Okey, see you again...
Heart and Brain
Like Today and Tomorrow
Mengalir
seperti air, mengikuti setiap langkah hati yang memberikan arah panah layaknya
sebuah jarum kompas. Tak ada rasa untuk mencegahnya berkata dan bertindak,
ataupun segala hal yang berusaha untuk menentang setiap keputusan yang di ambil
olehnya. Cukup kata itu, HATI.
Cukup, semua terasa begitu lambat dan
bahkan tak bergerak, semua atmosfer yang menyelimuti dunia ini seolah berhenti
ketika satu masalah tak terselesaikan dengan benar. Oh, ayolah. Hal yang begitu
berarti seolah tak memiliki makna lagi, semua begitu berat seakan melebihi masa gravitasi bumi, bahkan
berkali-kali lipat. Tapi, tunggu. Sepertinya ada yang salah dengan ini semua,
apakah aku terlalu bodoh ketika langkahku hanya mengikuti kata hati? Hei, Kau.
Dimana kau sekarang? Otakku. Ya, benar. Dimana otakku? Mengapa ia menghilang.
Terus aku melangkah tanpa
memperdulikan apa yang akan terjadi kedepannya, sayup-sayup terdengan berisik
yang memekakkan telinga dan berharap aku kembali ke dunia nyata. Shit, langkahku
terhenti ketika semuanya terasa gelap dan amat gelap. Gelap yang begitu pekat
menghampiriku, rsa takut mulai berkecamuk di dalam kepala ku dan terus
mengekori setiap langkahku. Aku panic dan kembali hati ini menyalahkan otakku
dan meninggalkan ku dalam kegelapan yang begitu pekat ini. Ingin kembali
rasanya mengumpat dan…..
Brukk…
Aku terjatuh ke dalam lubang yang begitu gelap.
Kembali terdiam dalam suasana yang
menggelitik dan ingin sekali aku tertawa dalam senyapnya dunia yang berasa
begitu hampa, bahkan bagai tak ada desiran udara yang berlalu. Hening dalam
kegelapan yang begitu pekat. Tenang. Ya rasa ini begitu…. begitu memilukan… Inikah
rasanya jika hanya mengikuti kata hati dan melangkah tanpa berpikir? C’on,
girl. You can do that, think to hard. Mari kembali berpikir, tentang apa
saja yang telah kau lewati tanpa berpikir. I think u can see, girl. Anything can’t be okay,
right? So you have do that before you get something will be disturb you. Oh,
sepertinya otakku kembali dalam diriku setelah sekian lama menghilang ketika
aku lebih mementingkan hati dan rasa tanpa memperdulikan apa yang sedang di
katakannya.
Kaki
yang kembali melangkah, jiwa yang kembali pada alam sadar dan secercah cahaya
membuat seberkas ingatan akan segala ambisi dan mimpi yang pernah hadir dalam diri.
Mulai menghapus segala kenangan buruk tentang hari kemarin. Berusaha menguatkan
diri dan menerima segala hal yang telah terjadi. Semua sudah terjadi dan hari
ini adalah saatnya untuk menata hari esok. Hari ini adalah apa yang diperbuat
dan dipirkan oleh hari kemarin. Oleh sebab itu, hari esok adalah apa yang
diperbuat dan dipikirkan oleh hari ini
Ada
saatnya kamu memerlukan hati, jangan sekali-kali kau tinggalkan otakmu karena
keduanya saling melengkapi. Ketika sesuatu yang saling melengkapi itu kau
pisahkan dengan alasan salah satunya lebih baik maka lihatlah akibatnya. Kau akan
kehilangan arti. Makna akan hadir ketika keduanya kamu gunakan dengan baik dan
sesuai fungsinya.
Penganalogian
cerita di atas hanya salah satu dari berbagai cerita yang mampu mempengaruhi
kehisupan kita yang seringkali hanya menggunakan salah satunya dan meninggalkan
yang lainnya sehingga keduanya tak mampu tuk bersinergi dan melengkapi
kekurangannya.
Begitu
juga apa yang akan terjadi selanjutnya sesuai dengan apa yang kau lakukan dan
pikirkan hari ini. Keduanya adalah satu cetakan yang sama, Jika hari esok
adalah hasil dari sebuah kejadian sebelumnya, maka cobalah untuk melukis tempat
terbaik di hari ini agar kiranya penyesalan yang akan datang dapat kau
minimalisir.