Hai, guys. Balik lagi
bersama aku. Zu. Ingat, bacanya gak usah dipanjangin biar artinya gak kebun
binatang yaa…. Setelah begitu lama tidak up date di blog yang sepi pengunjung
ini akibat terlalu sibuk dengan urusan perkuliahan serta organisasi yang tak
ada matinya, dan baru kali ini aku bisa update lagi… whoaaaa senangnya. Oce,
kali ini aku akan membahas sedikit tentang sesuatu yang dapat membuat kita
berpikir kembali dan merenungi kajadian yang membuat kita mampu berdiri hingga
saat ini. apa itu? Langsung saja ya di baca…
Selamat membaca
Be Diamond
Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Ungkapan milik Rene
Descartes seorang filsuf Perancis ini menunjukkan bahwa keberadaan manusia
ditunjukkan oleh pikirannya. Manusia itu di akui eksistensinya di muka bumi
melalui pikirannya karena melalui pemikirannya menunjukkan bagaimana kualitas
diri yang dimilikinya. Melalui pikiran, manusia dapat menggerakkan manusia
untuk menjadi apapun yang diinginkannya.
Ingat kan, sekarang sudah abad
millenium dimana segala sesuatunya adalah hasil dari pemikiran manusia. Media
yang sekarang kalian gunakan untuk membaca tulisan ini adalah hasil dari
pemikiran manusia, cahaya yang menerangi kamar tidur kalian juga merupakan
hasil dari pemikiran manusia dan bahkan tempat tinggal yang sekarang kita huni
juga merupakan hasil dari pemikiran manusia, itu sebabnya manusia itu diakui
karena pemikirannya. Tidak heran jika pemikir-pemikir yang telah mencipatakan
berbagai macam kecanggihan di era revolusi 4.0 ini diakui ke eksistensiannya di
mata dunia. Banyak sekali manusia-manusia yang memberikan sumbangsihnya demi
kemajuan dunia dan mengajarkan kita bagaimana cara berpikir cerdas, bahkan
membuat perubahan ke arah yang lebih baik lagi. Namun, mirisnya zaman sekarang
adalah semakin banyaknya manusia-manusia yang hanya mau mengandalkan hasil
pemikiran orang lain tanpa mau berinovasi.
Bahkan ada yang dengan gampangnya menyebutkan bahwa “ngapain kita
harus repot-repot mikir, kan zaman sudah canggih dan kita tinggal menikmatinya
saja”. dan aku harap kalian bukan salah satunya dari manusia-manusia yang
berpikiran seperti itu. Yang kita pikirkan seharusnya adalah “bagaimana
caranya agar aku bisa menjadi salah satu orang yang dapat mengembangkan
canggihnya tekhnologi sekarang ini?”. dan itulah kata yang
diharapkan banyak orang.
Sadar
atau tidak, sebenarnya kita semua sudah terlena dengan kecanggihan yang sudah
ada sehingga kita malas untuk berpikir cerdas demi mewujudkan perkembangan
dunia yang lebih baik lagi. Hal ini karena sebagian besar individu tidak mampu
menguasai alam pikirannya sehingga mampu di perbudak oleh hasil dari pemikiran
orang lain meskipun ia telah memiliki kemampuan berpikir yang sama dengan
individu lainnya yang mampu memciptakan sebuah hasil pemikiran.
Pasti kita semua bertanya-tanya
bukan, mengapa ini bisa terjadi? Apa yang membuat kita tidak mampu menguasai
pikiran kita sendiri? Bagaimana caranya agar kita dapat menguasai pikiran kita?
So, be a diamond thinker. Apa itu? Nah guys, mari kita bahas… hehe.
Diamond atau dalam bahasa
Indonesianya itu berlian. Aku yakin kalau kalian semau para pembaca yang baik
hati dan tidak sombong tahu apa itu berlian, bukan? Tentu saja tahu.anak kecil
pun pasti tahu apa itu berlian (anak kecil yang ngaku-ngaku sih).
Berlian, batu mulia yang paling
tinggi nilai jualnya diantara semua batu mulia yang seringkali kita dengar
dalam ranah perbncangan bebatuan, termasuk batu akik yang sempat mejadi Trending
topic di beberapa kalangan. Mengapa berlian merupakan batu paling mulia di
antara batu yang paling mulia? Berlian itu tidak hanya cemerlang, tetapi juga
memiliki kekuatan yang luar biasa. Berlian sering kali digunakan untuk
menunjukkan kekuatan cinta, kemegahan, dan kemewahan. Berlian berharga bukan
hanya karena keindahan dan kemurniannya, namun karena ia telah melewati proses yang
begitu panjang.
Sebenarnya, berlian, batu bara, dan
granit berasal dari bahan yang sama, yaitu atom karbon. Meskipun begitu, namun
dengan proses pembentukan yang berbeda maka akan mengalami perubahan dan hasil
yang berbeda pula. Kuncinya adalah tekanan. Semakin dalam kedalaman, semakin
tinggi tekanan hingga akhirya karbon tersebut membentuk berlian.
Sama seperti halnya manusia,
semakin banyak tekanan yang dimiliki baik itu dari pekerjaan, keluarga,
pertemanan, bahkan kisah percintaan sekalipun akan mampu mengubah kita menjadi
sosok yang lebih baik lagi selama kita mampu mengahadapinya dengan baik.
Pribadi yang tercipta tentunya lebih kuat, lebih keras, dan lebih berharga
layaknya sebuah berlian. Jika seseorang tidak mendapatkan tekaan yang cukup,
maka ia hanya akan menjadi sebuah batu bara: mudah terbakar, murah, dan kotor.
So, kita semua pasti ingin ‘kan menjadi berlian dan tentunya melalui proses
panjang layaknya yang terjadi pada berlian. Kita bisa mengambil segala
pelajaran dari tekanan dan kekacauan yang terjadi pada hidup kita dan
menggunakannya untuk move ON ke tingkat yang lebih tinggi lagi
Pernahkah
anda berpikir mwngapa tekanan bisa mempengaruhi tingkat kualitas seseorang?
Apakah ada pola-pola tertentu yang dapat menjawabnya? Mengapa orang-orang yang
seringkali mengalami permasalahan dpaat memiliki pemikiran yang labih baik
ketimbang kita yang hanya tertawa-tawa saja setiap harinya tetapi tak mampu
berpikir lebih baik dari seorang anak
kecil yang masih memegang gagang lolipop? Mari kita renungkan sejenak dan kita
bedah apa yang membuat hal ini terjadi pada kita.
Sebuah
konsep yang menekankan adanya sebuah hubungan dekat antara situasi dengan
struktur-struktur dan tatanan yang mulanya paradoks pada satu sisi, dengan
pemborosan pada sisi lain. Konsep yang mana memperkenalkan pada sebuah
perubahan radikal, dimana ketidak teraturan justru menjadi sebuah awal
keteraturan.
Kita semua mungkin tahu bagaimana
rasanya terganggu oleh suatu situasi, meningkatnya tekanan stress hingga
mempengaruhi kondisi kesehatan kita sendiri bahkan hingga mengganggu kondisi
mental dimana kita mencapat titik yang membuat kita berada dalam kondisi paling
buruk dan tidak mampu menanganinya. Teori Prigogine menjelaskan, ketika
individu berada dalam kondisi yang
buruk, terpuruk dan penuh tekanan, alam bawah sadar justru membentuk kesadaran baru. Kesadara yang menuntun
individu tersebut untuk melakukan sebah perubahan dan memperbaiki diri sendiri
dari dalam.
Namun keadaan ini hanya berlaku
ketika individu berada dalam kondisi dan situasi yang tepat. Kondisi tersebut
adalah kondisi dimana individu mendukung
dirinya sendiri secara mental dan
emosional untuk melakukan perubahan dengan cara sehat, positif dan terarah. Hanya
dalam kondisi tersebutlah individu dapat menemukan jangkar yang dapat
membantunya melewati badai dalam kehidupan sehingga dapat mencapai tingkat
kehidupan selanjutnya.
Sama seperti dengan apa yang
diatakan oleh Albert Einstein, “ Anda
tidak dapat memecahkan masalah dari kesadaran yang sama yang menciptakannya. Anda
harus belajar melihat dunia baru.”
Dengan kata lain, kita tidak dapat
membuat kehidupan baru dengan pola pikir yang sama yang menciptakan kehidupan
kita yang kita miliki sekarang. So, berubahlah dari tekanan yang kita miliki
untuk menjadikan hidup kita layaknya sebuah berlian yang bersih dan bernilai.
Semoga saja sepatah dua patah kata
yang aku tuliskan dapat memberikan sedikit dorongan bagi kita semua untuk
berubah lebih baik lagi dari sebelumnya untuk menjadi sebuah berlian.
Semoga bermanfaat...😊😊
Terinspirasi dari sebuah buku karya
Dewi Indra P, ‘Diamond Thinker’.