Jumat, 05 Juni 2020

Akademikku Usahaku

Halo para pembaca yang budiman, teman-teman sekalian dimana pun kalian berada. Aku doain supaya kalian semua sehat semuanya.
Aku nggak ngerasa kalo ternyata aku udah lama banget ninggalin blog ini karena kesibukanku di berbagai organisasi serta beberapa lomba yang aku ikuti untuk menjaga fokus dan tentunya kuliah dong walaupun #dirumahaja.
Kali ini aku akan sedikit berbagi pendapat berhubungan dengan yang lagi buming-bumingnya dikampusku yaitu keluarnya hasil belajar dalam ranah kognitif. Btw, kalian juga udah keluar belum hasil belajar selama satu semesternya? Kalo belum aku doain semoga nilainya memuaskan dan sesuai dengan jerih payah kalian yaaa.
Langsung saja kita bahasssss….

Akademikku  Usahaku

Sebelum kita membahas lebih jauh nih, aku mau tanya dulu kepada para pembaca. Kalian pernah nggak sih banding-bandingin usaha kalian sama nilai orang lain. Padahal kalian belajarnya bareng tapi kok hasilnya beda?

Jujur aja ya, cukup kalian jawab dalam hati masing-masing. Kalau aku pribadi sih pernah sebelum aku mengerti artinya usaha. Kok bisa? Tentu saja. 
Secara garis besar, hampir lebih dari 70% anak akan melakukan hal tersebut, membandingkan nilainya dengan nilai orang lain terutama orang yang lebih pintar. Ketika ia mengetahui nilainya lebih buruk dari orang lain, maka ia akan bertanya-tanya mengapa hal tersebut bisa terjadi, lalu bagi anak yang nilainya lebih dari orang lain maka ia juga akan melakukan hal yang sama, mengapa hal tersebut bisa terjadi. Namun dari kedua hal tersebut, yang membedakan adalah sikap dalam menanggapinya.
 
Disini aku bakalan ngebahas melalui dua sudut pandang karena aku ingin bersikap netral, yaitu sebagai orang bodoh dan sebagai orang pintar dalam hal akademik. Akan tetapi, perlu aku ingatkan bahwa ini hanya pendapatku semata yang mana masih ada pendapat-pendapat lain diluar sana yang memiliki kenyataan berbeda dari yang aku sampaikan disini.
1. I AM STUPID
Pada sebuah ujian semester aku dan temanku yang lebih pintar dari ku belajar bersama selama 8 jam. Kami berdua mempelajari hal yang sama bahkan sesekali aku bertanya kepadanya. Setelah belajar kami kembali ke rumah masing-masing untuk menyiapkan ujian pada esok hari. Kemudian aku bertanya kepadanya, apakah dia belajar lagi atau tidak. Kemudian ia menjawab tidak karena menurutnya sudah cukup belajar selama 8 jam tersebut dan aku sependapat dengannya.

Setelah ujian dilaksanakan dan hasilnya dibagikan, ternyata nilaiku sangat jauh darinya, sedangkan kami sama-sama belajar dengan waktu yang sama pula bahkan kami belajar bersama. Kemudian aku bertanya kepadanya, mengapa ia bisa lebih tinggi dariku, bukankah ia yang mengajariku kemarin. Lalu ia hanya menjawab dengan acuh bahwa itu hanya beruntung. Aku pun kecewa dengan diriku mengapa aku tidak bisa seberuntung ia. Namun, apa boleh buat. Sesuatu yang sudah terjadi tidak akan dapat diulang kembali. Aku hanya dapat mensyukuri hasilku tersebut.

Berdasarakn cerita diatas, ada beberapa pesan yang dapat kita ambil dimana kita tidak bisa mengikuti orang lain, kita adalah diri kita dengan kemampuan kita. Tidak ada kata keberuntungan semata jika usaha kita telah menjawab lebih dahulu pertanyaan kita. Jangan kecewa dengan apa yang kita peroleh saat itu, karena itu adalah pelajaran bagi diri kita sendiri agar berusaha lebih baik lagi dari yang telah kita lakukan sekarang.

Jika kalian pernah merasakan hal tersebut, tenanglah. Aku juga pernah mengalami hal tersebut dan tentunya seperti yang dikatakan oleh pepatah bahwa penyesalan datang di akhir namun penyesalan datang bukan untuk disesali berlarut-larut namun untuk dipelajari sebagai bahan evaluasi diri.

2. I AM SMART
Cerita yang sama dengan yang sebelumnya, namun aku sebagai orang yang nilainya lebih tinggi dari orang lain. Aku memang merasa itu sebagai keberuntungan dan merasa biasa-biasa saja ketika temanku tu terlalu terlihat bahagia dengan nilai yang ia punya. Menurutku itu bukan hal yang perlu dibanggakan karena masih belum mencapai nilai sempurna, seharusnya ia tidak perlu sebahagia itu. Oleh sebab itu, ketika orang lain bertanya tentang pendapatku, maka aku akan menjawab keberuntungan walau aku masih tidak puas dengan nilai tersebut. Atau bahkan aku merasa kecewa juga karena mereka belum mendapatkan nilai yang sesuai dengan keinginanku.
Berdasarkan cerita tersebut, apa yang kita dapatkan? Mungkin akan ada yang berpikir, kok songong ya? kok nyebelin ya? bahkan mungkin ada yang akan mengumpatinya. Apak kalian menemukan perbedaan dengan cerita sebelumnya sebagai orang bodoh. 

Aku berpikir kalian pasti bisa menyimpulkan cerita di atas sebagai orang pintar.

Di sudut dunia mana pun, akan ada yang namanya pro dan kontra baik itu sebagai orang bodoh maupun orang baik. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari bersama jika kita menggunakan beberapa sudut pandang.
Bagi orang bodoh, siapa sih yang tidak ingin menjadi pintar, tanpa harus banyak berusaha akan mengerti apa yang dimaksud dalam pembelajaran. Namun, pernahkah sesekali kita berpikir bahwa menjadi orang pintar tentunya tidak serta merta menjadi udah karena akan ada banyak orang yang menuntutnya untuk mendapatkan lebih dan lebih lagi tanpa melihat bagaimana keadaannya. Atau bahkan ketika menjadi orang pintar, pernahkah kita tersenyum karena rasa bahagianya atas apa yang diperolehnya walau tidak sesempurna kita. But, No one is perfect.
Pesan:
1. Ingatlah bahwa usahamu tidak akan menghianati hasil. Jika kita semua ngerasa kalu usaha kita yang sama dengan orang lain hanya memberikan hasil setengahnya dari orang lain, itu berarti kita harus berusaha 2 kali lipat agar sama dan jika ingin melebihi, maka kita harus berusaha lebih lagi.
2. Dayaku tidak sama dengan dayamu. Hargai setiap hasil usaha orang lain, mungkin untuk mencapai nilai yang sama seperti orang lain, kita hanya berusaha sedikit dan akan lebih banyak menggunakan waktu ke lain hal. Namun, bagaimana dengan orang lain itu? tentu saja tidak sama. Bahkan bisa jadi ia berusaha setengah mati untuk mendapatkan hasil tersebut. oleh sebab itu, hargai orang lain karena kita tidak tahu seberapa besar usahanya untuk mendapatkan nilai tersebut.
3. Gunakanlah berbagai sudut pandang agar kita senantiasa terbiasa memahami sebelum menilai. Mengerti jika kita berada di posisi yang sama dengan orang lain, maka apa yang akan kita lakukan. Hal ini untuk meningkatkan rasa empati kita terhadap orang lain.
Itu saja pesan dariku, sesungguhny semua yang aku paparkan diatas merupakan pendapatku pribadi secara mutlak dari apa yang aku lihat disekelilingku. Semoga kita senantiasa berada dilingkup kbaikan tanpa harus menyulitkan orang lain. Berada diposisi yang aman dengan cara saling melindungi tanpa ada yang mengorbankan karena sesungguhnya, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat.

Semoga bermanfaat… and see you later.


Puisi_Cahaya Jiwa

  Cahaya Jiwa Halloooooo... Balik lagi bersama aku yang senang menabung dan baik hati ini. Kali ini aku akan berbagi mengenai sebuah puisi p...