Sabtu, 20 Oktober 2018

Cerita Perjalanan Hijrah 2017



Okay, guys.... balik lagi sama aku yang akan berbagi cerita bersama kalian... cerita ini sudah sangat lama dan hampir manginjak waktu 1,5 tahun yang lalu... 
Tanpa banyak panjang lebar, langsung saja kita menuju ke cerita yang akan kalaian baca. boleh disimak dan diamati, tapi jangan ditiru ya, guys... 😀😀😀😀


Aku dan Istanbul

RABU, 27 MARET 2017    
11.48 PM
            Jam tangan yang ku letakkan di atas meja belajar telah menunjukkan tengah malam, tetapi mataku masih terjaga sejak aku merebahkan tubuhku di atas kasur yang begitu empuk ini. beberapa kali aku berusaha untuk menidurkan diriku untuk menjaga stamina yang akan terkuras pada besok hari. Sayangnya, otak dan tubuhku kali ini tidak mampu berkerja sama.
            “Zub, nggak bisa tidur nah aku. Kamu udah tidur kah?” kata temanku yang terlihat sama seperti diriku yang masih dalam keadaan terjaga. Bedanya hanya satu, saat aku terjaga aku hanya diam tanpa bergerak banyak, lain halnya dengan temanku yang terjaga tetapi terlihat sangat gelisah menunggu waktu itu tiba.
            Aku ingin menjawab pertanyaan yang baru saja ia lontarkan terhadapku, sayangnya aku terlambat karena sekarang ia telah berjalan ke arah dimana pintu terpampang dengan jelas. Aku hanya berpikir bahwa ia sedang mencari temannya yang lain dan kemudian membangunkannya. Tepat. Dugaanku memang sangat tepat bahwa temanku berjalan keluar untuk membangunkan teman-teman yang lain karena aku mendengar suara berisik di depan pintu kamarku. Walaupun tempat tidurku tidak berada di sebelah pintu, akan tetapi suara heningnya malam tentu saja akan membuat suara merambat lebih cepat dengan pemantulan yang lebih baik daripada di saat siang hari.
            Aku terbangun dari tidurku saat selimutku terasa terangkat dengan sendirinya kemudian menghilang dari atas kasurku sehingga udara dingin menyambut kakiku yang tidak memakai kaos kaki.
            “Zubai, ayo bangun terus siap-siap,” ucapnya membuatku duduk dari posisi berbaringku dan menatapnya dengan sayu. “Memangnya ini jam berapa, Is?” tanyaku saat ia berdiri ingin meninggalkanku. Bukannya menjawab pertanyaanku tapi ia melempar bantal yang ada di depanku tepat mengenai mukaku. Setelah itu ia langsung pergi menjauh dan ketawa pelan karena tertahan oleh tatapanku yang seakan-akan ingin membunuhnya.
Aku meraih jam tangan yang aku letakkan di atas meja sebelum aku tidur malam tadi. Mataku membulat sempurna ketika melihat angka yang ditunjukkan oleh jarum jam tersebut menunjukkan pukul 1. 15 dini hari. Baiklah, sepertinya aku memang harus bangun dan bersiap-siap karena pasti sebentar lagi bus yang akan membawa kami menuju bandara akan segera datang. Aku melakukan segala aktivitas persiapannya dengan sedikit terburu-buru karena bus yang menjemput kami telah sampai dan kini sedang berada di depan lobi sekolah.
 Aku sedikit berlari sambil menggeret koper yang berada di sampingku. Dengan napas yang terengah-engah akhirnya aku sampai di lobi asrama dengan tepat waktu. Walaupun dengan keadaan yang agak sedikit berantakan, setidaknya aku masih dapat membenahi pakaianku yang sedikit kacau. Kaos kaki, jaket, bahkan beberapatas kecil masih terlihat berantakan di tanganku. Ku pakai satu persatu dari jaket hingga kaos kaki yang berada di tanganku, kemudia aku membenarkan posisi tas kecil yang aku bawa ke dalam koper agar terlihat lebih rapi.
***
08.45 AM
“Akhirnya,” ucapku sedikit keras sembari menghembuskan napas lega karena sekarang aku sudah menginjakkan kaki di bandara Internasional Soekarno Hatta.
Aku masih mengikuti arah mereka semua dan apa-apa saja yang harus dilakukan oleh semua oerang yang baru sampai di bandara. Maklum saja jika aku terlihat seperti orang kampungan karena faktanya memang aku dari kampong dan ini adalah pertama kalinya aku menaiki pesawat terbang. Ada rasa bangga terbesit di dalam hatiku karena aku mampu menginjakkan kakiku di Ibu Kota Indonesia, Jakarta.
Kami semua termasuk aku juga yang berada di sana terus saja bercanda tanpa mengenal lelah, beberapa lelucon lucu pun juga ikut aku lontarkan untuk menambah hangatnya suasana pertemanan. Aku menyeka air mata yang terdapat diujung mataku akibat tertawa yang tidak mampu untuk aku tahan lagi. Sungguh, bahagia bercampur haru telah aku rasakan saat ini.
“Ra, akhirnya kita sampai juga di Jakarta,” ucapku kepada temanku yang biasa di panggil dengan Nura.
“Iya, Zub. Nggak nyangka aku kalau kita bisa ke sini sama-sama,” jawabnya tidak kalah bahagia dari aku. Aku tidak menjawab ucapannya lagi, hanya mampu menganggukkan kepala ketika mendengar suaranya yang mulai samar menjauh di belakangku.
Sekarang aku atau lebih tepatnya kami semua berada di Menara 165 yang terletak di Jakarta Selatan. Selain sebagai hotel, menara 165 juga merupakan pusat pendidikan bisnis yang disebut dengan ESQ Bussiness School yangmerupakan sekolah tingkat perguruan tinggi yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
Di dalam menara 165 tersebut, kami semua mengadakan seminar tentang betapa pentingnya kehidupan, perubahan, dan karakter-karakter yang harus ditanamkan pada setiap individu yang akan menjadi penerus bangsa. Ada satu kutipan yang selalu aku ingat sejak saat itu hingga saat ini ketika aku mendapatkan sebuah kesulitan yang hampir membuatku putus asa. Kutipan itu adalah: “Hiduplah kalian layaknya ikan salmon yang selalu berusaha dengan gigih melawan derasnya air yang ada dilautan untuk bertahan hidup. Dilahirkan dari parairan sungai, tetapi hidup di samudera yang luas kemudian kembali lagi ketika akan melahirkan. Itlah perjuangan hidupnya agar ia mendapatkan keturunan yang kuat. Maka, brgitulah kita seharusnya dimana kita harus keluar dari zona nyaman untuk mendapatkan kualitas hidup yang jauh diatas standar rata-rata orang kebanyakan.” Sungguh, kata itu sangat menggugah hati dan membangkitkan semangat bagi para pejuang untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
Hari pertama di Jakarta kami lewati dengan berbagai macam aktivitas selain seminar dan permainan. Berbicara tentang permainan, maka aku adalah orang pertama yang selalu unjuk tangan katika ditanya siapa yang mau maju kedepan untuk melakukan percobaan bahkan sesekali aku menjadi bahan tertawaan teman-teman yang lain hanya karena uji percobaan ku yang gagal total. Tapi, aku bahagia dengan itu semua. Hingga semua rangkaian acara pada hari itu selesai.
“Zub, waah kamu keren banget ya. Berani-beraninya maju ke depan dengan tampang nggak berdosa hingga semua orang tu ngetaaain kamu loh, Zub,” kata temanku yang bernama Ika ketika berjalan mengiringi langkahku menuruni anak tangga.
“Haha, santai aja kali. Aku suka kok diketawain, hitung-hitung cari pahala bikin orang bahagia,” ucapku sembari tertawa renyah.
“Emang kamu nggak malu kah, Zub?” tanyanya lagi dengan wajah sedikit penasaran.
“Ngapain harus malu. Toh, aku nggak malu-maluin juga kan. Jadi mah santai aja,” jawabku lagi dengan wajah santai tanpa peduli tanggapannya.
“Huh, susah kalo udah ngomong sama orang aneh kaya kamu, Zub,” jawabnya kesal sembari berjalan mendahuluiku.
“Yeay, bukannya dari dulu kamu udah tahu kalau aku emang aneh,” jawabku lagi dengan senyu  yang semakin membuatnya kesal ketika berbalik menatapku.
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang terkadang seperti anak-anak itu. Dan aku juga memang sangat suka jika membuat orang kesal denganku. Walaupun begitu, aku tak pernah membuat mereka marah karena keusilanku yang suka menggoda mereka.
***
Hari kedua di Jakarta.
“Nitaaaaaaaaa, ayo bangun,” ucapku sedikit berteriak kepada temanku yang masih saja bergulung dengan selimut tebalnya hingga ia terbangun mendengar suaraku yang beberapa kali membangunkannya. Dengan langkah kesal, iya menyisihkan selimutnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lain denganku yang sudah siap menuju ruang makan untuk mengambil sarapan pagiku. Perutku yang sudah meminta jatah untuk segera aku isi sehingga tanpa peduli dengan mereka yang masih saja bersiap-siap dan beberapa yang asik dengan ponselnya masing-masing membuatku langsung menuju rung makan tanpa omong kosong.
“Oke teman, aku duluan ya, guys,” ucapku kepada teman sekamarku sebelum aku menutup pintu kamar.
“Oke, Zub. Makan yang banyak ya,” jawab Noni samar-samar di balik pintu yang sudh tertutup dengan rapat.
Setelah itu aku selesai melakukan aktivitas yang tidak boleh terlewatkan, aku langsung kembali ke kamar untuk bersiap-siap dengan agenda yang akan kami lakukan hari ini.
Kembali berkutat dengan pesan-pesan lawak yang kami lakukan secara diam-diam melalui social media. Sesekali kami tertawa bersama ketika ada hal-hal yang kemungkinan mengundang tawa semua orang, bahkan akupun juga ikut tertawa ketika melihat apa yang mereka tertawakan. Sungguh, mereka semua sangat kekurangan pekerjaan hingga teman kami yang sedang tertidur selama perjalanan mereka abadikan kemudian mereka sebarkan ke dalam pesan grup hingga kami sampai tujuan.
Hari ini, kami bersenang-senang tetapi sambil memperlajari sejarah yang diceritakan oleh juru jalan yang kami ikuti. Dari tempat satu hingga menuju tempat yang lainnya.
“Zub, naik sepedaan yuk?” ucap Nura ketika menghampiriku sembari menunjuk sepeda yang terpajang tidak jauh dari tempat kami berdiri. Aku hanya mengangguk sebagai tanda bahwa aku menyetujuinya. Aku pun langsung menarik tangannya menuju tempat yang ia tunjuk beberapa saat yang lalu. Setelah kami sampai ditempat tersebut, kami memilih sepedanya dan memakai topi yang diberikan oleh orang yang menyewakan sepedanya. Aku memakai topi warna putih dan temanku memakai topi warna merah. Kami membawa sepedanya ke tengah lapangan yang dikelilingi oleh museum Fatahillah.
Sayangnya, kejadian menggemparkan rombongan kami pun terjadi akibat kelakuanku dengan temanku yang bersepedaan. Aku berteriak ketika didepanku terdapat temaku yang bersepeda dengan lajunya mengarah ke arahku, disamping kakiku yang pendek sehingga aku tidak mampu mengontrol sepeda yang aku bawa, rasa terkejutku juga membuatku kehilangan kendali sehingga aku dan temanku yang bernama Rizal Said pun terjatuh dari sepeda. Kakiku sedikit terkilir karena tertindih oleh sepeda yang aku gunakan tadi. Sakit? Tentu saja. akan tetapi, rasa malu yang aku dapatkan membuatku kehilangan rasa sakit yang tergantikan oleh rasa malu. Kejadian itu pula yang membuatku berhenti untuk bermain sepeda dan lebih memilih untuk berfoto-foto ria dengan sahabat-sahabat terbaikku yang sedari tadi hanya menonton kejadian yang menimpa diriku. Sungguh memalukan, pikirku.
***
Dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan berikutnya, diisi dengan beberapa canda tawa baik itu tentang apa yang kami lihat maupun tentang kejadian yang baru saja menimpa diriku pun mereka buat lelucon-lelucon yang sesekali membuatku tersenyum malu.
“Masih sakit lah, Zub?” tanya Iis dengan nada sedikit mengejek kemudian diirngi oleh tawa mereka.
“Ah, itu nggak ada apa-apanya. Kecil, bentar lagi juga sembuh,” sanggahku samb il menjentikkan jariku bahwa aku tidak merasakan sakit walaupun faktanya bahwa kakiku memang sangat sakit yang aku sadari bahwa terdapat sedikit memar pada bagian tulang keringnya.
“Alah. Sok kuat kam, Zub” celetuk temanku lagi yang bernama Nura.
“Sudahlah, jangan mengejek yang lebih tua,” sanggahku lagi membela diri.
“Dasar tuha,” ucap Nura dengan penuh penekanan pada kata tuha kemudian diiringi oleh sorakan mereka berempat.
Selalu saja aku yang terpojokkan disini. Sabar, Zub.
***
Aku bergegas mengeret koperku turun dari pesawat terbang. Rasa dingin pun sudah mulai menusuk masuk ke dalam hidung. Udara disini memang benar-benar sangat dingin bahkan mengalahkan dinginnya AC yang ada di sekolahku. Dengan sedikit ragu aku bertanya dengan temanku mengenai suhu lokasi yang kami tempati sekarang.
“Berapa suhunya sekarang, say?” tanyaku kepada siapa saja yang mau menjawab.
“Lima derajat selsius, Zub,” jawab salah satu temanku yang sepertinya sedang duduk di depan.
Aku sedikit mengeratkan jaket yang kini aku kenakan karena udara semakin dingin menusuk tulang. Sedikit bergetar yang kurasakan ketika aku berbicara.
“Zub, ini pake aja punya ku. Aku bawa dua kok, jadi ini bisa kamu pakai,” ucap temanku sembari memberikan shall kepadaku. Dengan ragu-ragu aku menyambut shall pemberiannya. Sebelum aku menegangnya dengan sempurna, aku kembali menatapnya dengan tatapan bertanya apakah dia yakin ingin meminjamkan shal itu kepadaku. Dan tentu saja ia menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan keputusannya untuk meminjamkan shallnya kepadaku.
“Thanks, Ka,” ucapku berterima kasih kepadanya diiringi dengan senyuman berterima kasih. Ya, walaupun aku hanya menggunakan jaket yang tidak terlalu tebal, setidaknya aku masih bisa mengurangi rasa dinginku dengan menggunakan shall ini.
***
“Cuss, guys. Ayo kita turun, udah sampai,” teriakku dengan semangat sambil berdiri dan berjalan mendekat ke arah pintu bus untuk segera keluar. Rasa tidak sabarku bersarang di kepalaku ketika turun dari bus. Menikmati pemandangan yang begitu indah terpampang nyata di depan mata.
I’m coming, Turki,” ucapku ketika mendekat ke arah air mancur yang menghiasi taman Blue Mosque.
“Zub, kam tuh selalu hiperaktif dimanapun berada, semangat banget?” kata salah satu temanku yang berjalan mendahului diriku.
Aku tidak ingin menanggapi ucapannya sehingga aku hanya menghiraukannya saja. yang aku tahu bahwa aku datang kesini kan buat mencari ilmu dan mencari ilmu itukan harus semangat dan bahagia. Karena semangat yang sangat menggebu-gebu di dalam diriku membuatku berjalan dengan tergesa-gesa untuk mendekati air mancur yang begitu cantik tanpa memperhatikan jalan yang aku pijak. Bahkan sesekali aku berbicara dengan temanku yang berada di belakangku sambil berjalan mundur.
“Aw!” pekikku ketika tanpa sengaja kakiku tersandung oleh kursi taman yang ada dibelakangku hingga aku terduduk di kursi itu. Beberapa temanku ikut tertawa melihat kelakukan konyolku hari ini. karena aku telah beberapa kali ditertawakan untuk hari ini, setidaknya aku harus memasang wajah datarku untuk mengurangi sedikit rasa malu yang menimpa diriku.
Aku pun segera memanggil temanku yang lewat di depanku untuk dimintai pertolongan. Bukan pertolongan untuk bangkit dari rasa Maluku, tetapi untuk aku mintai tolong agar dia mau mengambil fotoku di depan air mancur itu.
“Den, bisa minta tolong nggak? Ok. Tolong fotokan aku di situ,” ucapku sambil memberikan ponselku kepadanya tanpa menunggu persetujuan darinya. Ia juga hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan dariku.
Aku mengucapkan terima kasih kepadanya setelah aku menerima kembali ponsel yang tadi aku berikan kepadanya untuk mengambil gambarku.
“Lumayan. Thanks, Den.”
“Hmm,” jawabnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun kepada ku. Membuatku kesal aja.
Kami menjelajahi masjid peninggalan bangsa Romawi yang bernama Blue Mosque. Sesungguhnya nama masjid itu bukan Blue Mosque, tetapi karena warna mesjidnya yang dominan dengan warna biru sehingga disebut dengan Blue Mosque.
Saat itu hari jumat sehingga sekitar masjid itu sangat ramai pengunjung, ditambah dengan waktu yang menunjukkan hampir tengah hari sehingga banyak orang yang berbondong-bondong memasuki masjid itu, baik laki-laki maupun perempuan untuk melakukan shalat Jumat berjamaah. Begitu juga dengan kami yang ikut serta di dalam sana.
Sebenarnya, aku dan teman-temanku telah terbiasa ikut serta salat berjamaah, sayangnya ada satu kejanggalan ketika kami ikut salah jumat berjamaah disana, merasa tidak khusu karena bahasa yang mereka gunakan bukan bahasa inggris melainkan bahasa Turki yang sama sekali tidak mampu untuk kami pahami apa maksud dari khutbah yang disampaikan sehingga kami para perempuan memutuskan untuk shalat berjamaah lebih dulu tanpa mengikuti imam utamanya.
“Yuk, kita keluar duluan dan nunggu cowoknya diluar aja,” kata guru yang membimbing kami selama disana.
Kami pun segera beranjak dari tempat kami salat dan meninggalakan tempat kosong untuk segera diisi oleh makmum lainnya yang berada dibelakang kami. Mereka memang tertib karena tanpa diminta pun mereka langsung mengisi shaf kosong yang berada di depan mereka. Sepertinya Indonesia wajib mencontoh sikap seperti ini.
Setelah selesai melakukan salat jumat berjamaah, kami semua kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat makan. Karena waktu memang telah menunjukkan waktu makan siang dan perut ini memang sudah meminta jatahnya untuk segera diisi secepatnya.
“Yeay, makan,” ucapku dengan semangat setelah mendengar kata makan dari guru pembimbing kami. Ditambah dengan tutran beliau jika kami semua akan makan di warung Nusantara dimana semua makanan yang dijual disana merupakan makanan dari Indonesia yang memang dimasak langsung oleh orang Indonesia. Dan sepertinya, rasa memang tidak bisa dibohongi sebagaimana rasa makanan yang begitu lezat.
Setelah selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan kami semua menuju beberapa tempat lagi sebelum pulang ke hotel. Pembimbing kami mengatakan kepada kami bahwa besok hari kami akan melakukan kunjungan ke beberapa lokasi pendidikan seperti sekolah, kampus, nahkan perpustakaan dan pusat-pusat penelitian dari para ilmuan yang Berjaya pada masa Romawi.
***
Tidak terasa beberapa hari telah kami lalui di Istanbul, Turki. Dan hari ini kami semua akan pergi ke taman Tulip dimana terdapat banyak sekali bunga tulip disana, tidak hanya itu, pemandangan yang sangat indah akan disuguhkan untuk kami semua. Tak akan ada yang kecewa jika kesana karena kalian semua akan merasa senang dan terhidur ketika kaki kalian telah menginjak taman tersebut. Ratusan bunga Tulip bermekaran, bukan ratusan tetapi ribuan bahkan mungkin jutaan. Entahlah, aku tidak berniat untuk menghitung seberapa banyak bunga Tulip yang ada disana, yang aku inginkan adalah menyegarkan pikiranku setelah beberapa hari yang lalu kami dihadapkan oleh pelajar-pelajar dari Istanbul yang berada disekolahnya dengan bahasa yang sama sekali tidak mampu kami pahami. Kami hanya dapat berbicara dengan beberapa orang saja yang mengerti dan paham bahasa Inggris, sisanya kami hanya berinteraksi menggunakan bahasa tubuh. Sedikit sulit, tapi itu sangat menyenangkan. Dan hari ini akan semakin menyenangkan karena agenda kami adalah liburan dan bersenang-senang.
Berbagai macam warna bunga Tulip ada disana, ada yang berwarna merah, putih, kuning, ungu, dan banyak lagi. Seskali kami mengambil gambar dari bunga itu. Bahkan tidak lupa pula untuk kami mengabadikan diri kami kedalam sebuah gambar digital bersama dengan bunga-bunga Tulip yang terangkai dengan indahnya demana-mana. Sebelum pulang kami semua juga sempat mengambil gambar bersama dengan latar tulisan Istanbul yang dikelilingi oleh bunga Tulip.
Pemandangan yang sangat indah untuk dijadikan latar belakang.
“Ayo nak. Semuanya merapat, kita foto-foto dulu sebelum lanjut ketempat berikutnya yang akan lebih menyenangkan,” ajak guru pembimbing kami agar kami yang tadinya memencar kesana kemari langsung segera merapat.
“Aku ditangah!” ucapku sedikit berteriak sambil berlari-lari agar dapat posisi di tengah. Sayangnya, saat aku sudah tiba ditempat, posisi ditengah telah diisi oleh temanku sehingga aku hanya duduk di samping guru pembimbing kami semua. Sedikit kesal karena gambar kali ini posisiku agak kesamping dari biasanya. Tidak apa-apa aku di samping, yang penting aku masih termasuk di dalam gambar tersebut dan masih menjadi bagian dari mereka semua.
“Zub, ayo!” ucap temanku sambil menarik tanganku agar aku mengikuti langkahnya. Dengan semangat aku pun mengikutinya dengan kebiasaan ku yaitu berbicara sambil berjalan mundur. Dan seperti biasa pula aku tersandung sesuatu, bedanya jika awal aku menginjakkan kaki di taman Blue Mosque aku tersandung kursi taman kemudian terduduk maka kali ini aku tersandung batu dan menabrak orang asing yang badannya sedikit gempal.
Ops. Sorry, Sir,” ucapku dengan wajah sangat malu kepada orang yang aku tabrak.
No problem, girl. Be carefull later,” jawabnya ramah.
Thank you, sir,” jawabku lagi sambil menunduk menahan malu katika ia hendak berlalu meninggalkanku. Oh Tuhan, ini begitu sangat memalukan. Sedangkan temanku yang melihat tingkah konyolku hanya kembali tertawa, sedangkan aku? Tentu saja masih sangat malu hingga tiba di luar gerbang. Aku sangat yakin jika saat itu wajahku pasti sangat memerah karena menahan malu yanmg sangat luar biasa. Tapi, ada rasa sedikit bahagia yang menyelinap ke dalam relung hatiku ketika aku malau dan mereka tertawa bahagia menertawakanku.
“Sudahlah, aku pasrah,” ucapku dengan pasrah sambil menempelkan pantatku ke kursi empuk yang ada di bus kemudian mneyenderkan badanku. Ku ingat-ingat kembali kejadian memalukan apa saja yang telah aku lakukan selama berada di Istanbul ini hingga suara guru pembimbing kami yang biasa dipanggil Miss Rinda itu membuyarkan lamunanku.
Alright. All of you complete, guys?” tanyanya memastikan bahwa semua siswa telah masuk ke dalam bus.
Yes, Miss,” jawab kami serentak. Tetapi, walaupun kami telah menjawab bahwa semuanya telah lengkap, beliau tetap saja menghitung kembali untuk emmastikan bahwa semuanya memang benar-benar lengkap.
“Okay, setelah ini kita akan makan siang dulu, setelah makan siang baru kita akan melanjutkan perjalanan kita menuju laut Marmara sambil menaiki kapal,” tutur beliau yang ku sambut dengan gembira. Sayangnya, beberapa dari kami sudah ada yang terlihat lelah sehingga ia tidak begitu menghiraukan apa yang diributkan oleh kami semua, lebih tepatnya oleh diriku yang berada disampingnya.
Kali ini, kami kembali makan siang di warung Nusantara, tempat makan yang menjadi kesukaan kami semua. Dan seperti biasanya, aku merupakan salah satu diantara kami semua yang makannya paling lahap.
“Kamu tuh doyan apa lapar, Zub?” tanya temanku Dita dengan heran karena aku menhabiskan makanan yang ada di depanku dengan cepat.
“Entahlah, mungkin keduanya,” jawabku enteng. Kemudian aku meminta temanku untuk mengabadikanku ke dalam sebuah gambar sebagai bukti bahwa aku telah makan banyak. Bukan sesuatu yang membanggakan memang, tapi aku bangga dengan hal itu. Ketika banyak orang yang tidak menghabiskannya, maka aku akan jdi orang yang menghabiskan makananku dengan cepat.
***
Makan siang telah usai, perutpun telah berhenti untuk berdemo meminta jatahnya. Dan sekarang saatnya melanjutkan libutan yang sempat tertunda oleh kewajiban kami sebagai manusia biasa yang memerlukan asupan gizi sebagai bahan bakar.
Selanjutnya, kami semua akan menuju pelabuhan dimana kami akan dibawa mengarungi lautan Istanbul yang memisahkan antara benua Asia dan Eropa. Laut Marmara. Laut yang menjadi perbatasan antara laut biasa dengan laut mati. Kenapa bisa dikatakan sebagai laut mati? Dari penjelasan yang aku tangkap, laut itu disebut sebagai laut mat karena kadar garamnya yang sangat tinggi sehingga tidak memungkinakan untuk makhluk laut seperti ikan dan tumbuhan laut untuk dapat hidup di sana. Dan kini, aku tengah berada diantara lautan tersebut.
Jika di Indonesia, maka kami akan berbondong-bondong menuju bawah kapal untuk berlindung dari panasnya sinar matahari pada siang hari agar tidak terbakar kulitnya. Akan tetapi, lain hal nya saat ini katika matahari tepat berada di atas kepala kami, kami semua berada di bawahnya untuk mendapatkan kehangatan tersendiri. Itu semua karena terlalu dingin.
“Zub, ayo foto,” ajak temanku ketika menhampiriku yang sedang dudk bersama dengan Rizal Said sambil bertukar cerita ditambah dengan leluconnya yang membuat siapa saja pasti akan tertawa. Iis mencondongkan kameranya ke arah kami bertiga untuk diabadikan.
“Buncisssss,” ucap Rizal panjang memberi kode untuk tersenyum pepsodent.
“Lagi?” kata Iis menawarkan. Dan tentu saja dihadiahi anggukan olehku. Siapa yang tidak mau jika di ajak foto gratis.
Setelah selesai berfoto-foto ria, Iis mengambil ponselnya untuk melihat hasil jepretannya beberapa waktu yang lalu. Hasilnya pun tidak terlalu buruk, dengan wajah yang ceria dan latar belakang yang begitu menakjubkan menambah kesan bahagia ke dalam gambar tersebut. Aku hanya mampu tersenyum dan tak mampu untuk berkata-kata lagi bagaimana caranya untuk mengungkapkan rasa bahagia yang terpendam.
Tinggal beberapa hari lagi semua ini akan berakhir, dan kami tentunya akan melanjutkan perjalanan kami dikota dan Negara yang berbeda. Baik itu suasana maupun keadaannya. Tentu saja, hal ini tidak akan pernah kami sia-siakan sehingga kami akan selalu membuat setiap detik yang kami lalui bersama menjadi berharga dan dapat di kenang ketika kami telah meninggalkan sekolah tercinta. Apalagi kalau bukan foto bersama.
“Aku di depan,” celetukku ketika mereka menyusun barisan agar rapi. Dan tentu saja aku mengacaukan susunannya ketika aku mengambil posisi di depan tanpa ada perintah ataupun aba-aba dari mereka.
Kali ini aku berada di depan, karena aku tidak ingin tertutupi oleh mereka-mereka yang badannya jauh lebih besar daripada badanku. Sayangnya, aku bersebelahan dengan orang yang lebih besar sehingga aku terlihat kecil dan sulit untuk di temukan dalam waktu singkat.
Setelah selesai berfoto ria, kapal pun sampai di pelabuhan dan kami pun juga berhamburan menuju tepi kapal untuk segera turun.
Ketika berjalan menuruni kapal, aku sesekali mendengar mereka berbicara seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru dari ibunya.
“Senangnya.”
“Airnya juga sangat jernih, terus bersih.”
“Lihat itu!”
“Wah, ubur-uburnya cantik.”
“Mana-mana?” tanyaku penasaran mendengar mereka berbicara tentang ubur-ubur ketika sampai di pelabuhan tempat kami berhenti. Aku seketika diam ketika melihat ubur-ubur dengan sangat jelas sedang berenang di dalam air yang sangat jernih.
“Itu bisa nyetrum nggak, say?” tanyaku.
“Nggak tahu. Tanya aja sama ubur-uburnya,” jawab Nia.
Eh? Memangnya ubur-ubur bisa jawab kalau ditanya? Pikirku. Dan seketika itu juga aku merasa bodoh ketika disuruh bertanya dengan ubur-ubur. Aku hanya tersenyum dan menghiraukan ucapan Nia tadi kemudian menjauh dari gerombolan tersebut.
Hari telah menunjukkan sore dan kami semua akan segera kembali ke hotel, karena besok adalah hari terakhir kami di Istanbul ini, dan besok kami melakukan persembahan tarian Nusantara sehingga kami semua pulang lebih awal dari biasanya agar dapat melakukan persiapan mala mini sebelum tampil esok hari.
“Seperti biasa anak-anak, handphone kalian harus di kumpul sebelum pukul sepuluh malam nanti,” ucap guru pembimbing kami memperingatkan kami semua untuk disiplin.
Malam pun telah menyapa kami semua, dengan langit yang sangat cerah bertabur bintang-bintang yang tidak terlalu Nampak akibat cahaya jalanan yang begitu terang. Malam terakhir memang terasa begitu panjang untuk dilewatkan. Tidak terasa satu minggu aku lewati disana bersama dengan teman-temanku. Tertawa, bercanda, berbagi cerita terhadap orang lain, bahkan mengambil banyak pembelajaran yang tidak mampu untuk aku tuangkan ke dalam sebuah tulisan singkat ini.
Esok hari adalah hari terakhir ku berada di Turki sebelum kami semua melakukan kegiatan suci di kota yang suci pula. Tak ada sedikitpun kebahagiaan yang terlupakan di benakku. Malam yang selalu digin dengansuu ruangan yang tidak pernah di naikkan oleh teman sekamarku, Yessi.
***
Hari yang berat sekaligus bersejarah bagi kami semua. Hari dimana ditutup dengan berbagai pendidikan moral dan pengetahuan yang sangat luar biasa. Kebersamaan yang telah terjalin antara kami dengan mereka harus terpisahkan oleh jarak dan waktu, akan tetapi aku sangat yakin, jika semua yang telah mereka berikan kepada kami itu adalah sesuatu yang sangat berharga yang tak akan ternilai dengan seberapa lyra yang mereka dan kami punya.
Setiap pertemuan itu pasti aka nada perpisahan, begitu juga dengan apa yang kami rasakan saat ini. Rasa rindu akan kebersamaan itu, beberapa kali air mata menetes, akankah semua ini berakhir? Ya tentu. Tapi itu semua adalah jalan yang harus aku dan teman-temanku tempuh untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.
***
Kamis, 6 April 2017
Waktu satu minggu memang waktu yang sangat singkat jika dilalui secara bersama-sama. Tak aka nada rasanya kekeluargaan jika hanya canda tawa saja yang tercipta tanpa adanya tangisan. Karena sebuah tangisan adalah perekat kekeluargaan kita semua.
Berat hati rasanya melangkah meninggalkan Negara yang penuh kekayaan ini, baik itu secara ilmu pengetahuan umum maupun ilmu agama. Tradisi mereka yang begitu memukau membuat aku dan teman-teman yang lainnya merasa betah berlama-lama. Akan tetapi, kami semua sadar bahwa ini adalah hasil manis yang akan kami peroleh bagi kami kami yang selalu gigih dan bersabar dalam melewati setiap ancaman dan rintangan dalam mencapai harapan dan cita-cita yang mulia.
“Ayolah kawan, jangan sedih. Nanti, kalau ada rezkinya kita pasti bisa kesini lagi,” ucap Nura yang berusaha untuk menghiburku ketika ia melihat air mataku jatuh.
“Iya, Zubai. Jangan sedih, nanti kita ke sini lagi sama-sama,” sambung Anti yang ikut serta menenangkanku.
“Makasih,” ucapku sambil menghapus air mataku dan kemudian tersenyum kepada mereka.
Aku beruntung memiliki kalian, ucapku dalam hati lalu menarik tangan mereka untuk segera menuju bus karena kami akan segera menuju Bandara.
Zubaidah. Take care for this flight. I know you are strong woman and best girl.  I trust you that you can change the world to be better. And that’s all in your hand, I love you, Zu,” ucap salah satu juru jalan kami selama di Turki.
Aku tidak sanggup untuk menahan air mataku lagi, aku menangis dipelukannya karena kalimatnya.
Love you too, Nad,” jawabku sembari melepaskan pelukan kami berdua.
“Ayo, Zubai,” ajak guru laki-laki ku dan aku jawab dengan anggukan.
Sekali lagi aku memeluknya dan mengucapkan kalimat perpisahan yang begitu menyayat hati. Tapi di sisi lain aku yakin bahwa ini semua adalah benar.
See you again, Nad,” ucapku sambil melambaikan tanganku ke arahnya.
See you again, Zu. InsyaAllah,” jawabnya dengan suara bergetar karena kau juga yakin bahwa ia juga sama sepertiku yang berat untuk melepaskan.
Setelah cukup lama kami semua menunggu, akhirnya penerbangan ke Madinah akan segera lepas landas. Aku yang berada dibalik jendela pesawat, masih menatap nanar Negara yang begitu damai dan menenangkan untuk dikunjungi.
“Udahan, Zub. Nanti kesini lagi kalau ada rezkinya,” ucap Nisrina teman yang duduk di sebelahku.
“Insyaallah,” jawabku singkat lalu aku bersender dan memejamkan mataku untuk menenangkan pikiranku.
Turkey, wait for me. Because I will come  here, later. Ucapku dalam hati.
Dan pesawat pun lepas landas meninggalkan Istanbul.
See you, good bye Turkey,” ucap temanku yang berada di sampingku.
***
Begitu berkesan jika diingat, hampir dua tahun yang lalu aku menginjakkan kaki di sana bersama dengan teman-temanku keyika aku menginjak kelas 11 SMA. Dan sekarang aku telah berada di perguruan tinggi untuk melanjutkan belajarku, semua itu tinggallah kenangan manis yang akan selalu aku kenang. Melihat dan menikmati betapa indahnya ciptaan Tuhan yang tersuguhkan untuk manusia-manusianya yang mampu merawat buminya dan berhasil menjaganya.
Istanbul. Kota bersejarah dimana terjadinya penakhlukkan Konstantinopel, kejayaan Islam yang begitu amat besar hingga menguasai hampir sebagian eropa. Megukir cerita terhebat sepanjang sejarah.
Sekarang, aku memang bukan bagian dari sejarah hebat tersebut, tapi aku adalah bagian dari orang-orang yang memiliki niat untuk belajar dari sejarah demi membangun peradaban dunia yang lebih baik lagi. Terima Kasih.


Thank you so much bagi kalian yang udah meluangkan waktunya untuk membaca sekilas cerita yang sangat tidak jelas ini. tapi aku hanya punya harapan agar sekilas cerita tidak jelasku ini dapat memotivasi ataupun menggetarkan kalian semua bahwa hidup itu tidak hanya bahagia, tetapi juga ada berbagai macam rasa di dalamnya yang akan semakin menambah warna dalam kertas lukis kehidupan kalian semua... Mari kita jadikan sejarah pada zaman keemasan menjadi tombak bagi kita semua dalam memperbaiki zaman yang mulai sirna oleh budaya tak beretika...

Jumat, 03 Agustus 2018

The Power of Thinking Big

The Power Of Thinking Big

    setiap manusia mempunyai mindset tentang dirinya dan tentang lingkungannya. Berbicara mindset, mindset sendiri adalah sesuatu yang hadir antara pemikiran dari otak dan hati yang berkolaborasi menjadi sebuah keputusan-keputusan yang berarti untuknya. Baik itu semacam keputusan untuk melakukan hal baik maupun hal buruk dalam menghadapi kehidupan atau pilihan bahkan sebuah peristiwa yang memerlukan jangka waktu pendek untuk berpikir. Kita bisa melihat sebagai contoh ketika kita dihadapkan oleh sebuah kejadian dimana seseorang mengalami kecelakaan parah, dan di sekelilingnya tidak ada satupun orang yang lewat. Seketika kita yang melihatnya pasti berpikir, apakah kita akan menolongnya tetapi disuruh bertanggung jawab atau memilih pergi dari tempat perkara dengan membiarkan orang tersebut terkapar kesakitan? Hati nurani pasti akan berbicara sebagai kebaikan, sedangkan otak akan berpikir logika dan rasa ketakutan.
         Sebagai manusia normal, jika melihat seorang mengalami kecelakana dan berpikir bahwa dia juga membutuhkan orang lain, maka refleks pribadi langsung menolongnya. Hal itu termasuk berpikir dan merefleksikan kebiasaan-kebiasaan yang baik.
        Setiap manusia pada dasarnya adalah manusia yang baik. Memang faktanya tidak semua manusia menunjukkan sikap baiknya karena setiap manusia lahir di keluarga dan lingkungan berbeda-beda yang mendukung pertumbuhan sikapnya sehingga menciptakan sikap dan perilaku yang terdapat pada dirinya. Namun, jika kebaikan berpikir dirinya lebih kuat, maka disitulah letak kekuatan berpikir yang akan menuntunnya ke arah yang lebih baik.
           Pikiran yang baik adalah sebagai awal penentu hasil yang baik pula. Jangan pernah takut untuk berpikir positif tentang diri anda sendiri. Lingkungan hanya membantu anda untuk mengenali siapa teman-teman Anda, tetapi lingkungan tidak adapat membantu anda mengenali diri jika tidak kita sendiri yang melakukannya. Seringkali manusia berpikir bahwa lingkungan buruk akan membuat seseorang tersebut tumbuh menjadi orang yang memiliki pemikiran dan tingkah laku yang buruk.
           Jarang sekali dari kita yang berpikir dari sisi lain mengenai lingkungan seseorang, kebanyakan dari kita hanya berpikir dengan satu sudut pandang sehingga kita tidak pernah menemukan sudut pandang lain yang jauh berbeda dengan sudut pandang negatif yang seringkali kita gunakan. Seperti halnya lingkungan yang mempengaruhi seseorang. Cobalah sesekali berpikir dengan sudut pandang positif mengenai lingkungan buruk untuk tumbuh kembangnya perilaku seseorang. Coba dari sekarang untuk menngunakan akal pikiran positif mengenai orang yang tinggal dilingkungan buruk. Orang yang tinggal di lingkungan buruk atau kurang baik belum tentu menjadikannya orang yang kurang baik pula, bisa jadi lingkungan tersebut malah menjadikannya seseorang lebih baik sebab lingkungan yang kurang baik mampu mengajarkannya untuk bersikap lebih gesit untuk menghadapi lingkungan tersebut.
         Sekali lagi kita mengambil contoh, misalnya seorang anak muda yang hidup di tengah orang-orang yang suka mencuri. Coba bayangkan apa yang akan terjadi pada pemuda tersebut? Bisa jadi kebanyakan dari kita berpikir bahwa pemuda tersebut juga akan tumbuh menjadi seorang pencuri. Tapi apakah ada hal positif yang tertanam dibenak anda bahkan kita semua mengenai hal tersebut. Adakah yang berpikir bahwa pemuda tersebut tumbuh menjadi orang yang gesit dan penuh perhatian dan ketelitian serta kehati-hatian dalam menangani sebuah kasus? Mungkin sedikit dari kita yang berpikir seperti itu. Mari kita berpikir positif dengan pemuda tersebut, ketika lingkungannya seringkali digemparkan dengan kasus kehilangan, maka secara tidak sadar pemuda tersebut menjadi salah seorang yang menajamkan inderanya untuk waspada terhadap pelaku yang mungkin saja akan membuat pemuda tersebut menjadi korban, dengan itu pemuda tersebut semakin teliti terhadap gerak-gerik seseorang yang baik ataupun mencurigakan sehingga setiap hari ia selalu melatih kemampuan tersebut yang dapat diandalkan dalam kinerjanya sehari-hari. Ketelitiannya dalam melihat dan kehati-hatiannya dalam menghadapi masalah menjadikannya pemuda yang bertanggung jawab, baik atas dirinya maupun atas orang lain.
         Sekarang saatnya kita mulai untuk melihat dari berbagai sudut pandang positif dan bukan hanya memakai satu sudut pandang yang akan membuat kita semakin tertinggal dan takut melakukan perubahan karena terpatok pada sudut pandang negatif yang seringkali digunakan untuk menganalisa ataupun memustuskan suatu permasalahan kehidupan. Hanya dengan berpikir positif dari berbagai sudut pandang dapat membuat berbagai permasalahan terselesaikan dengan rapi tanpa menambah permasalahan atau membuat individu sendiri merasa tertekan dan kemudian terjangkit stress. Bahkan semakin mudah melangkahkan kaki menuju tujuan yang sudah ada di depan mata.

 "Setiap kesuksesan dan kebaikan ada di tangan orang-orang yang mau berpikir positif dari sudut pandang berbeda terhadap dirinya ataupun orang lain bahkan terhadap lingkungan tempat tinggalnya sendiri. Karena setiap pemikiran positif membukakan celah positif dan menutup sudut pandang negatif yang mmpu menjatuhkan kita ke lembah kenistaan"
-Zu-
*** 

Hanya itu saja yang dapat saya baginya, beberapanya saya kutip dari buku 'The Miracle of Thinking Big'. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Jumat, 22 Juni 2018

Bersyukurlah atas Kegagalan


“BERSYUKURLAH ATAS  KEGAGALAN”
Description: C:\Program Files (x86)\Microsoft Office\MEDIA\CAGCAT10\j0302953.jpg
Mengapa saya katakan bahwa kita harus bersyukur dalam kegagalan? karena ketika gagal kita mampu melihat kembali  kebelakang mengenai apa yang telah kita lakukan dibelakang hingga saat ini yang menyebabkan kegagalan menghampiri kita, apakah yang kita lakukan selama ini telah benar adanya atau hanya setengah-setengah? Apakah pengorbanan yang kita lakukan telah sungguh-sungguh ataukah hanya main-main saja? Apakah niat yang kita tanamkan telah benar ataukah hanya sebagai pembenaran belaka? Coba kita renungkan kembali.
Saat kita merenungkan kembali, disitulah kita mampu menyukuri sebuah kegagalan. Seandainya kita berhasil dan pada saat yang sama kita memiliki niat yang kurang bagus dan usaha yang biasa-biasa saja, maka kita tidak akan tahu bagaimana seharusnya kita berjuang dengan sungguh-sungguh. Disaat kita berhasil tanpa sebuah pengorbanan yang besar, maka hasil yang akan kita rasakan juga tidak besar dan akan sangat terasa biasa-biasa saja. Mengapa demikian? Karena perjuangan yang kita lakukan juga biasa-biasa saja.
            Saya memiliki cerita mengenai kegagalan saya dibidang yang saya cintai. Jadi ceritanya begini, saya adalah orang yang sangat mencintai yang namanya Matematika. Jika sebagian besar orang berpikir bahwa matematika itu sulit dan membosankan. Maka kedua kata yang menjudge itu tidak berlaku bagi saya karena bagi saya Matematika itu adalah hal yang menyenangkan dan saya suka itu. Akan tetapi, kemujuran belum pernah berpihak pada saya karena saya belum pernah sekali pun memenangkan perlombaan akademik di dalam bidang Matematika ini. Saya merasa saya telah bisa mengerjakannya tetapi saya belum juga mendapatkan kata juara tersebut hingga perlombaan matematika terakhir yang saya ikuti sebelum saya benar-benar vakum dari dunia perlombaan akademik. Saya sempat berpikir untuk dapat menjuarai OSN bidang Matematika, sayangnya saya tidak memiliki kesempatan itu. Saya hampir putus asa dan tidak akan berharap lagi mengenai hal tersebut karena saya yakin bahwa yang akan mewakili OSN tersebut adalah teman saya. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain dan memberikan saya jalan untuk mengikuti OSN dibidang Fisika. Awalnya saya tidak yakin dengan hal tersebut,  tetapi saya teringat akan janji saya setahun yang lalu bahwa saya akan membawa juara untuk OSN tahun berikutnya dan mungkin ini adalah jalan saya. Saya kembali bangkit dan berusaha sekuat tenaga dan semampu saya untuk dapat membuktikan hal tersebut. Hingga hari pengumuman tiba, saya dinyatakan sebagai peraih juara pertama OSN bidang Fisika.
            Terkadang, seringkali kita terperosok dalam kegagalan dan sangat sulit untuk bangkit lagi karena kita takut akan gagal kembali. akan tetapi, apakah kita akan mengetahui seberapa dekat kita dengan kemenangan yang akan kita raih dan seberapa dekat kita dengan kegagalan. Seandainya saja, pada saat itu saya menolak tawaran untuk mengikuti OSN tersebut, mungkin saja saya tidak akan mendapatkan kejuaraan itu. Seandainya saja, saya menolak tawaran tersebut makan saya tidak akan tahu seberapa dekat saya dengan kemenangan.
            Teman-teman sekalian, seringkali kita lupa untuk bersyukur atas kegagalan yang telah kita raih, kita menyalahkan kegagalan dan meninggalkannya tanpa berpikir bagaimana bisa kegagalan itu terjadi. Kita lupa untuk bersyukur atas kegagalan tersebut, hingga akhirnya kita lupa mengoreksi kejadian sebelumnya yang membuat kita kembali mendapatkan kegagalan yang sama karena kesalahan yang sama. Itulah sebabnya, kita harus bersyukur atas kegagalan yang pernah kita capai untuk memperbaiki kegagalan yang telah terjadi.
            So, cobalah untuk menyukuri kegagalan apa saja yang pernah kita capai sebelumnya dan cobalah memperbaikinya.


Dibuat oleh ZU

Puisi_Cahaya Jiwa

  Cahaya Jiwa Halloooooo... Balik lagi bersama aku yang senang menabung dan baik hati ini. Kali ini aku akan berbagi mengenai sebuah puisi p...