dapat diambil pelajaran.
Suatu hari didalam sebuah kelas, saya dan teman-teman saya yang lain ditanya: “ apa cita-cita kalian ketika sudah lulus dari sekolah ini, akan menjadi apa kalian nantinya?”. Bukan menyangkal, tapi ini adalah kenyataan ketika saya merasa bahwa sayalah manusia paling bodoh di muka bumi yang hanya memiliki cita-cita sebagai seorang pengajar. Lain halnya dengan semua teman-teman saya yang kebanyakan dari mereka ingin sekali menjadi dokter, baik menjadi dokter gigi, dokter bedah, dokter kulit, dokter kecantikan dan sebagainya. Ketika itu kami semua ditanya kembali “mengapa kalian memilih profesi itu?”. Lalu satu persatu menjawab yang  pada intinya jawaban mereka mengarah kepada satu jawaban yaitu “alasan saya tidak muluk-muluk karena dengan profesi seorang dokter akan memberikan saya penghasilan yang cukup untuk mencukupi hidup saya.” Ya, seperti yang saya ketahui bahwa menjadi seorang dokter memang akan mendapatkan bayaran yang mahal, tetapi salahkah jika saya hanya ingin menjadi seorang pendidik?. Ketika saya ditanya alasan saya mengapa ingin menjadi seorang pengajar yang hanya memiliki gaji sangat sedikit dan bahkan tidak cukup. Saya terhenyak dan terdiam tak bisa menjawab, menetes air mata saya dan saya coba untuk menjawab “Saya ingin menjadi pengajar karena saya ingin mengabdi kepada masyarakat.” Saya tau bahwa tindakan mengabdi itu bukan hanya menjadi pengajar bahkan dokter pun juga mengabdi untuk masyarakat. Akan tetapi mengabdi yang saya inginkan adalah kembali menyalurkan ilmu-ilmu yang telah diberikan untuk saya, saya berikan lagi kepada orang lain agar ilmu itu selalu bermanfaat  dan terus mengalir semakin luas ketika ilmu itu terus dibagikan.
Menjadi seorang pengajar memang tidak memberikan saya banyak uang. Ya, memang bukan itu tujuan dari cita-cita saya. Saya memilih cita-cita menjadi pengajar agar saya dapat membagikan semua ilmu yang saya miliki kepada orang-orang yang membutuhkannya. Bahkan saya tak peduli masalah uang yang dihasilkan, karena bagi saya kecerdasan karakter itu lebih utama daripada uang. Saya tidak ingin orang lain mengalami hal seperti saya yang dilahirkan dari keluarga yang tak berpendidikan, tetapi saya bangga kepada mereka. Saya bangga atas kegigihan mereka dalam mengajari saya betapa pentingnya ketulusan didalam hidup. Saya tahu bahwa menjadi seorang pengajar itu bukanlah profesi yang hebat, tapi dimata saya semua itu akan menjadi hebat ketika saya mampu melahirkan generasi muda dari rakyat kecil tetapi memiliki kemampuan yang luar biasa.
Terinspirasi dari kata-kata Ir. Soekarno “bermimpilah kalian setinggi angkasa, ketika kalian terjatuh maka terjatuhlah diantara bintang-bintang.”
Bukankah itu adalah hal yang sangat indah yang dapat memberikan motivasi kepada saya untuk bercita-cita hebat, yaitu menjadi seorang pengajar yang mampu menciptakan karakter cerdas dan mampu memberikan konstribusi tinggi terhadap dunia. Mengubah segala sesuatu itu tidaklah mudah, seperti halnya saat ini, banyak sekali rintangan dan tantangan yang harus dihadapi agar saya tetap berada di puncak gunung yang tinggi dengan tangan seperti mencengkram dunia seolah-olah masa depan ada digenggaman saya. Itulah yang saya lakukan untuk memberi dorongan kepada hati ketika mulai ragu. Bahkan ketika saya merasa ragu dengan teman saya itu. Akan tetapi ada sebuah kata-kata yang mampu membuat saya bangkit kembali ketika telah terpuruk oleh desakan teman yang memojokkan, dan mencemooh saya dan cita-cita besar saya. Saya menemukan kata-kata yang mampu membuat saya kembali bangkit dan membuktikan bahwa saya akan berhasil dan mereka akan tahu siapa saya.
“Ketika kamu berhasil, maka teman-temanmu akan tahu siapa kamu dan ketika kamu gagal, akhirnya kamu tahu siapa sesungguhnya teman-temanmu” (Aristoteles)


Semoga ini semua dapat bermanfaat, karena sebuah cita-cita besar tak akan pernah bermanfaat bagi kehidupan di dunia ketika tak ada ketulusan didalamnya. So, You Must Be Have A Purity Heart To Get The Best Each Your Session In Life. 
x

puisiku.

Hi, kembali lagi dengan Zu. kayaknya hari ini bakalan banyak update  deh. soalnya lagi ngga ada jam sekolah lagi. walaupun belum libur sekolah, setidaknya ada waktu buat manfaatin wifi di sekolah. oops, cari kesempatan. kali ini aku bakalan bawaain postingan mengenai puisi.Berbeda dari puisi-puisi sebelumnya yang memiliki banyak diksi bertingkat. kali ini aku lebih menggunakan kalimat yang sesederhana mungkin agar kalian para readers bisa memaknainya.

Ini dia puisinya:

Di Balik Jendela Tua

Buaian mentari menusuk retina tajam
Menyapa indah membuka mata
Tatapan tajam disudut jendela tua
Terlihat berbinar menatap mentari di ufuk timur
Meramal jauh dari sang pemiliknya
Mendekat dan melekat didalam ingatannya
Teringat perpisahan singkat sebelum meninggalkan benua
Ku peluk erat didekapannya
Mencari kehangatan sejati dengan kasih dan sayangnya
Ku raih tangan kasarnya, lalu sujud tulus dihadapannya
Meminta restu dari keduanya
Mendarat jauh dari benua tercinta
Mengingat kejadian sebelum kepergianku dari nya
Kini...
Berdiri tegak diatas menara samping jendela
Menatap keluar menikmati dinginnya jalan nan indah
Uap nafas yang terlihat didepan kaca jendela
Ku hembuskan lagi tuk kedua kalinya
Lagi dan lagi tuk kesekian kalinya
Renungku...
Kelut pikir nan jauh didalam sana
Tak sangka ini adalah nyata didepan mata
Menguak kembali cita-cita masa lalu kala muda
Tak habis pikir, aku tiba jauh dari mata najwa
Membuat kalimat nyata disudut jendela
Didalam bekas hembusan yang belum juga hilang
Kutuliskan kisahku atasnya
Dinegeri orang dimana aku keluar dari sangkar ku.
Kutunjukkan atas apa yang memang sepantasnya

Aku tunjukkan siapa aku sebenarnya.



Jadi puisi diatas itu aku persembahkan untuk semua orang yang memiliki cita-cita yang luar biasa. Jangan pernah takut tuk bercita-cita tinggi teman, karena ketika cita-cita mu tulus, maka Tuhan akan memberikan hal terbaiknya tuk wujudkannya dan memberikan jalan termudah tuk kalian menggapainya. Semangatt dalam impiannya.....

Belajar bikin Prosa

wow, sebelumnya aku mikir kalau prosa itu sama aja dengan puisi, tapii... ternyata oh ternyata prosa itu beda sama puisi. kalau puisi lebih pendek dari prosa. Puisi itu berbentuk kalimat memanjang kebawah sedangkan prosa itu berbentuk paragraf. Dan kemarin itu aku baru saja belajar membuat prosa, yaa susah susah gampang sihh.. okay yang namanya baru belajar yaa pasti ada hambatannya dan pastinya nggak sebagus penulis handal. Tapi jika sudah belajar labih banyak, insyaallah  hasilnya akan membaik. Dibawah ini merupakan hasil dari tulisan ku.

===>check it out<===

Kesederhanaan Bahagia
Bahagia itu sederhana. Bahagia itu tak pernah menuntut apapun. Bahagia itu ada dimana-mana. Bahagia itu selalu berada dihati ketika kita mampu merasakannya. Dengan bersyukur, bahagia akan datang menyapa. Dengan bersyukur bahagia pun akan turut mendampinginya.
Apa salahnya jika aku membuat standar kebahagiaan? Jika bahagia pun tak pernah menuntut apa-apa. Bahagia itu datang ketika hati mulai lapang. Bahagia itu mudah diwujudkan. Tapi mengapa? Mengapa banyak orang yang merasa tidak bahagia? Apakah karena mereka memang tidak bahagia ataukah mereka tidak bersyukur atas kebahagiaan itu?.
Banyak orang sederhana yang selalu merasakan bahagia. Hidup dirumah kardus pun tak masalah baginya. Tidur di sofa bumi pun tak menyingkirkan senyum indahnya. Mendapat sepiring nasi dan sepotong lauk telah mengembangkan senyum tiada tara. Padahal tak ada yang menjamin bahwa besok mereka masih dapat menikmatinya. Beralih dari tempat itu, tak melenyapkan senyumnya.Tertanam tulus dari rasa cinta penciptanya.
Bahagia itu terkadang tak masuk dalam logika. Bahagia mempunyai makna yang mungkin tak bisa dicerna dengan kasat mata. Bahagia itu terkadang seperti setan yang merasuki raga. Kadang tersenyum, kadang tertawa bahkan menangis yang tak tau apa sebabnya. Kita pikir bahagia itu seperti orang gila. Berbuat semaunya seperti tak ada hambatan baginya. Bahagia itu layaknya air yang mengalir di samudera. Terus mengalir tanpa ada yang menghambatnya. Bahagia itu tak akan sirna ditelan masa. Katika bahagia itu menyentuh jiwa, maka kita wajib mensyukurinya.

awal mula

Hay.... aku tuh di blog ini sebenarnya udah lama, tapi entah kenapa aku belum pernah posting apapun. entahlah... mungkin karena aku terlalu sibuk. maklum lah yang namanya anak sekolah berasrama, pastinya banyak kesibukan di luar jam sekolah. Ditambah lagi banyak event yang bikin aku ngga bisa posting apapun, bahkan buat buka blog aja susah.
     oh yaa, kenalkan nama ku Siti Zubaidah, tapi biasa dipanggil zu doang, yang awalnya 12 huruf malah tersisa 2 huruf. Malang nya nasib ku yaa... Tapi tenang, setelah ini aku usahakan tuk sering update selama libur panjang... horeeee...

===>tunggu postingan berikutnya mengenai hal-hal menarik<===😅😅😅

Puisi_Cahaya Jiwa

  Cahaya Jiwa Halloooooo... Balik lagi bersama aku yang senang menabung dan baik hati ini. Kali ini aku akan berbagi mengenai sebuah puisi p...